BLH: Ada Puluhan Titik Api

id blh ada, puluhan titik api

Pekanbaru, (ANTARARIAU News) - Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Riau menyebutkan sedikitnya ada 34 titik api (hotspot) yang tersebar di berbagai wilayah kabupaten/kota se-provinsi itu.

"Memang awal Januari titik api masih sedikit, tapi memasuki pekan ke dua dan ketiga Januari, kemunculannya terus bertambah hingga mencapai 34 titik api," kata Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Kerusakan Lingkungan BLH Riau, Martin MR di Pekanbaru, Jumat.

Kemunculan titik api tersebut menurut dia, dipicu kondisi terik serta maraknya aksi pembakaran hutan dan lahan oleh sejumlah warga yang ingin memperluas areal perkebunannya dengan cara yang praktis dan hemat biaya.

"Maunya warga itu mungkin yang hemat dan praktis. Kalau sewa alat berat kan' membutuhkan biaya yang tidak sedikit," katanya.

Martin menjelaskan, peningkatan jumlah titik api di Riau terjadi sejak akhir pekan kedua atau tepatnya tanggal 14 Januari 2012.

Kemudian setiap harinya, demikian Martin, kemunculan 'hotspot' berlahan terus bertambah hingga di tanggal 19 Januari lalu, terpantau ada sekitar 34 titik api untuk Riau.

Titik api terbanyak menurut Martin berada di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hilir dimana masing-masingnya terdeteksi ada sembilan titik.

"Kemudian untuk sejumlah wilayah kabupate/kota lainnya, masing-masing terdapat satu sampai tiga titik api dengan luasan kebakaranlahan berkisar antara satu hingga sepuluh hektare (per-titik)," tuturnya.

Dengan peningkatan kemunculan titik api tersebut, Martin atas nama lembaganya mengimbau kepada seluruh masyarakat di Riau, khususnya yang berprofesi sebagai petani perkebunan untuk tidak melakukan upaya pembakaran guna kepentingan perluasan lahan perkebunannya.

"Hal ini sangat merugikan masyarakat banyak. Jadi, sebaiknya jangan lagi membakarn kalau mau memperluas lahan perkebunannya," ujar dia.

Selain masyarakat, kata Martin, pihaknya juga memberi larangan keras terhadap sejumlah perusahaan perkebunan yang ada di Riau.

"Jika larangan membakar lahan ini tidak dijalankan, maka perlu kami sampaikan, BLH akan melakukan penindakan tegas," demikian Martin MR.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru sebelumnya telah mengeluarkan imbauan akan terjadinya masa transisi musim, yakni dari hujan menuju ke musim kemarau.

Kondisi tersebut menurut para analis BMKG, sangat rentan dengan berbagai kemungkinan merugikan, salah satunya kebakaran hutan yang pada akhirnya menimbulkan kabut asap.

Kamunculan kabut asap hingga menyebabkan terganggunya kesehatan serta aktivitas warga tersebut, sudah berulang kali terjadi di "Provinsi Kaya Minyak", bahkan nyaris setiap tahun di musim kemarau.