Pelaksanaan rapid test COVID-19 di Riau berjalan lamban, kok bisa?

id penanganan corona di riau,rapid test,Covid-19,virus corona,rapid test COVID-19,berita riau antara,berita riau terbaru

Pelaksanaan rapid test COVID-19 di Riau berjalan lamban, kok bisa?

Petugas medis dengan memakai alat pelindung diri memperlihatkan alat Ôrapid testÕ COVID-19 di terminal kedatangan Pelabuhan Bandar Sri Junjungan Dumai di Dumai, Riau, Jumat (3/4/2020). ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid/aww.

Pekanbaru (ANTARA) - Pelaksanaan tes cepat atau “rapid test” COVID-19 di Provinsi Riau selama enam hari terakhir berjalan sangatlamban, bahkan ada daerah yang belum melaksanakan sama sekali meski sudah mendapat kiriman alatnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Riau, hingga Senin (6/4) sore menunjukkan rapid test telah dilaksanakan terhadap 1.385 orang. Hasilnya 1.376 orang negatif, sedangkan jumlah positif ada sembilan orang. Sembilan hasil rapid test yang positif terdapat di Kota Dumai sebanyak tujuh orang, serta di Kabupaten Pelalawan dan Rokan Hulu masing-masing satu orang.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Yuliana Nazir mengatakan, pihaknya mengirimkan alat “rapid test” ke dinas kesehatan di 12 kabupaten dan kota yang ada di Riau sesuai dengan data Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang telah dilaporkan.

Total ada 7.420 alat rapid test yang dikirimkan, namun pelaksanannya baru kepada 1.385 ODP. “Sampai saat ini kita sudah mengirimkan ke kabupaten kota 7.420 unit,” katanya.

Baca juga: Riau belum usulkan PSBB meski jumlah positif COVID-19 sudah 12 kasus, ini sebabnya

Dalam data tersebut, Kabupaten Kepulauan Meranti sama sekali belum melaksanakan rapid test, padahal alat yang sudah dikirimkan 960 unit. Di Kabupaten Siak baru dilaksanakan kepada 25 orang dari 180 alat yang disediakan.

Di Kabupaten Kuantan Singingi juga baru 20 pelaksanaannya dari 120 alat yang disediakan. Begitu juga di Pelalawan baru 48 pelaksanaannya dari 100 alat yang ada. Pelaksanaan rapid test paling tinggi di Pekanbaru pada 545 orang dari 640 alat yang dikirim.

Mimi belum bersedia mengungkapkan kendala dalam pelaksanaan rapid test di Riau. “Tanyakan ke kabupaten kota langsung,” ujarnya singkat.

Baca juga: Diskes Bengkalis baru gunakan 220 rapid test COVID-19

Juru Bicara COVID-19 Riau, dr. Indra Yovi Sp.P (K) menambahkan, sesuai kesepakatan provinsi ODP yang menunjukkan rapid tes positif akan dijadikan status pasien dalam pengawasan (PDP) dan dilakukan uji sampel swab (lendir mulut).

“Bila hasil swab negatif pasien boleh pulang, kalau swab positif akan tetap dirawat sampai hasil swab berikutnya negatif dua kali berturut-turut,” ujarnya.

Itu berarti, hasil positif rapid test belum tentu membuktikan seseorang positif COVID-19. Orang dipastikan positif COVID-19 apabila hasil swab menunjukan positif juga.

Provinsi Riau pada 6 April terdapat penambahan satu kasus positif COVID-19 sehingga total terdapat 12 kasus positif. Baru satu pasien yang dinyatakan sehat dan sudah dipulangkan.

Untuk jumlah PDP di Riau terdapat 163 orang. Dari jumlah itu, ada 87 orang masih dirawat, 71 negatif COVID-19 dan dipulangkan, dan lima orang meninggal dunia.

Namun, hingga kini lima PDP yang meninggal dunia juga belum bisa dijelaskan penyebabnya akibat COVID-19 karena hasil sampel swab belum diterima dari Balitbangkes Kementerian Kesehatan di Jakarta. Sementara itu, jumlah orang dalam pemantauan (ODP) kini mencapai 19.663 orang dan 3.848 ODP sudah selesai pemantauan.

Baca juga: Satu PDP COVID-19 di Pekanbaru meninggal, warga diminta tak panik

Baca juga: Pemkab Inhil akhirnya beli alat rapid test

Baca juga: Pekanbaru Rapid test bagi ODP virus Corona di Puskemas 12 kecamatan


Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar