Peneliti sarankan bangun cekungan penampung air antisipasi banjir perkotaan dan permukiman

id UBH Padang

Peneliti sarankan bangun cekungan penampung  air antisipasi banjir perkotaan dan permukiman

Sejumlah "Lakuak Aia" (cekungan penampung air) di atas bukit gersang di kawasan daerah aliran sungai (DAS) dapat menahan laju air ke hilir hingga banjir dapat diminimalisasi. Lakuak Aia berlokasi di Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat. (Foto:Antara/HO-arsip Rasmi-2022).

"Saya meyakini bahwa konsep ini satu satunya di dunia, seperti konsep "Irigasi Gondok" yang telah saya ciptakan dan menyebar ke penjuru dunia juga melalui publikasi Antara," katanya.
Pekanbaru (ANTARA) - Peneliti Universitas Bung Hatta, Padang, Rasmi R, SSt. MSi., mengatakan dengan membangun Lakuak Aia (cekungan penampung air) di atas bukit gersang di kawasan daerah aliran sungai (DAS) diyakini dapat menahan laju air ke hilir hingga banjir bisa diminimalisasi.

"Lakuak Aia adalah sebuah istilah dalam bahasa Minang yang berarti cekungan yang digali di atas gundukan bukit guna menampung curah hujan sebelum sampai ke anak sungai. Ketika air sudah tertampung di Lakuak Aia tersebut maka lahan bisa menjadi hijau kembali karena air tanah tersedia setiap saat," kata Rasmi dihubungi dari Pekanbaru, Senin.

Menurut peneliti Jurusan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir, Perikanan dan Kelautan ( jurusan PSP2K ) pascasarjana Universitas Bung Hatta itu, untuk masalah banjir pada prinsipnya adalah kelebihan debit dalam satuan waktu sehingga meluap. Kalau sungai dilebarkan, waduk dibangun di Jakarta itu misalnya akan menelan biaya besar dan menimbulkan masalah sosial.

"Lakuak Aia atau cekungan penampung air potensial menjadi konsep antisipasi banjir perkotaan dan permukiman, seperti yang sudah diterapkan di Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat ini," katanya.

Caranya adalah dengan membangun "Lakuak Aia" dihulu sungai atau DAS yang mengarah ke kota. Lakuak Aia dibangun dengan volume ratusan sampai ribuan kubik supaya mengurangi resiko tekanan air ke pematangnya atau tanggul tidak jebol, pematang dapat ditanami bambu atau tanaman lainnya agar kokoh.

Sedangkan genangannya bisa dimanfaatkan untuk peternakan ikan, secara alami air akan meresap kebawah perlahan sehingga lereng bukit hijau oleh pepohonan. Konsep ini diperlukan karena lebih murah biayanya membangun ribuan "Lakuak Aia" dibanding pelebaran sungai atau waduk di Jakarta.

"Konsep ini sekaligus akan memberikan kontribusi terhadap ekonomi, sosial dan lingkungan. Namun mungkin ada yang mempertanyakan kenapa tidak bagun cek dam saja ?," katanya.

Rasmi mengaku sudah membangun Lakuak Aia ini sejak 2009 sampai sekarang dan sudah menghasilkan ratusan juta rupiah dari peternakan ikan hias. Anda bisa mengakses di GoogleMap dengan titik koordinat 0°49' 07.6" S - 100° 22' 53.6" E, dengan daya tampung 5000 meter kubik yg dibagi dengan 25 Lakuak Aia (cekungan).

"Saya meyakini bahwa konsep ini satu satunya di dunia, seperti konsep "Irigasi Gondok" yang telah saya ciptakan dan menyebar ke penjuru dunia juga melalui publikasi Antara," katanya.

Rasmi mengatakan, tidak cocok rasanya jika mengatasi banjir di hilir saja padahal datang air itu dari hulu sungai, maka di hulu itulah air ditahan dulu dengan teknologi ini.

"Air akan meresap perlahan ke tanah, pohon subur, kebakaran hutan hilang, sosial ekonomi berkembang banjir bisa di minimalisasi," katanya.

Konsep yang sama bisa digunakan untuk menahan banjir di Kalsel disebabkan Sungai Barito yang tidak mampu menampung 2,1 milyar kubik air. Atau identik dengan banjir terjadi karena kelebihan debit air, namun pertanyaannya kenapa tidak mampu diantisipasi atau kenapa kelebihan air?.

Selain itu persoalan banjir di Jakarta, perlu dipahami juga bahwa Jakarta terbentuk oleh sedimen banjir alias kota banjir. Atau populer disebut kota yang selalu kelebihan debit air.

Kalau dipandang dari kacamata ilmiah siapa pun pemimpinnya tidak akan mampu mencegah banjir karena sudah habitatnya dibentuk oleh banjir. Kalau di analogikan anak sudah terlahir banyak harus dirawat dengan baik, namun untuk berikutnya harus ikut program KB! Itu umpamanya, maka untuk mengantisipasi banjir, maka solusinya bisa dengan cara membangun Lakuak Aia tersebut.