Jakarta (ANTARA) - Roket Long March-2C pertama diluncurkan 40 tahun yang lalu di atas sebuah gurun di China barat laut, merupakan roket pengangkut dengan masa tugas terlama di China dan bersiap untuk sejumlah peluncuran baru.
Ma Huiting, kepala komandan Long March-2C di Akademi Teknologi Wahana Peluncur China (China Academy of Launch Vehicle Technology), mengatakan bahwa roket itu memiliki keunggulan reliabilitas yang tinggi, siklus peluncuran yang pendek, dan kapasitas angkut menengah. Saat ini, roket itu melakukan peluncuran satelit pengindraan jauh, satelit penelitian ilmiah, dan konstelasi satelit komersial.
Dikatakan Ma, roket Long March yang memiliki masa tugas terlama itu akan terus memikul lebih banyak misi bagi China. Roket tersebut akan mempertahankan frekuensi peluncuran tahunan sebanyak lebih dari 10 kali selama periode 2021-2025.
Usai menjalani penerbangan perdana pada 9 September 1982, roket itu secara bertahap menggantikan Long March-2 yang lebih tua dan melakukan semua peluncuran satelit yang dapat digunakan kembali negara tersebut dalam dekade selanjutnya.
Setelah menjalani beberapa peningkatan, roket Long March-2C saat ini memiliki panjang 43 meter dan kapasitas angkutnya ke orbit rendah Bumi telah meningkat dari 1.800 kilogram menjadi 2.500 kilogram.
Long March-2C merupakan roket pengangkut pertama China yang melakukan layanan peluncuran internasional. Pada 1980-an, roket itu mengirim perangkat uji mikrogravitasi milik perusahaan Prancis dan satelit uji untuk ilmu pengetahuan milik Swedia ke luar angkasa.
Pada 2003, roket Long March 2C/SM mengirim sebuah satelit, yang masuk dalam program wahana antariksa yang dilakukan bersama oleh China dan Badan Antariksa Eropa (European Space Agency).
Sejumlah kesuksesan peluncuran internasional tersebut hanyalah sebagian dari banyak pencapaian signifikan yang dicatat oleh Long March-2C. Selama empat dekade terakhir, roket itu telah memelopori banyak peningkatan dan teknologi roket baru untuk mencatat lebih banyak kemajuan.
Contoh terbaru terkait hal itu terjadi pada 2019 saat para ilmuwan menguji sebuah teknologi yang mampu mengendalikan secara akurat lokasi pendaratan dari bagian roket yang jatuh usai peluncuran roket Long March-2C.
Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa teknologi itu mempersempit area pendaratan dari 1.350 menjadi 60 km persegi hingga lebih dari 96 persen, meningkatkan keselamatan pendaratan roket China di area terpencil secara signifikan.
Baca juga: NASA akan luncurkan lagi roket ke bulan akhir pekan
Baca juga: Roket pengangkut komersial China Smart Dragon-3 telah rampungkan uji darat
Berita Lainnya
Mensos-Menko Pemberdayaan Masyarakat percepat nol kemiskinan ekstrem di Indonesia
18 December 2024 17:19 WIB
Kemenag berhasil raih anugerah keterbukaan informasi publik
18 December 2024 17:00 WIB
Dokter menekankan pentingnya untuk mewaspadai sakit kepala hebat
18 December 2024 16:37 WIB
Indonesia Masters 2025 jadi panggung turnamen terakhir The Daddies
18 December 2024 16:28 WIB
Menko Pangan: Eselon I Kemenko Pangan harus fokus pada percepatan swasembada pangan
18 December 2024 16:13 WIB
ASEAN, GCC berupaya perkuat hubungan kerja sama kedua kawasan
18 December 2024 15:57 WIB
Pramono Anung terbuka bagi parpol KIM Plus gabung tim transisi pemerintahan
18 December 2024 15:51 WIB
Pertamina berencana akan olah minyak goreng bekas jadi bahan bakar pesawat
18 December 2024 15:12 WIB