Bekudo Bono Semakin Memukau, Pemkab Pelalawan Terus Berbenah

id bekudo bono, semakin memukau, pemkab pelalawan, terus berbenah

Bekudo Bono Semakin Memukau, Pemkab Pelalawan Terus Berbenah

Pelalawan (Antarariau.com) - Festival Bono Surfing telah berlangsung selama tiga hari, 22-24 November lalu dengan diikuti oleh peselancar profesional dunia maupun lokal. Bono Surfing atau Bekudo Bono di Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau sendiri telah masuk dalam event kalender pariwisata nasional.

Ombak Bono seperti diketahui merupakan fenomena alam karena pertemuan dua arus dari Sungai Kampar dan gelombang laut dari daerah muara. Fenomena ini mencapai puncaknya di Semenanjung Kampar setiap akhir tahun, dan tinggi ombak bisa dua hingga lima meter.

Rangkaian event Bono Surfing beberapa hari lalu itu dimulai dengan beberapa permainan rakyat yang menjadi kearifan lokal. Seperti gasing, enggrang, bakiak, permainan gala dan permainan tradisional lainnya.

Keunikan gelombang Bono memang menjadi daya tarik tersendiri. Maka tak heran membuat untuk kesekian kalinya di tahun lalu, Bupati Pelalawan HM Harris menerima penghargaan atas prestasinya mempopulerkan wisata Bono sebagai destinasi tempat berselancar terpopuler (Most Popular Surfing Spot).

Atas prestasinya itu, Bupati Harris dianugerahi penghargaan oleh Sekretaris Kementerian Pariwisata, Ukus Kuswara.

Pada acara malam penghargaan ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) itu, gelombang Bono yang berada di Kabupaten Pelalawan provinsi Riau mendapatkan peringkat pertama terpopuler mengungguli dari objek wisata Selancar Pantai Wediombo, Kabupaten Gunung Kidul di peringkat kedua dan Pantai Tarimbang, Kabupaten Sumba Timur di peringkat ketiga.

Itu karena Bupati Pelalawan HM Harris melihatnya secara berbeda, Bono diperkenalkan kepada dunia, di berbagai pameran wisata internasional Bono mendapat perhatian pengunjung. Tak sampai di situ, Pemkab Pelalawan juga mengundang peselancar kelas dunia untuk menguji kedahsyatan Bono. Promosi gencar gencaran menjadikan gelombang Bono bukan saja menjadi ikon wisata Pelalawan, bahkan menjadi ikon wisata local dan nasional.

Untuk menggarap objek wisata Bono itu, Pemkab Pelalawan membangun infrastruktur pendukungnya seperti menara pantau untuk mengamati Bono, membangun fasilitas fasilitas penginapan, dan tak kalah pentingnya adalah mempersiapkan putra putri penduduk lokal untuk dididik menjadi pemandu wisata dan memperkenalkan Bono dan kebudayaan lokal kepada para turis.

Keseriusan Pemkab Pelalawan dalam mempromosikan Bono sebagai ikon wisata mendapat apresiasi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, potensi wisata Bono dapat bersinergi dengan peningkatan kearifan budaya lokal yang pada akhirnya dapat berdampak kepada peningkatan ekonomi masyarakat sebagai bagian dari pengembangan wisata tanah air.

Menurut Harris, potensi yang dimiliki ini harus dimanfaatkan. Sebab, semua itu diciptakan Allah SWT untuk dimanfaatkan bagi masyarakat. Misalnya, keunikan bono dan sumber gas yang dimiliki Pelalawan.

Bono memang memiliki keunikan. Gelombang panjang yang bisa mencapai puluhan kilometer sangat berpotensi menarik wisatawan luar untuk datang berselancar (surfing). Karena, dengan gelombang bono di Teluk Meranti, para pencinta berselancar bisa surfing satu jam tanpa henti. Ini daya tarik utamanya dan tak ditemukan di tempat lain, ungkap Bupati Harris baru-baru ini.

Hanya, perlu penataan potensi daerah tersebut dengan menjadikannya paket-paket wisata. Karena Harris menilai, untuk menarik wisatawan mancanegara datang menyaksikan bono, selain promosi, perlu penataan prasarana dan sarana. Mulai dari perhotelan, homestay bagi para wisatawan mancanegara, pondok-pondok tempat pemandian, sarana transportasi pantai dan sebagainya.

Selama ini pusat menganjurkan bagaimana menarik investor luar datang ke daerah dan menanamkan investasinya. Namun ketika investasi itu datang, daerah hanya tinggal jadi penonton. Ini yang mau saya ciptakan agar peluang ini bisa direbut. Jangan sampai nanti potensi yang ada ini malah dimanfaatkan orang luar dan masyarakat kita tetap jadi penonton. Diperkirakan untuk penataan sarana penunjang wisata bono sedikitnya perlu dana Rp5 miliar. Ini diluar infrastruktur jalan lintas bono, ungkap Bupati HM Harris.

Harris mengatakan, potensi wisata itu bukan saja saat ada gelombang bono besar sejak September-Desember. Karena saat bono kecil, sepanjang kawasan itu jadi hamparan pantai yang bisa diciptakan wisata pantai yang juga menarik. Seperti paket tur wisata pantai menggunakan kendaraan khusus seperti ATV (All Terrain Vehicle) dan kehidupan dengan masyarakat tempatan.

Apalagi di kawasan objek wisata bono, akan dijual berbagai kerajinan masyarakat tempatan seperti tikar pandan yang bisa digunakan untuk santai sambil menikmati ombak di pinggir pantai bono.

Pemkab Pelalawan juga menyadari, dari semua itu perbaikan dan pembangunan sarana infrastruktur jalan tak dapat dielakkan. Pemkab kini telah menghitung berapa anggaran yang diperlukan.

Ini memang seperti angan-angan, tapi inilah yang kita coba mewujudkannya. Paradigma di masyarakat, sebelumnya bono jadi hal yang menakutkan, kita balik dengan coba ciptakan jadi hal yang bermanfaat dengan menjadikannya objek wisata, kata Harris.

Harris juga mengungkapkan pihaknya mengundang empat menteri. Yakni Menteri Koordionator Kesejahteraan Rakyat, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Menteri Pekerjaan Umum. Kenapa Meneg PU juga kita undang, karena kita ingin melihatkan inilah infrastruktur jalan lintas bono yang kita perlukan untuk pengembangan potensi wisata ini, ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga (Kadisbuppora), Andi Yuliandri, bahwa selain promosi dilakukan, faktor pendukung juga harus disediakan.

Disampaikannya, Sudah lebih ratusan surfer mancanegara dan nasional yang mencoba gelombang bono dan fotografer serta crew dokumenter yang mendokumentasikan bono serta lebih dari puluhan ribu pengunjung yang telah datang untuk menyaksikan bono. (ADV)

Pewarta :
Editor: Bayu Agustari Adha
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar