Ketergantungan Perajin Rotan Ke Sumbar

id ketergantungan perajin, rotan ke sumbar

Ketergantungan Perajin Rotan Ke Sumbar

Pekanbaru, (AntaraRiau) - Perajin rotan di Provinsi Riau membutuhkan bantuan alat pengolah rotan mentah untuk mengurangi ketergantungan bahan baku dari Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

"Hampir sekitar 80 persen bahan baku rotan olahan kami bergantung dari Sumbar," kata Safrial, perajin rotan di Jalan Sudirman, Pekanbaru, Selasa (2/5).

Menurut pria berusia 50 tahun itu, perajin rotan di Riau masih kalah dibandingkan dengan perajin di Sumbar dari segi penerapan teknologi. Akibatnya, bahan baku seperti rotan kecil (fitrit) dan rotan yang sudah dihaluskan, semuanya harus didatangkan dari daerah lain.

Kondisi tersebut, lanjutnya, sungguh ironis karena potensi rotan alam di Riau lebih besar dibandingkan di Sumbar. Sebab, hutan di Riau lebih luas.

Ia mencontohkan, rotan jenis manau dan sago cukup banyak dihasilkan di Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Namun, rotan mentah itu banyak dibeli perajin rotan Sumbar untuk diolah yang akhirnya dibeli lagi oleh perajin Riau.

"Bahan baku rotan Sumbar ini dari Riau, tapi kita juga yang beli. Itu kan lucu," ujar Safrial sembari tertawa.

Ketergantungan bahan baku rotan juga dikeluhkan oleh Kartini (52), yang juga perajin rotan di Pekanbaru. Menurut dia, ketergantungan itu mengakibatkan perajin Riau harus membeli bahan baku dengan harga yang lebih mahal.

Ia mencontohkan, rotan kecil atau fitrit kini harganya berkisar Rp27.000 hingga Rp30.000 per kilogram (kg). Harga tersebut terus naik, padahal harga sebelumnya hanya Rp23.000 per kg tergantung kualitasnya.

"Karena harganya terus naik, kami terpaksa beli yang kualitas paling bawah," ujarnya.

Karena itu, ia berharap pemerintah daerah di Riau bisa membangun sentra kerajinan rotan di Pekanbaru yang menyediakan mesin-mesin pengolahan rotan. Dengan begitu, perajin di daerah itu bisa mendapatkan nilai lebih dari potensi rotan yang ada.