Jakarta (ANTARA) - Meskipun dapat menghubungkan dan mendatangkan manfaat bagi remaja, media sosial menghadirkan tekanan dan perbandingan terus-menerus yang bisa memengaruhi kesehatan mental mereka.
Psikolog Christie Saju dari platform layanan konsultasi kesehatan mental LISSUN menyampaikan bahwa platform media sosial seringkali menampilkan versi realitas yang terdistorsi bagi remaja, yang sedang berada dalam tahap krusial pembangunan identitas.
Baca juga: Pemerintah belajar dari Australia soal penerapan aturan pembatasan medsos bagi anak
"Mereka melihat cuplikan kehidupan teman-teman mereka, penuh dengan prestasi akademik, pesta-pesta sempurna, dan penampilan yang ideal," katanya sebagaimana dikutip dalam siaran Hindustan Times pada Kamis (28/8).
Ia mengemukakan bahwa hal itu dapat memicu pembandingan, membuat remaja membandingkan diri sendiri dengan cit
Dia mengatakan bahwa dunia digital juga dapat memicu munculnya rasa takut ketinggalan (Fear of Missing Out/FOMO) dan tekanan untuk selalu ada.
Kaburnya batasan antara sekolah, rumah, dan kehidupan sosial di platform media sosial, ia melanjutkan, dapat membuat remaja merasa tidak pernah punya waktu untuk beristirahat.
"Selain itu, ancaman perundungan siber dan penghinaan di depan umum menambah lapisan stres ringan yang konstan dan sulit dihilangkan," katanya.
Christie mengemukakan pula bahwa tekanan kuat untuk sukses secara akademis dan kebutuhan untuk terlihat sukses di ruang digital bisa menambah berat beban psikologis remaja.
"Beban ganda ini, berusaha meraih capaian tinggi sambil mempertahankan persona daring yang sempurna, dapat menyebabkan kecemasan dan kelelahan yang parah," ia menjelaskan.
Menurut dia, hal yang demikian perlu dipahami sebagai respons alami remaja dalam menghadapi lingkungan yang menantang.
"Solusinya bukan menjelek-jelekkan teknologi, melainkan membantu remaja meningkatkan literasi dan ketahanan digital," katanya.
Baca juga: Psikolog: Penggunaan media sosial bukan dilarang tapi dibimbing orang tua
Dia juga mengemukakan perlunya membantu para remaja untuk menumbuhkan rasa percaya diri yang tidak bergantung pada kehadiran daring mereka.
"Ini melibatkan pengajaran kepada mereka untuk mengevaluasi secara kritis apa yang mereka lihat via daring, menetapkan batasan waktu lihat layar yang sehat, dan terlibat dalam aktivitas dunia nyata yang bisa membangun harga diri dari dalam," ia menjelaskan.