PBB: Serangan Israel di Gaza City berpotensi timbulkan konsekuensi "sangat dahsyat

id Gaza, Palestina

PBB: Serangan Israel di Gaza City berpotensi timbulkan konsekuensi "sangat dahsyat

Seorang anak Palestina terlihat di tenda pengungsian di pesisir Kota Gaza, 18 Juli 2025. (ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad)

PBB (ANTARA) - Konsekuensi dari rencana Israel yang diumumkan untuk mengambil alih Gaza City akan "sangat dahsyat," demikian peringatan dari badan kemanusiaan PBB pada Kamis (28/8).

"Dampak serangan besar-besaran akan sangat dahsyat, tidak hanya bagi mereka yang berada di kota itu, tetapi juga bagi seluruh Jalur Gaza," kata Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA). "Beberapa lingkungan permukiman bahkan telah mengalami serangan mematikan dalam beberapa hari terakhir."

Baca juga: Serangan Israel Picu Gelombang Baru Pengungsian Massal Warga Gaza

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres mengatakan kepada wartawan menjelang pertemuan Dewan Keamanan, "Langkah awal Israel untuk mengambil alih Gaza City secara militer menandakan fase baru yang berbahaya. Ratusan ribu warga sipil, yang sudah kelelahan dan trauma, akan dipaksa mengungsi lagi, menjerumuskan keluarga-keluarga ke dalam bahaya yang lebih besar. Ini harus dihentikan."

OCHA melaporkan bahwa mitra-mitranya yang memantau pergerakan penduduk mencatat sekitar 1.300 orang mengungsi dari Gaza utara ke selatan dalam dua hari terakhir. Dengan demikian, total pengungsi yang berpindah dari Gaza utara ke selatan sejak 14 Agustus, saat rencana Israel untuk menyerang Gaza City diumumkan, telah mencapai 20.000 orang.

Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia Cindy McCain menyerukan persetujuan yang lebih cepat untuk memindahkan pasokan ke dan di dalam Gaza, demi keselamatan warga yang berusaha mengakses bantuan dan bagi para pekerja kemanusiaan untuk menjangkau mereka yang membutuhkan.

"Gaza berada di titik kritis. Keputusasaan semakin memuncak, dan saya menyaksikannya langsung," kata McCain. "Kita harus segera menghidupkan kembali jaringan 200 titik distribusi makanan kita yang luas dan tepercaya di seluruh Jalur Gaza, termasuk dapur umum dan toko roti."

Dia mengunjungi wilayah Deir al-Balah dan Khan Younis, di mana dia melihat klinik gizi yang berperan penting menjaga anak-anak tetap hidup. Dia juga berbicara dengan para ibu yang kehilangan tempat tinggal, yang menceritakan perjuangan mereka sehari-hari untuk bertahan hidup, sering kali harus mencari sisa-sisa makanan namun tak jarang pulang dengan tangan kosong.

Baca juga: Indonesia-Australia Tegaskan Kembali Penolakan atas Aneksasi Israel di Gaza

Kunjungan McCain ini menyusul pengumuman bahwa bencana kelaparan sedang melanda Kegubernuran Gaza, yang berdampak pada lebih dari 500.000 orang. Bencana ini kemungkinan akan menyebar ke kegubernuran Deir al-Balah dan Khan Younis pada akhir September.

OCHA mengatakan PBB dan para mitranya telah mengirimkan bantuan pangan ke Gaza setiap hari, peningkatan moderat dalam jumlah barang kemanusiaan dan komersial yang masuk ke jalur itu. Namun, pasokan ini masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan 2 juta penduduk, dengan banyak di antaranya sedang menghadapi kelaparan ekstrem.

Untuk pertama kalinya sejak Maret, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyatakan berhasil menyediakan pakan ternak penting bagi para penggembala di Deir al-Balah. Badan tersebut menyatakan bahwa 200 penggembala masing-masing menerima dua karung berisi 100 kilogram, sebuah langkah penting untuk melindungi ternak dan membantu mencegah meluasnya bencana kelaparan.

OCHA mengatakan bahwa penundaan dan hambatan terhadap pergerakan kemanusiaan di Gaza terus berlanjut, dengan pergerakan yang disetujui oleh otoritas Israel masih memerlukan waktu berjam-jam untuk diselesaikan.

Baca juga: PBB ungkap hampir separuh misi bantuan ke Gaza terhenti akibat blokade Israel

"Antara Rabu (20/8) pekan lalu hingga Selasa (26/8) ini, dari 89 upaya koordinasi pergerakan dengan otoritas Israel di Jalur Gaza, hanya 59 persen yang terfasilitasi," termasuk transfer bahan bakar dan pengumpulan pasokan medis, nutrisi, air, sanitasi, dan kebersihan, serta perpindahan dan rotasi staf, ungkap kantor kemanusiaan tersebut.

"Sebanyak 26 persen permohonan awalnya disetujui, tetapi kemudian terhambat pelaksanaannya di lapangan, 8 persen ditolak sepenuhnya, dan 7 persen harus ditarik kembali oleh pihak penyelenggara," kata OCHA.

Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.