Presiden AS Donald Trump kecam Fed karena AS rugi dengan nilai dolar tinggi

id Berita hari ini, berita riau antara, berita riau terkini,Presiden AS Donald Trump

Presiden AS Donald Trump kecam Fed karena AS rugi dengan nilai dolar tinggi

Dokumentasi: Presiden AS Donald Trump berbicara selama upacara pelantikan Menteri Tenaga Kerja Amerika Serikat Eugene Scalia di Gedung Putih di Washington, AS, 30 September 2019 (REUTERS/Leah Millis)

Jakarta (ANTARA) - Presiden AS Donald Trump sekali lagi mengecam Bank Sentral AS atau Federal Reserve pada Selasa (1/10/2019), mengenai data yang lemah di sektor manufaktur, mengatakan bank sentral telah mempertahankan suku bunga "terlalu tinggi" dan bahwa dolar yang kuat merugikan pabrik-pabrik Amerika Serikat.

“Seperti yang saya perkirakan, Jay Powell dan Federal Reserve telah membiarkan Dolar menjadi sangat kuat, terutama relatif terhadap semua mata uang lainnya, sehingga produsen kami terpengaruh secara negatif. Suku Bunga Fed terlalu tinggi. Mereka adalah musuh terburuk mereka sendiri, mereka tidak memiliki petunjuk. Menyedihkan!" tulis Trump.

Baca juga: Donald Trump: AS akan berbicara dengan Inggris soal penyitaan tanker

Komentar Trump muncul menyusul laporan dari Institute for Supply Management (ISM) pada Selasa (1/10/2019) yang menunjukkan aktivitas manufaktur Amerika Serikat jatuh ke level terlemah dalam satu dekade bulan lalu, di tengah kekhawatiran tentang lintasan perang perdagangan AS-China.

ISM mengatakan komentar dari produsen "mencerminkan penurunan kepercayaan bisnis yang berkelanjutan," dan juga mencatat bahwa "perdagangan global tetap menjadi masalah yang paling signifikan," menunjukkan bahwa pendekatan garis keras Trump terhadap perdagangan adalah kekhawatiran yang lebih besar bagi mereka daripada suku bunga AS atau kekuatan dolar.

Trump tanpa henti mengkritik The Fed dan Jerome Powell, yang ia tunjuk untuk memimpin bank sentral, untuk tingkat suku bunga AS yang relatif tinggi dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya.

Bank-bank sentral di Eropa dan Jepang telah mendorong suku bunga mereka sendiri di bawah nol dalam upaya untuk meningkatkan ekonomi mereka yang kesulitan.

The Fed, setelah mengangkat suku bunga sembilan kali selama tiga tahun hingga akhir 2018, berbalik arah tahun ini dan telah memotong dua kali biaya pinjaman -- pada Juli dan lagi bulan lalu. Suku bunga pinjaman utama The Fed sekarang ditetapkan dalam kisaran 1,75 persen hingga 2,00 persen, setengah poin persentase di bawah puncaknya baru-baru ini.

Tetapi jurang pemisah antara suku bunga AS dengan di Eropa dan Jepang masih sangat luas, yang merupakan salah satu alasan utama di balik kekuatan dolar. Sebelumnya pada Selasa (1/10/2019), indeks dolar AS berada pada level tertinggi dalam lebih dari dua tahun, meskipun telah mundur tajam setelah data ISM.

Sementara Trump menginginkan lebih banyak lagi penurunan suku bunga dari The Fed, tidak jelas ia akan mendapatkannya dalam waktu dekat. Sejak memotong suku bunga pada pertengahan September, yang kedua dari apa yang digambarkan Powell sebagai "penyesuaian pertengahan siklus" terhadap kebijakan, sejumlah pejabat Fed telah menyuarakan dukungan untuk menahan (suku bunga) masih untuk saat ini kecuali jika data yang masuk tumbuh jauh lebih buruk.

Presiden Fed Chicago, Charles Evans, berbicara di Frankfurt pada Selasa (1/10/2019), mengatakan bank sentral AS dapat mempertahankan suku bunga seperti saat ini. Evans termasuk di antara mereka yang memberikan suara mendukung penurunan suku bunga pada Juli dan September.

The Fed akan merilis angka sendiri tentang output manufaktur AS untuk September pada 17 Oktober.

Baca juga: Donald Trump bekukan semua aset pemerintah Venezuela

Baca juga: Donald Trump batalkan serangan militer terhadap Iran


Pewarta : Apep Suhendar
Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar