Asa Danau Zamrud menjadi kawasan wisata

id danau zamrud, wisata danau zamrud, siak, wisata siak

Asa Danau Zamrud menjadi kawasan wisata

Suasana Taman Nasional Danau Zamrud yang berada di atas tanah gambut. Empat pulau di tengahnya juga menambah eksotisnya danau itu. (ANTARA/Bayu Agustari Adha)

Siak (ANTARA) - Di tengah rimba raya sawit, ternyata Kabupaten Siak menyimpan surga tersembunyi yang masih asri. Berada di Kampung Dayun, Kecamatan Dayun, tercipta genangan air hasil persimpangan Sungai Siak dan Semenanjung Kampar yang dinamai Danau Zamrud.

Zamrud diberi nama oleh Vice President PT California Texas (Caltex) yang saat itu melakukan eksplorasi minyak bumi di wilayah tersebut. Zamrud artinya bebatuan hijau yang sangat indah, dianalogikan juga dengan minyak bumi yang ditemukan di sana.

Berhubung juga terlihat suatu danau yang indah pada area eksplorasi itu maka dinamai pula genangan air luas tersebut dengan Danau Zamrud. Ini kemudian dijadikan suaka marga satwa, dan pada tahun 2016 ditetapkan sebagai Taman Nasional Zamrud di bawah pengelolaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau.

Kemudian pada sempena Hari Ulang Tahun Kabupaten Siak ke-20, 12 Oktober 2019, Bupati Siak Alfedri bersama BBKSDA Riau meneken nota kesepahaman tentang Taman Nasional Zamrud yang ditetapkan sebagai kawasan wisata alam. "Setelah kita memiliki wisata budaya yakni sekitar Istana Siak dan wisata pertanian di Bungaraya, kini kita juga memiliki wisata alam Taman Nasional Danau Zamrud," kata Alfedri pada malam pembukaan Festival Kabupaten Lestari II dan Festival Siak Bermadah, Kamis malam (11/10) lalu.

Katanya, Zamrud merupakan danau rawa gambut rerbesar kedua di dunia, setelah yang ada di Brazil. Itulah keunikan Danau Zamrud yang berada di atas tanah gambut dan juga airnya yang berwarna cokelat kemerahan khas air gambut.

Di Kawasan Taman Nasional Danau Zamrud, penjagaan dan pengawasan dilakukan oleh sejumlah petugas (BBKSDA) serta melibatkan satuan tugas dari Badan Operasi Bersama (BOB) PT. Bumi Siak Pusako yang merupakan perusahaan minyak bumi Pemerintah Kabupaten Siak dan Pertamina Hulu. Selain itu, ada juga Perusahaan Hutan Tanaman Industri PT Riau Andalan Pulp and Paper dan PT Ekawana di sekitarnya.

"Kami ada empat orang, kunjungan ke tempat ini harus mendapatkan izin dari BBKSDA. Nanti BKSDA yang merekomendasikan apakah boleh atau tidak. Selain BOB PT BSP-Pertamina Hulu, kiri kanan juga ada Perusahaan HTI PT RAPP dan PT Ekawana. Kita bersama-sama saling menjaga," kata Kepala Resort Taman Nasional Danau Zamrud, Raffles Sitinjak.

Perwakilan BOB PT BSP-Pertamina Hulu, Aftizal mengatakan pihaknya juga ikutserta dalam melakukan pengawasan, terutama untuk menjaga kelestarian alam terutama di Danau Zamrud ini. Eksplorasi juga dilakukan dengan baik dan sesuai aturan, apabila ada pengembangan tetap harus dapat izin dari BBKSDA.

"Kami melakukan pemantauan air dan udara setiap enam bulan agar tetap bisa memantau kelestarian kawasan. Apa yang kita lakukan harus tetap dapat izin dari BBKSDA, baru bisa lakukan pengembangan eksplorasi," ungkapnya.

Untuk menuju Danau Zamrud, satu-satunya jalan akses darat adalah melalui Jalan BOB PT BSP-Pertamina Hulu. Seperti melalui wilayah perusahaan lainnya, melewatinya harus ada izin tertentu. Jika ke Danau Zamrud izinnya dari BBKSDA Riau.

Setelah itu akan melalui jalan tanah yang di sampingnya akan terlihat pipa minyak ke Dumai. Di seberangnya menjelang salah satu tepian danau sudah ada lahan yang dikonversi menjadi Tanaman Sawit namun belum masuk pada area Taman Nasional Danau Zamrud.

Ketika sudah memasuki kawasan yang luasnya 31.484 hektare ini, mata akan disuguhkan suasana hutan dengan bermacam pohon dan daun pandan raksasa. Untuk ke tepian danau perjalanan lewat jalan setapak sekitar 15 menit menuju rumah Buk Car, salah satu penduduk tempatan yang masih setia mengandalkan hidup dengan mencari ikan.

Dari gubuk-gubuk Buk Car inilah bisa dimulai penjelajahan Danau Zamrud dengan sampan tradisional ataupun kapal motor. Ada empat pulau di tengah danau tersebut yakni Pulau Besar, Tengah, Beruk, dan yang paling jauh Pulau Bungsu. Kedalaman danau berluas 28,4 ribu ha ini beragam, berkisar 17-20 meter, namun ada juga yang cuma tujuh meter.
Rombongan Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) pada acara Festival Kabupaten Lestari 2019 di Siak bertolak dari Rumah Buk Car untuk menjelajahi Danau Zamrud.(ANTARA/HO-Sekretariat LTKL)


Pengembangan Kawasan Wisata

Asisten I Sekretaris Daerah Kabupaten Siak, L BudhiYuwonomenuturkan pengembangan Danau Zamrud untuk dijadikan kawasan wisata dilakukan dengan pembagian kawasan. Di antaranya kawasan eksplorasi, konservasi dan wisata. "Jadi, ini juga uniknya Danau Zamrud bahwa kegiatan eksplorasi dan konservasi bisa berdampingan," ujarnya.

Dikatakannya, Danau Zamrud mempunyai potensi yang cukup besar karena pada hutan dan lahan gambut ini bisa ditemukan macam-macam flora dan fauna langka. Di antaranya pinang merah, adaberbagai jenis burung dan ikan langka seperti Ikandan burung kayangan yang jarang terlihat.

Selain itu, kawasan tersebut juga sebagai habitat harimau Sumatera, buaya, dan beruang madu. Trenggiling hasil tangkapan polisi yang jugadilepasliarkan di sini. "Alamnya masih alami dan terjaga sangat baik, dan lokasi danau sebagian lokasinya ke depannya akan kita kembangkan sebagai area wisata ekologi,” tegas Budhi.

Terkait akses masuk, katanya, memang harus izin BBKSDA karena ini bukanlah tempat wisata massal. Bisa juga izin dari Perwakilan BBKSDA di Siak yang nantinya juga akan menindaklanjutinya ke BBKSDA Riau di KotaPekanbaru.

"Kalau langsung ke Pos BBKSDA di sini juga tidak bisa karena masuknya dari Jalan BOB PT BSP-Pertamina Hulu. Kalau masyarakat tempatansekitar danau yangjumlahnya hanya puluhan tentu tidak izin karena memang mencari ikan di sini. Kalau masuk dari Sungai Rawa juga izin Pos BBKSDA," tambahnya.

Untuk izin tersebut lanjutnya memang ada biaya yang akan menjadi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). Akan tetapi hal itu tidak lain dan tidak bukan adalah untuk pelestarian Danau Zamrud itu sendiri.

Lalu apa yang didapat Pemkab Siak? Budhi menyebut tentu yang namanya wisata yang didapat adalah efek dominonya. Bisa saja penginapan di Siak ataupun munculnya unit-unit usaha dari masyarakat. Bukantidak mungkin, pasalnyasetelah dari Danau Zamrud dan keluar BOB PT BSP-Pertamina Hulu akan ditemui keramaian penduduk dan Kantor Desa/Kampung Dayun.

Pemerintahan Kampung Dayun sendiri mengaku sudah bersiap untuk adanya Kawasan Wisata Danau Zamrud ini. Bahkan, pihaknya sudah melakukan pelatihan usaha oleh-oleh produk makanan dan pakaian kepada masyarakat.

Menurut Pejabat Penghulu (Kepala Desa) Kampung Dayun, Zaky, pihaknya sudah menyiapkan produk khas yakni semangka. Ini juga dalam rangka membujuk masyarakat untuk tidak melulu harus berbudidayasawit.
Kebun semangka di Kampung Dayun.(ANTARA/Bayu Agustari Adha)


Masyarakat tidak hanya menjual buah semangka, petani Kampung Dayun juga membuat produk turunannya. Melalui dana desa diprogramkan pelatihan kepada ibu-ibu untuk membuat jeli semangka dan manisan kulit semangka. Dulunya kulit semangka dibuang percuma, sekarang mulai dimanfaatkan.

Selain itu juga ada pelatihan untuk mengurus izin dari Kementerian Kesehatan agar produk tersebut layak dikonsumsi secara aman."Kami juga ada mesin membuat keripik semangka, tapi sekarang belum bisa dihidangkan," ujar Zaky.

Tak hanya itu, untuk menegaskan lagi bahwa semangka merupakan produk unggulan Kampung Dayun maka dibuat juga kerajinan batik dengan motif daun semangka. Hal ini nanti untuk buah tangan ketika Taman Nasional Zamrud.

Ancaman kebakaran hutan dan lahan

Pj Penghulu Kampung Dayun yang juga Sekretaris Camat Dayun, Zaky menyampaikan bahwa daerahnya itu luasnya mencapai 80 ribu ha lebih. Jika digabung dengan Danau Zamrud bisa 100 ribu ha lebih atau lebih luas dari Ibukota Provinsi Riau, Kota Pekanbaru.

Kampung Dayun satu-satunya kampung penduduk asli di Kecamatan Dayun. Selebihnya adalah Kampung Transmigrasi Program Petani Inti Rakyat (PIR) yang berbudidaya Tanaman Sawit. Herannya di Kecamatan Dayun itu, Kampung Dayun juga daerah yang rawan kebakaran. Padahal kampung lainnya itu budidaya sawit tapi jarang terjadi kebakaran lahan.

"Jadi untuk kebakaran lahan kita yang paling rawan, untuk itu kita berupaya mencegah dengan Masyarakat Peduli Api. Bahkan Manggala Agni kita buatkan kantor di sini supaya tidak susah-susah," ujar Zaky.

Kebakaran hutan dan lahan di Kampung Dayun bahkan pernah hampir menyentuh Taman Nasional Danau Zamrud. Oleh sebab itulah area gambut sekitar taman nasional juga digunakan sebagai demplot atau area edukasi sebagai upaya pencegahan karhutla oleh Lembaga Swadaya Masyarakat Lingkungan Perkumpulan Elang.

Demplot Perkumpulan Elang di dekat Taman Nasional Danau Zamrud, Siak.(ANTARA/HO-Sekretariat LTKL)


Direktur Eksekutif Perkumpulan Elang Janes Sinaga mengatakan pihaknya membuat demplot di lokasi bekas kebakaran lahan seluas dua hektare. Berbagai tanaman dengan nilai ekonomi dipercontohkan untuk ditanam agar masyarakat tak hanya menanam sawit, tapi juga menamannanas, semangka, serai wangi serta jagung yangsedang coba dibudidayakan di lahan gambut tersebut.

Uji coba diharapkan akan memberikan pilihan komoditas untuk ditanam masyarakat di lahan gambut. "Di lahan ini kami sedang melakukan alternatif pengembangan lahan gambut berkelanjutan berbasis masyarakat dengan pendekatan paludikultur. Kami mencari komoditas-komoditas bernilai ekonomis jangka pendek dan jangka panjang yang dilakukan tanpa harus mengeringkan lahan gambut," terangnya.

Mengingat Kampung Dayun yang luas maka diusahakan komoditas harus terus dipantau dalam jangka pendek. Pasalnya sudah menjadi budaya masyarakat dengan budidaya tanaman dengan kontrol tidak setiap hari seperti karet dan sawit. "Pernah kita coba cabai merah dan rawit tapi karena butuh dikunjungi setiap hari, jadi tidak bisa. Sementara ini jarak tempuhnya jauh-jauh," ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga menyiapkan sumur pantau untuk mengukur muka air di lahan gambut tersebut. Harusnya muka air gambut itu adalah 40 centimeter di bawah permukaan tanah. Akan tetapi saat ini musim kemarau atau karena dampak ekologis lainnya saat ini muka air sudah mencapai 80 cm sampai satu meter.

Untuk itu Yayasan Perkumpulan Elang di sini berusaha mengembalikan lagi muka air gambut ini. Di Kalimantan saja harus tujuh-delapan bulan gambut ini harus basah semuanya, tapi di sini hampir satu meter kering.

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar