Konflik Gajah di Riau akibat kerusakan lanskap Tesso Nilo, begini penjelasannya

id konflik gajah di Riau,gajah sumatera,BBKSDA Riau,WWF,berita riau antara,berita riau terbaru

Arsip foto. Bayi gajah Sumatera (elephas maximus sumatranus) yang baru dilahirkan bersembunyi di bawah kaki induknya di Kamp Elephant Flying Squad di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, Kamis (23/11/2017). Bayi gajah yang diberi nama Harmoni Rimba itu lahir pada 21 November 2017, yang merupakan hasil perkawinan antara gajah liar dengan gajah betina jinak Elephant Flying Squad binaan WWF dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau. (ANTARA FOTO/FB Anggoro)

Pekanbaru (ANTARA) - Kasus konflik gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) dengan manusia yang kini berlangsung di Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau,adalah akibat kerusakan parah di lanskap Tesso Nilo yang merupakan habitat alami satwa bongsor itu.

“Sebagaimana semua orang sudah tahu, lanskap Tesso Nilo sudah berubah bentang alamnya menjadi kelapa sawit, hutan tanaman dan sebagainya,” kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau, Suharyono, di Pekanbaru, Kamis.

Ia mengatakan sudah sekitar dua pekan terakhir enam ekor gajah sumatera liar berkeliaran di area perkebunan dan permukiman di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu). Mereka terpecah menjadi dua kelompok, yakni di Kecamatan Peranap empat ekor dan sisanya di Kecamatan Kelayang.

Hewan dilindungi itu sejatinya berasal dari lanskap Tesso Nilo, yang merupakan kantong gajah dengan populasi terbesar di Riau. “Lanskap Tesso Nilo merupakan kantong gajah terbesar ada sekitar 140 ekor di sana,” ujarnya.

Lanskap Tesso Nilo berada sekurang-kurangnya di dua kabupaten, yakni Pelalawan yang terbesar dan Inhu. Di Pelalawan merupakan lokasi kawasan konservasi Taman Nasional Tesso Nilo, seluas lebih dari 86 ribu hektare, namun habitat gajah itu kini porak poranda akibat perambahan yang massif.

Suharyono mengatakan, akibat kerusakan habitat aslinya di lanskap Tesso Nilo, gajah liar kesulitan mencari makanan sehingga terpaksa keluar hingga ke area permukiman.

“Kebutuhan ruang hidup 140 ekor lebih gajah di Tesso Nilo pasti sulit karena yang dulunya mereka mudah dapat makanan, sehingga dia (gajah) akan keluar dari tempat dia hidup saat ini,” ujarnya.

Tim gabungan baru bisa memulai operasi penghalauan enam ekor gajah sumatera pada Kamis pagi ini sejak pukul 08.00 WIB. Operasi gabungan ini turut melibatkan Tim Balai Taman Nasional Tesso Nilo dan WWF. Di dalam tim tersebut juga ada dua gajah binaan dari Taman Nasional Tesso Nilo, yang diberi nama Rahman dan Indro.

Operasi penggiringan itu akan mencoba menghalau enam ekor satwa dilindungi itu agar kembali masuk ke kantong gajah Tesso Nilo.

Baca juga: Setelah tertunda sehari, operasi halau gajah liar di Riau dimulai

Baca juga: Rahman dan Indro akan halau enam gajah liar di Riau. Siapa mereka?


Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar