Siaga hadapi puncak musim kemarau, upaya pencegahan karhutla diintensifkan

id Berita hari ini, berita riau terkini, berita riau antara

Siaga hadapi puncak musim kemarau, upaya pencegahan karhutla diintensifkan

Nozzle pemadam multifungsi Sambunesia, ciptaan karyawan APP Sinar Mas pada acara Apel Siaga yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan, Selasa (9/7/2019 (Dokumentasi APP Sinar Mas)

Jakarta (ANTARA) - Dalam menghadapi puncak musim kemarau 2019 yang diprediksi bakal terjadi pada Agustus-September 2019, semua pihak melakukan berbagai upaya untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan, tidak terkecuali produsen kertas APP Sinar Mas di seluruh wilayah konsesinya.

Managing Director Sinar Mas Saleh Husin mengatakan partisipasi APP Sinar Mas dalam Apel Siaga menegaskan komitmen perusahaan dan seluruh mitra pemasoknya untuk mendukung pemerintah provinsi maupun pusat dalam pencegahan karhutla tahun ini.

Baca juga: Menghadang musim kemarau di Bumi Melayu Riau

"Dengan persiapan yang lebih matang dan juga kolaborasi yang solid dari sektor swasta, pemerintah, TNI-Polri, maupun masyarakat, Kami berharap mampu menjaga hutan Indonesia dari bencana Karhutla," ungkap Saleh Husin yang merupakan mantan Menteri Perindustrian.

APP Sinar Mas dan seluruh mitra pemasoknya juga menyatakan kesiapannya untuk mendukung upaya pemerintah dalam pencegahan dan penanggulangan karhutla, seperti dalam acara Apel Siaga yang digelar Pemprov Sumsel pada Selasa (9/7), dan Pemprov Riau pada Rabu (10/7).

Sementara itu, GM Fire Management APP Sinar Mas Sujica Lusaka mengatakan bahwa untuk menghadapi musim kemarau 2019, perusahaan kembali mengandalkan sistem penanggulangan kebakaran hutan secara terintegrasi yang meliputi empat strategi utama yaitu pencegahan, persiapan, deteksi dini dan respons cepat. Selain itu, APP Sinar Mas memiliki komitmen untuk turut memadamkan api sampai dengan radius lima kilometer di luar konsesi.

"Dalam tiga pilar terakhir, perusahaan mengoptimalkan berbagai fasilitas di antaranya helikopter waterbombing, peningkatan kapasitas tim pemadam kebakaran, dan penerapan Sistem Komando Bencana. APP Sinar Mas juga telah membangun kemampuan deteksi dini, yang mampu mengidentifikasi kebakaran lebih dini," kata Sujica.

Sedangkan aspek pencegahan di antaranya dilakukan melalui sosialisasi dan pembinaan masyarakat di sekitar area konsesi perusahaan.

Melalui program Desa Makmur Peduli Api (DMPA), APP Sinar Mas mempersempit potensi kebakaran dengan memberikan pendampingan kepada masyarakat agar mereka tidak lagi melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar.

Baca juga: Waspada dan berhati-hati terhadap kekeringan saat musim kemarau

Program DMPA juga bertujuan untuk mengedukasi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat di sekitar area konsesi, sehingga mereka bisa mencapai kesejahteraan secara sosial dan ekonomi melalui praktik yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Hingga akhir 2018 lalu, program DMPA telah memberikan pendampingan terhadap 66 desa di Provinsi Sumatra Selatan dengan target tambahan 21 desa hingga akhir tahun 2019. Sementara di Riau, perusahaan telah memberdayakan 141 desa, dengan target 46 desa tambahan di akhir tahun ini.

APP Sinar Mas juga akan terus berkoordinasi dan bekerja sama dengan otoritas dan pemangku kepentingan lain untuk mencegah serta menangani karhutla di seluruh wilayah operasi pemasoknya. Hingga akhir 2018 lalu, perusahaan berhasil menurunkan angka kebakaran hutan hingga mendekati target zero fire pada periode berjalan.

Saat ini, menurut data dari APP Sinar Mas, hanya 0,07 persen dari seluruh area konsesi pemasok perusahaan itu yang masih terdampak api akibat pembakaran ilegal oleh pihak ketiga.

Operasi udara

Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan sepekan terakhir meningkatkan operasi udara untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau 2019 ini.

Operasi udara menggunakan beberapa helikopter ditingkatkan untuk memantau sejumlah daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), kata Kepala BPBD Sumsel Iriansyah, di Palembang.

Beberapa daerah rawan Karhutla yang menjadi sasaran operasi yakni kawasan hutan dan lahan gambut di wilayah Kabupaten Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir, serta beberapa daerah rawan kebakaran lainnya.

"Untuk melakuklan pencegahan dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah rawan Karhutla dilakukan operasi udara dengan menurunkan tiga halikopter jenis MI dan Bolkow," ujarnya.

Dengan pemantauan secara intensif itu diharapkan dapat dilakukan pencegahan sejak dini kebakaran hutan dan lahan serta dapat dihindari bencana kabut asap yang bisa mengganggu berbagai aktivitas dan kesehatan masyarakat.

Kerja keras

Sementara Tim pemadam kebakaran Manggala Agni Riau dalam dua hari terakhir berusaha keras memadamkan kebakaran yang melanda lahan gambut di kawasan Jalan Perwira, Desa Parit Baru, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

"Api menyala di bagian bawah tanah gambut, penuh semak belukar yang sangat mudah terbakar api. Kondisi seperti itu membuat petugas kesulitan ketika melakukan pemadaman," kata Kepala Daops Manggala Agni Pekanbaru Edwin Putra di Pekanbaru.

Kebakaran lahan di kawasan Jalan Perwira Desa Parit Baru diketahui pada Kamis (11/7) sekitar pukul 13.00 WIB oleh regu piket Manggala Agni. Api diperkirakan telah menghanguskan sekitar dua hektare lahan milik warga. Petugas melihat indikasi adanya unsur kesengajaan dalam kasus kebakaran itu.

Regu Manggala Agni bergabung dengan personel TNI, Polri dan Masyarakat Peduli Api berusaha melakukan pemadaman api dari darat bersama Tim Patroli Terpadu Rimbo Panjang.

Dalam proses pemadaman api, tim pemadam mengerahkan satu mesin marck 3, satu mesin mini striker, 14 selang 1,5 inchi, delapan selang 2,5 inchi, satu peralatan tangan, dan 30 liter racun api.

"Pukul 18.30 WIB petugas berinisiatif untuk menghentikan pemadaman dan dilanjutkan pada keesokan harinya. Api sudah berhasil kami sekat, dan tinggal proses mopping up saja," katanya.

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo mengatakan, potensi kebakaran sangat tinggi karena Riau mulai memasuki puncak musim kemarau pada Juli hingga akhir Oktober.

Guna mengantisipasi itu, BNPB membentuk dan menyiagakan 1.512 orang di Satgas Karhutla Riau, yang meliputi personel TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, akademisi, budayawan, ulama, LSM lingkungan, hingga wartawan.

Satgas itu diharapkan bisa melakukan berbagai bimbingan kepada masyarakat agar masyarakat melakukan perubahan pola dalam mengelola perkebunan atau ladang, agar meninggalkan kebiasaan membakar ladang.

Baca juga: 93 hektare tanaman padi di Bantul puso akibat kekeringan dampak musim kemarau

Baca juga: Sejumlah desa di Bengkalis kesulitan air saat kemarau


Oleh M Razi Rahman