Penebangan Liar Disebabkan Pola Pikir Yang Salah

id penebangan liar, disebabkan pola, pikir yang salah

Pelalawan, 5/12 (ANTARA) - Bupati Pelalawan, Rustam Efendi, berpendapat, penebangan liar yang masih terjadi di Kabupaten Pelalawan, Riau, karena pola pikir masyarakat yang salah yang menganggap itu hal biasa yang telah berlangsung sejak lama. "Muara dari illegal loging (penebangan liar) dari illegal thinking (pola pikir yang salah) masyarakat kita, sehingga mereka menganggap biasa merambah hutan yang dilakukan hingga kini," ujarnya usai melakukan penanaman pohon Taman Nasional Tesso Nilo di Desa Lubuk Kembang Bungo, Kecamatan Ukui, Pelalawan, Riau, Sabtu. Akibatnya, lanjut dia, masyarakat telah melupakan sedikitnya tiga hubungan sebagai anak manusia yang berakibat timbulnya bencana di berbagai daerah seperti banjir dan longsor. Ketiga hubungan itu yakni hubungan dengan Tuhan, kemudian hubungan dengan sesama manusia dan hubungan antara manusia dan alam yang harus seimbang agar alam tidak murka yang memakan korban manusia lain. Menurut Rustam, cuaca panas berkisar antara 35 sampai 37 derajat Celcius yang merupakan kondisi tidak normal suhu udara yang terjadi di Riau merupakan satu bentuk tidak terjadinya keseimbangan alam di provinsi itu. "Ketika seorang anak manusia memetik ranting pohon dan tidak memiliki kepentingan atas ranting itu, maka ia telah merusak ketiga hubungan itu apalagi sampai menembang demi kepentingan pribadi. Sebab pohon juga mahluk hidup sehingga harus dijaga," jelasnya mencontohkan. Oleh sebab itu pemerintah Kabupaten Pelalawan selalu memiliki komitmen dalam memberikan izin atau pun rekomendasi terhadap perusahaan yang beroperasi di daerah itu dengan memanfaatkan sumber daya alam, katanya lagi. Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo, drh. Hayani Suprahman, mengakui, hingga kini masih terjadi perambahan hutan dalam skala yang kecil di kawasan hutan konservasi yang diawasi pihaknya. Seperti tindakan hukum yang dilakukan Polres Kampar terhadap dua perambah Taman Nasional Tesso Nilo berikut mengamankan barang bukti sekitar 200 batang kayu bulat yang diduga hasil pembalakan liar di kawasan konservasi itu. Menurut Hayani, kondisi itu terjadi karena desakan ekonomi masyarakat akibat tingginya kebutuhan hidup dan rendahnya kesadaran masyarakat, sedangkan pemerintah memiliki keterbatasan dalam mengawasi hutan. "Untuk mengawasi hutan Taman Nasional Tesso Nilo yang memiliki luas 83.000 hektar, kita hanya memiliki 14 polisi hutan atau 30 orang tenaga berikut staf administrasi," jelasnya.