Dugaan kecurangan PPDB SMAN 8 Pekanbaru, puluhan warga bertahan sampai malam di sekolah

id PPDB,SMAN 8 Pekanbaru,protes PPDB pekanbaru,berita riau antara,berita riau terbaru

Dugaan kecurangan PPDB SMAN 8 Pekanbaru, puluhan warga bertahan sampai malam di sekolah

Sejumlah warga bertahan hingga malam di halaman SMAN 8 Kota Pekanbaru karena memprotes dugaan kecurangan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB), Kamis malam (25/6/2020). Warga sekitar SMAN 8 memprotes pihak sekolah yang mengurangi kuota penerimaan siswa tempatan, dan menduga lebih banyak menerima calon siswa dari luar zonasi dengan berbekal surat keterangan domisili. (ANTARA FOTO/FB Anggoro)

Pekanbaru (ANTARA) - Puluhan warga yang ingin mendaftarkan anak mereka bertahan hingga malam di SMAN 8 Kota Pekanbaru karena memprotes dugaan kecurangan dalam proses penerimaan zonasi di sekolah negeri tersebut.

Berdasarkan pantuan ANTARA, hingga Kamis malam warga yang mayoritas kaum ibu bertahan di halaman SMA unggulan tersebut. Mereka meminta kepastian dari pihak sekolah untuk membuktikan bahwa sudah menganulir kebijakan yang mengurangi kuota zonasi untuk warga tempatan.

“Saya sudah dari pagi di sini menunggu kepastian karena kalau tidak dikawal khawatir akan berubah lagi kebijakannya,” kata seorang warga yang tidak ingin namanya dituliskan karena alasan keamanan.

Protes warga sekitar terhadap proses PPDB berlangsung sejak Kamis pagi. Hal ini terungkap saat DPRD Provinsi Riau melakukan inspeksi mendadak atau sidak ke SMAN 8 Pekanbaru, untuk mengecek proses penerimaan PPDB.

Kedatangan rombongan yang dipimpin oleh Wakil ketua DPRD Riau Zukri Misran didampingi Anggota DPRD Riau Kasir, Parisman Ikhwan, Robin Hutagalung dan Soniawati disambut puluhan orang tua yang tengah berada di sekolah tersebut. Para orangtua ikut mengawal proses verifikasi berkas pendaftaran yang dilakukan pihak sekolah.

Sempat terjadi kericuhan, saat para orang tua melayangkan protes dan menduga ada kejanggalan dalam penerapan sistem zonasi PPDB. Kondisi pun bertambah ribut, karena diantara mereka ada yang memukul meja dan berteriak menduga penerimaan peserta didik baru diwarnai kecurangan pelampiran berkas surat keterangan domisili. Mereka juga mencurigai ada nama-nama pendaftar disebut tak memenuhi syarat.

Sidak DPRD Riau ke SMAN8 Pekanbaru, Kamis (25/6/2020). (ANTARA/Diana Syafni)
Atas kondisi itu, akhirnya rombongan dewan meninggalkan ruangan dan menggelar rapat tertutup dengan pihak sekolah.

Menanggapihal itu, Anggota DPRD Riau dapil Kota Pekanbaru, Kasir mengatakan akan terus mengawal proses PPDB ini. Jika terdapat temuan-temuan yang melanggar aturan tentu akan ditindaklanjuti.

"Tadi kami langsung melihat proses verifikasi berkas yang dilakukan pihak sekolah. Banyak laporan masuk ke kita dan ada juga disampaikan orang tua pendaftar langsung tadi atas dugaan kecurangan suket domisili. Jadi kedatangan kami untuk mengkroscek laporan ini" ucap Kasir.

"Kalau ada temuan-temuan dari wali murid, silahkan sampai ke anggota dewannya, atau ke komisi ataupun fraksi juga boleh, kami akan kawal proses PPDB ini," sambung Kasir.

Sementara itu, Kepala SMAN 8 Pekanbaru Tavip Tria Candra mengatakan tengah melakukan verfikasi faktual untuk memastikan kebenaran data yang dimiliki oleh peserta didik.

"Langkah pertama kita lakukan verifikasi faktual, kita keluarkan semua suket, kita cek. Kita tanya betul apakah anak tersebut berada di rumah dan bertempat tinggal disana. Kalau tidak ada, ini kan rekayasa, langsung kita coret," ucapnya.

Dia mengakui dengan waktu yang singkat verifikasi tersebut tidak akan terkejar, sehingga dia meminta agar pengumuman penerimaan peserta didik baru dapat diundur sampai proses verifikasi faktual selesai dilakukan.

"Saya sudah usulkan agar diundur (pengumumannya). Tapi kan kewenangan itu ga berada di kami," ucapnya.

Baca juga: Sidak DPRD Riau ke SMAN 8 diwarnai protes polemik PPDB zonasi

Baca juga: Tinjau PPDB Online di Duri, Kadisdik Bengkalis lega jaringan masih aman

Baca juga: Anggota DPRD Riau temukan kejanggalan sistem zonasi PPDB


Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar