Memanfaatkan YouTube dan barang bekas untuk proyek kamera obscura

id tanoto foundation, smp dumai, kota dumai,husnal

Memanfaatkan YouTube dan barang bekas untuk proyek kamera obscura

Para siswa saat sedang mengerjakan praktikum di sekolah. Gambar diambil sebelum pandemi COVID-19. (ANTARA/HO-TF)

Pekanbaru (ANTARA) - "Saya Najla Nawawi dari kelas VIII.10 SMPN 2 Dumai. Kali ini Najla akan membuat project IPA tentang kamera obscura. Selamat menonton," ucap salah satu siswa dari video yang diunggah Husnal Hayati melalui akunYoutube-nya.

Selama masa pandemi COVID-19, guru mata pelajaran IPA yang mengajar di SMPN 2 Kota Dumai ini memanfaatkan kanal Youtube miliknya sebagai media pembelajaran dan kreasi para siswanya.

Seperti dalam video pembelajaran berbasis proyek ini. Dia mengajarkan siswa membuat kamera obscura melalui barang bekas yang ada di sekitarnya. Husnal membuat video tutorialnya kemudian ia sampaikan ke siswa.

"Pada masa pandemi COVID-19 ini, saya memanfaatkan platform YouTube untuk media pembelajaran. Saya juga meminta anak-anak untuk memvideokan proyek kamera obscura dari barang bekas di sekitarnya. Dengan cara ini saya berharap anak-anak bisa belajar membuat kamera obscura sekaligus mengedit video," ujarnya.

Hasil proyek kamera obscura berupa video yang telah dibuat anak-anak kemudian dia unggah melalui akun Youtubemiliknya. Selain untuk tujuan dokumentasi, akun tersebut dia gunakan sebagai media kreasi siswa.

Dalam proses pembuatannya, siswa diminta menyiapkan alat dan bahan secara mandiri dengan memanfaatkan peralatan sederhana dan mudah didapatkan. Di antaranya berupa paku, kertas karton berwarna gelap, lilin, kertas minyak, gunting, kaleng bekas minuman, dan karet gelang.

"Setelah semua barang siap, saya mengarahkan siswa untuk membuat lubang kecil dengan paku tepat di tengah-tengah dasar kaleng. Kemudian bagian atas kaleng yang terbuka ditutupi dengan kertas minyak yang diikat dengan karet gelang. Selanjutnya bagian ini ditutupi dengan kertas karton berwarna gelap. Tujuannya agar kertas minyak berada di dalam gulungan kertas hitam dan terlindung dari cahaya," urainya.

Untuk membuktikan uji coba kamera obscuranya berhasil, siswa harus mendekatkan kaleng yang diberi lubang tadi dengan lilin yang telah menyala sehingga bayangan lilin terlihat pada kertas minyak dengan posisi bayangan terbalik dan diperkecil.

Menurut Husnal, melalui pembuatan kamera obscura ini siswa dapat mengetahui fenomena optik alami yang terjadi ketika suatu gambar yang ada di sisi lain dari layar atau dinding diproyeksikan melalui sebuah lubang kecil dari layar atau dinding itu.

Hasilnya adalah menjadi suatu gambar yang terbalik (kiri ke kanan dan terbalik atas bawah) pada permukaan yang ada diseberang layar atau dinding itu. "Keadaan di sekitar gambar yang diproyeksikan harus relatif gelap agar gambar terlihat dengan jelas, sehingga banyak eksperimen kamera obscura yang bersejarah dilakukan di kamar yang gelap," tuturnya.

Aktivitas saat mengerjakan tugas. (ANTARA/HO-TF)


Meskipun pembelajaran dilakukan tidak secara langsung, Husnal melihat siswa tetap aktif dan kreatif. Hal ini bisa dia lihat dari komentar dan video yang dihasilkan oleh para siswanya.

"Pembuatan kamera obscura ini memberikan pengalaman belajar yang sangat berarti tentang fenomena optik. Siswa lebih mandiri, percaya diri, kreatif. Selain itu siswa juga bisa berkreasi memanfaatkan teknologi," paparnya.

Husnal juga menegaskan bahwa pembelajaran jarak jauh tetap bisa menghasilkan karya siswa yang menarik meski dilaksanakan secara daring. "Pembelajaran jarak jauh tetap bisa dioptimalkan dengan penugasan yang menarik dan partisipatif. Dalam proyek ini anak-anak terlibat secara aktif dan mandiri. Mereka juga saling berkomunikasi untuk berbagi cara dalam proses pembuatannya," tutur guru sekaligus fasilitator daerah dari Tanoto Foundation ini.

Para siswa juga mengungkapkan kebahagiaannya dalam pembelajaran berbasis proyek ini. Seperti yang diungkapkan Freta dalam pesan singkat yang dikirimkannya.

"Perasaan saya bahagia dapat menyelesaikan tugas proyek ini. Terus pas edit video, awalnya saya bingung mau pakai aplikasi mana. Lewat tugas kamera obscura-lah saya tahu bagaimana mengedit video. Pengalaman baru yang menarik untuk saya," katanya.

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar