Gerakan literasi di era pandemi

id gerakan literasi,pandemi literasi, tanoto foundation

Gerakan literasi di era pandemi

Salah satu siswa sedang belajar di rumah. (ANTARA/HO-TF)

Pekanbaru (ANTARA) - Pandemi COVID-19 berdampak ke seluruh aspek program di sekolah, tidak terkecuali gerakan literasi sekolah. Pencanangan peningkatan budaya baca yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir, seketika harus dihentikan. Kepala sekolah harus berinovasi untuk mengatasi kondisi ini.

Literasi digital merupakan salah satu opsi yang bisa menjawab tantangan ini. Literasi digital muncul sebagai respon terhadap perkembangan teknologi dalam mendukung masyarakat agar minat membacanya meningkat.

Tujuan dari gerakan literasi berbasis digital adalah untuk memberikan pengetahuan kepada warga sekolah agar menggunakan ataupun membuat informasi secara bijak dan kreatif di kala pandemi COVID-19.

Gerakan literasi digital ini terinspirasi oleh program PINTAR yang didukung oleh Tanoto Foundation. Sejauh ini SMPN 21 Dumai telah menerapkan proses pembelajaran daring sekitar 96 persen.

Harapannya gerakan literasi juga menjadi bagian dalam proses pembelajaran jarak jauh tersebut. Untuk itu, sekolah berupaya mengemas kegiatan siswa yang menunjang aktivitas literasi siswa di kala pandemi COVID-19 ini.

Kepala sekolah menjadi rolemodel

Dalam menerapkan gerakan literasi berbasis digital ini, peran kepala sekolah sangat penting. Kepala sekolah harus mampu menjadi role model bagi warga sekolah. Dalam memberikan contoh tidak harus dengan kegiatan yang rumit. Cukup memberikan contoh aktivitas sehari-hari yang menunjang peningkatan kemampuan literasi.

Misalnya kepala sekolah atau guru membuat cerita singkat peristiwa yang terjadi dalam satu hari yang berkesan. Kemudian tulisan pendek tersebut dituangkan di media sosial seperti facebook, twitter, instagram dan media sosial lainnya. Dengan tujuan mendorong siswa untuk menulis kejadian yang dialami pada saat mereka belajar di lingkungan tempat tinggalnya.

Mengimplementasikan gerakan literasi

Penting untuk meyakinkan warga sekolah bahwa gerakan literasi berbasis digital bukan suatu hal yang rumit dan menakutkan. Kepala sekolah harus meyakinkan seluruh warga bahwa gerakan literasi berbasis digital ini adalah kebutuhan penting terutama saat pandemi COVID-19.

Implementasi program ini bisa dimulai dengan kepala sekolah mendorong guru untuk untuk membuat program literasi digital. Setiap guru bidang studi membuat program literasi pada saat sebelum pembelajaran dimulai.

Selain itu, guru juga bisa memberikan reward kepada siswa yang aktif dan kreatif sebagai duta baca di kelasnya.

Berikut program literasi di SMPN 21 Dumai:

Tabel. (ANTARA/HO-TF)


Tabel di atas merupakan contoh jadwal gerakan literasi yang bisa diimplementasikan selama pembelajaran jarak jauh. Misalnya pada bulan Oktober siswa diminta menceritakan kembali cerita fantasi yang sudah ditugaskan sebelumnya oleh guru dengan menggunakan bahasanya sendiri. Kemudian siswa ditugaskan membaca berita online atau menonton berita di televisi dengan bahasa dan gayanya sendiri.

Kegiatan lain misalnya siswa berpidato melalui Google Meet dengan tema menjaga kesehatan di tengah pandemi COVID-19. Berikutnya siswa diminta menulis secara singkat kejadian inspiratif yang dialaminya melalui Facebook, Instagram dan media sosial lainnya.

Saat program sudah mulai berjalan, penting bagi kepala sekolah melakukan evaluasi rutin terhadap program. Hal ini perlu dilakukan agar kegiatan literasi bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga sekolah.

Kunci keberhasilan gerakan literasi di kala pandemi adalah komitmen para warga dalam menumbuhkembangkan budaya literasi. Pembelajaran jarak jauh mengharuskan peserta didik belajar di rumah sehingga relatif lebih sulit mengontrol aktivitas literasi mereka. Tapi dengan komitmen dan pendekatan yang benar, peningkatan budaya baca di kala pandemi COVID-19 bukan suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.

Vevi Suryani Kepala SMPN 21 Dumai/ Fasda Tanoto Foundation

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar