Akademisi Riau minta diplomat maksimalkan peran respon isu Papua

id Papua, Papua Terkini, Riau

Akademisi Riau minta diplomat maksimalkan peran respon isu Papua

Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto bersama dengan mahasiswa asal Papua di Riau Nelson Takurana serta akademisi Universitas Islam Riau Dr Syahrul Akmal Latief. (Anggi Romadhoni)

Pekanbaru (ANTARA) - Akademisi Universitas Islam Riau Dr Syahrul Akmal Latief menilai para diplomat atau perwakilan Indonesia di luar negeri dapat lebih menguatkan perannya untuk merespon isu negatif terkait Papua yang kini bergulir liar.

"Diplomat dan duta besar harus dapat melakukan upaya 'counter' isu Papua di luar negeri," kata Akmal kepada Antara di Pekanbaru, Rabu.

Ia mengatakan isu Papua yang beredar saat ini dalam kondisi mengkhawatirkan. Berdasarkan data dari Kominfo, lanjutnya, terdapat 550.000 link berita hoaks yang kini beredar luas. Bahkan, ada 20 negara yang ikut serta menyebarkan berita hoakstersebut.

Sementara, sejauh ini dia melihat peran para diplomat dan duta besar belum maksimal untuk memberikan respon positif menjawab isu yang bergulir liar tersebut. Untuk itu, dosen kriminologi UIR itu meminta kepada pemerintah agar menguatkan peran para perwakilan Indonesia itu.

"Tapi dengan catatan, diplomat dan duta negara agar berkoordinasi dulu ke dalam. Dengan Kapolri atau Panglima TNI sehingga informasi yang disebar nantinya selaras," ujarnya.

Lebih jauh, Akmal menilai bahwa situasi di Papua saat ini merupakan dampak dari penggiringan opini dengan penyebarluasan informasi yang tidak benar. Menurut dia, mereka yang terlibat ke dalam pusaran isu negatif itu telah terpapar informasi yang menyesatkan. Informasi yang tidak utuh dan menyesatkan itu kemudian dimanfaatkan beberapa negara yang ingin mengoyak kedaulatan bangsa.

Sehingga, dia kembali mengimbau kepada masyarakat Papua dan Indonesia secara umum untuk bersama-sama memperkuat persatuan demi NKRI.

Baca juga: Papua Terkini - Asing terlibat dalam ricuh di Papua?

Senada dengan Akmal, Data Wardana, pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UIR mengatakan bahwa Papua merupakan bagian tak terpisahkan dari Indonesia. "Maka yang dialami di Papua, kita di Riau juga ikut merasakan hal yang sama," ujarnya.

Dia juga meminta kepada pemuda dan aktivis untuk bersama menahan diri dan tidak turus serta menyebarkan berita bohong. Yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah semangat persatuan dan kesatuan yang harus dijaga bersama.

Terakhir, mahasiswa asal Papua yang tengah mengenyam pendidikan di Riau, Nelson Takurana juga memberikan pesan kepada saudaranya di Bumi Cenderawasih untuk menyadari bahwa saat ini ada oknum tertentu yang tengah berupaya memecah belah bangsa.

"Kawanku di Riau dan luar daerah. Jangan mau terpecah karena isu yang belum tentu benar. Jangan perkeruh suasana yang bisa merusak. Mari kita lawan itu," pinta Nelson, mahasiswa semester IV jurusan Administrasi Negara di UIR itu.

Baca juga: Papua Terkini - 48 orang ditetapkan sebagai tersangka

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto di Jakarta pada hari ini menyebutkan aktivitas sekolah di Papua dan Papua Barat akan dibuka kembali mulai 5 September 2019 seiring dengan situasi yang kian kondusif.

"Kita bersyukur perkembangan Papua dan Papua Barat secara umum tetap kondusif," kata Wiranto saat konferensi pers perkembangan situasi Papua di Jakarta, Rabu.

Untuk sekolah, kata dia, secara khusus sudah dijadwalkan pada hari Kamis (5/9) akan dibuka kembali untuk melakukan aktivitas belajar dan mengajar.

Ia menjelaskan bahwa aktivitas masyarakat di Papua dan Papua Barat sudah normal kembali. Demikian pula, pelayanan publik di perkotaan, seperti transportasi, pelabuhan, bandara, dan terminal yang sudah berjalan seperti semula.

Baca juga: 6.000 personel TNI-Polri ke Papua, Kapolri sebut bukan untuk menakuti tapi sebagai tanda hadirnya negara

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar