Kenaikan LPG 12 Kg Pengaruhi Produk Subsidi

id kenaikan lpg, 12 kg, pengaruhi produk subsidi

Kenaikan LPG 12 Kg Pengaruhi Produk Subsidi

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Naiknya harga gas LPG (Liquid Petroleum Gas) atau biasa disebut elpiji ukuran 12 kilogram pekan lalu telah menimbulkan dampak negatif karena memengaruhi harga jual gas elpiji subsidi 3 kilogram menjadi Rp18.000 sampai Rp20.000 per tabung terutama di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.

"Saya beli elpiji subsidi 3 kilogram langsung ke pangkalan yang berada di Kawasan Panam seharga Rp18.000 per tabung, sementera di pangkalan lain harganya lebih dari itu," papar Rika (28), ibu rumah tangga di Kawasan Panam, Kecamatan Tampan, Pekanbaru, Selasa.

Dia mengatakan, setidaknya kebijakan PT Pertamina pekan lalu yang memutuskan menaikkan harga elpiji 12 kilogram sebesar Rp 1.500 per kilogram atau menjadi Rp18.000 per tabung terhitung mulai pukul 00.00 WIB pada tanggal 2 Januari 2015 telah menimbulkan pengaruh terutama elpiji subsidi.

Biar pun harga jual elpiji nonsubsidi 12 kilogram di tingkat agen menjadi naik sebesar Rp134.300 per tabung dari sebelumnya Rp114.900 per tabung untuk wilayah Pekanbaru, namun perusahaan pelat merah itu dinilai belum memikirkan dampak migrasi pemakai elpiji.

Apalagi pemerintah daerah terutama Pemerintah Kota Pekanbaru memiliki kesan lamban baik dalam penentuan harga eceran tertinggi untuk daerah tersebut termasuk dalam melakukan pengawasan di pangkalan elpiji subsidi 3 kilogram.

"Harga eceran tertinggi cuma Rp14.000 per tabung, sedangkan pelaksanaannya berlaku di pangkalan diatas harga itu. Ditambah lagi dengan naiknya harga elpiji 12 kilogram sebesar Rp18.000 per tabung. Jadi, mana keberpihakan pada masyarakat kecil," ucapnya.

Rita (35), warga lain di kota tersebut mengaku dirinya berniat membeli gas elpiji subsidi 3 kilogram. Namun dirinya terkejut dengan harga yang dijual pangkalan sudah mengalami kenaikan menjadi Rp19.000 per tabung.

"Kalau harganya naiknya setinggi itu, apa gunanya pemerintah melakukan konversi minyak tanah ke gas elpiji. Sebab, biaya hidup kami semakin meningkat terus kalau biaya hidup mahal begini," katanya.

Mahfud Nadyo, Sales Excecutive LPG V Pertamina Riau mengatakan belum terjadi migrasi atau beralihnya pengguna gas elpiji 12 kilogram ke gas elpiji subsidi 3 kilogram di provinsi tersebut.

"Belum ada, namanya migrasi karena kita menyalurkan sampai hari ini normal-normal saja. Stok elpiji 12 kilogram di tingkat agen dengan status penuh. Pada dasarnya untuk stok agen elpiji 12 kilogram aman-aman saja," katanya.