Pekanbaru, (Antarariau.com) - Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Riau mengaku ingin membantu memasarkan varietas kopi jenis liberika para petani di Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Riau Muhammad Firdaus di Pekanbaru, Rabu, mengaku pihaknya ingin membantu agar kopi liberia tersebut dapat diterima masyarakat, terutama warga di Kota Pekanbaru dan bahkan secara nasional.
"Kami ingin "branding-kan" nama kopi liberika ini dulu. Rencananya pertengahan Juni ini kami turun. Kami ingin melihat sejauh mana proses pengolahan dan apa yang dibutuhkan untuk membantu para petani kopi di Meranti," kata dia.
Menurutnya, cita rasa varietas kopi liberika terbilang cukup enak, terutama bagi penikmat kopi dan pihaknya yakin bisa menjadi kopi andalan, namun ada beberapa hal masih perlu perbaikan kualitas kopi yang dihasilkan oleh para petani.
Tercatat kopi jenis ini berasal dari wilayah Liberia, Afrika Barat dan dibawa ke Indonesia abad ke-19 atau saat banyak tanaman kopi jenis arabika terserang penyakit.
Dahulu kopi liberika pernah dibudidayakan di Indonesia, tetapi sekarang sudah ditinggalkan petani karena bobot biji kopi kering hanya 10 persen dari bobot kopi basah.
Selain itu, rendemen biji kopi liberika tergolong rendah dan merupakan salah satu faktor sulit berkembang karena hanya sekitar 10 sampai 12 persen dengan karakteristik biji kopi hampir sama dengan jenis arabika.
Produktifitas varietas kopi jenis ini berada kisaran 400-500 kilogram per hektare per tahun, termasuk tumbuhan berbunga sepanjang tahun dan saat ini ditanam di Jambi, Bengkulu, Lampung, Pulau Jawa dan pedalaman Pulau Kalimantan.
"Kemarin kami coba mediasi produksi kopi itu dan petani telah kirimkan sample kopi. Ternyata dalam pengerjaannya, masih andalkan cara lama. Begitu juga cara memasarkan masih secara tradisional atau belum terkoordinir dengan baik dan rapi di Meranti," kata Firdaus.
"Hal tersebut menjadi pemicu kopi jenis ini terkadang cepat laku dan kadang tidak. Makanya kami ingin masuk ke sistem pemasaran," tambahnya.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kepulauan Meranti Mamun Murod mengatakan kopi liberika sudah diberi nama Liberoit Komposit Meranti (LIM) dan dilakukan penilaian serta direkomendasikan tim monitoring dan evaluasi dari Sertifikasi Benih Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian.
Data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kepulauan Meranti tahun 2014, luas kebun kopi liberika sekitar 1.170 hektare, terdapat di Desa Kedabu Rapat dengan luas kebun sekitar 80 persen dan sisanya 20 persen tersebar di desa-desa Kecamatan Rangsang Barat.
Namun dari luas 1.170 hektare tersebut, 162 hektare diantaranya dalam kondisi rusak atau tanaman kopinya mati akibat terendam air saat banjir.
"Tentu produk kopi ini harus jadi kebanggaan pemerintah provinsi, karena produk sudah mendapat pengakuan dari kementerian. Jadi idealnya, dalam pengembangan produk tersebut juga menjadi tanggung jawab pemprov," ucapnya.
Berita Lainnya
Tak dapat pemasukan sama sekali, Disperindag Pekanbaru tata ulang PKL kuliner malam
29 September 2024 20:06 WIB
MinyaKita di Pekanbaru dijual di atas HET
26 September 2024 18:14 WIB
Cegah Inflasi, Disperindag Siak gelar 56 pasar murah
12 July 2024 20:39 WIB
Kurangi antrean, SPBU dan APMS di Meranti diminta distribusikan ke pengecer
17 April 2024 18:35 WIB
Ada pasar murah jelang Ramadan di Riau
28 February 2024 8:47 WIB
Disperindag Bali pantau ketersediaan bahan pokok dan parsel akhir tahun
16 December 2023 15:56 WIB
Pekanbaru gelar GPM antisipasi lonjakan harga jelang nataru
30 November 2023 17:01 WIB
Pekanbaru gelar pasar murah
12 October 2023 18:41 WIB