BI perkirakan inflasi Riau 6 persen, masih bergairah untuk ekonomi

id BI ,perkirakan, inflasi Riau, 6 persen ,masih ,bergairah untuk, ekonomi

BI perkirakan inflasi Riau 6 persen, masih bergairah untuk ekonomi

seluruh bupati kabupaten/kota se -Riau melaporkan kondisi dan stok harga bahan pokok di daerah masing-masing, kepada TPID, Senin (4/5/2022). (ANTARA/Vera Lusiana)

Pekanbaru (ANTARA) - Kantor Bank Indonesia Provinsi Riau memperkirakan, besaran inflasi wilayah itu hanya 6 persen hingga akhir tahun 2022.

Deputi Kepala Bank Indonesia Perwakilan Riau Maria Cahyaningtyasmengatakan kondisi ini masih bergairah untuk ekonomi daerah penghasil minyak dan gas (Migas) tersebut.

"Kalau kita masih bisa mempertahankan inflasi 5-6 persen itu ok, karena pada kenyataannya pasokannya masih ada, daya beli ada dan ekonomi Riau tumbuh bagus di angka 4-5 persen," kata Tyas di Pekanbaru usai menghadiri acara rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Riau, di Pekanbaru, Senin.

Diaktakan Tiyas optimisme itu bukan tanpa alasan, karena inflasi ini memang sudah terjadi di semua negara dan capaiannya semua di atas target, ini pengaruh global yang sudah demikian dan tidak bisa dihindari lagi.

"Kami masih optimis angka Inflasi terkendali hingga akhir tahun, kini nilainya sudah 5,8 persen masih ada space tersisa 0,2 persen, semoga akhir tahun perkiraan angkanya demikian, atau setidaknya maksimum 0,5 persen," kata dia.

Untuk menggapai itu banyak hal yang bisa dilakukan bersama, oleh pemerintah hingga ke tingkat kabupaten/kota di Riau agar mampu mampu mengendalikan inflasi.

Ia mencontohkan, pada jangka panjang perlu ada perbaikan jalan ke daerah-daerah penghasil pertanian sehingga distribusi lancar dan mampu memangkas ongkos, sementara jangka pendek membangun komunikasi antara pejabat di level kabupaten/kota. Khususnya informasi tentang produksi dan stok di tiap wilayah sehingga jika terjadi surplus di salah satu kabupaten, akan mampu mengisi ke kabupaten lain yang sedang minum.

"Intinya bagaimana upaya menjaga inflasi sesuai target sampai akhir tahun, kuncinya adalah ketersediaan bahan pangan, kelancaran distribusi, komunikasi yang terbuka," ungkap wanita berambut cepak itu.

Ia mengatakan, untuk komoditas yang menyumbang inflasi di Riau adalah telur ayam ras, daging ayam tas cabai dan beras.

"Cabai keriting perlu diwaspadai karena sudah sempat turun kini mulai naik. Harapannya yang kemarin sudah tanam cabai bisa panen saat Desember ini, dan penuhi dulu kebutuhan lokal jangan dibawa ke luar provinsi," katanya.

Perlu diketahui dalam rapat tersebut seluruh bupati kabupaten/kota melaporkan kondisi dan stok harga bahan pokok di daerah masing-masing.

Sejauh ini secara umum digambarkan stok masih cukup, walau ada beberapa kabupaten yang mengeluhkan harga beras yang mulai naik. Demikian juga dengan harga telur ayam ras dan daging ayamnya.

Sementara Penjabat Bupati Kampar Kamsol menyebut, wilayahnya sebagai penghasil beras.

"Stok beras kami cukup, Kampar akan panen jenis berasnya kualitas premium," kata Kamsol.