BMKG: Musim Transisi Rangsang Pertumbuhan Titik Api Riau

id bmkg musim, transisi rangsang, pertumbuhan titik, api riau

Pekanbaru, 7/9 (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Riau di Pekanbaru memprediksi musim transisi kemarau menuju penghujan atau pancaroba yang terjadi saat ini merangsang pertumbuhan titik api di Riau mengingat suhu udara lebih cendrung memanas.

Analis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Riau, Yudhistira Mawaddah kepada ANTARA di Pekanbaru, Rabu, mengatakan, satelit NOAA yang saat ini dioperasikan oleh Singapura pada Selasa (6/9) berhasil mendeteksi sedikitnya 20 titik api atau "hotspot" di Riau.

Jumlah tersebut, menurut Yudhistira, jauh meningkat dibandingkan hari sebelumnya (Senin (5/9-red) karena di Riau hanya terdeteksi sekitar tiga titik api.

"Ke 20 titik api tersebut tersebar di empat kabupaten, seperti Kabupaten Pelalawan ada sebanyak 10 titik dan di Kuantansingingi terdapat dua titik api. Sementara delapan lainnya berada di Kabupaten Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir masing-masing empat titik," ujarnya.

Sementara untuk patntauan secara global di Pulau Sumatra kata Yudhistira totalnya ada sebanyak 73 hotspot.

Selain Riau yang terdapat 20 titik api, menurutnya hotspot juga terdeteksi berada di beberapa wilayah provinsi lainnya meliputi Sumatra Utara dan Bengkulu masing-masing sebanyak satu titik api, Aceh dua, Sumatra Barat tiga, Lampung tiga dan Jambi 12 titik.

"Sementara titik api terbanyak masih tetap berada di Sumatra Selatan yakni sekitar 31 titik," ujarnya.

Pertumbuhan titik api yang kian drastis menurut Yudhistira kemudian menyulut kemunculan titik api di sebagian Provinsi Riau termasuk Pekanbaru.

Di Ibu Kota Riau ini menurut dia kabut asap sempat hanya menyisahkan jarak pandang dibawah 1.000 meter, tepatnya pada Rabu (7/9) sekitar pukul 06.00 sampai dengan pukul 09.00 WIB.

"Beruntung saat beranjak siang atau sekitar pukul 09.30 WIB kabut asap terus menipis dan menyisahkan jarak pandang diatas 1.300 meter sehingga belum menganggu penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru.

Bahkan, sekitar pukul 09.00 WIB ketika jarak pandang masih seribu meter, pesawat Batavia memaksakan untuk melandas di bandara," demikian Yudhistira Mawaddah.