Jakarta (ANTARA) - Tarif Amerika Serikat (AS) terhadap produk-produk impor dari Indonesia yang baru saja diumumkan dapat memengaruhi ekspor, melemahkan rupiah dan berdampak pada pasar saham, demikian menurut para ahli ekonomi Indonesia pada Kamis (3/4).
Bhima Yudhistira, direktur eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memproyeksikan bahwa tarif baru yang diterapkan AS sebesar 32 persen akan mengurangi volume ekspor Indonesia ke AS dan juga dapat berdampak negatif pada pengiriman ke negara-negara lain.
"Sektor otomotif, elektronik, pakaian, dan tekstil akan terdampak paling parah," ujar Bhima kepada media lokal.
Lukman Leong, seorang analis dari Doo Financial Futures, menyebutkan bahwa nilai tukar rupiah berada di bawah tekanan berat setelah penerapan tarif AS pada April ini.
"Indonesia sedang menghadapi tarif 32 persen. Rupiah akan tetap berada di bawah tekanan berat karena Indonesia termasuk salah satu negara yang dikenakan tarif timbal balik terbesar," lanjutnya.
Leong memaparkan bahwa indeks dolar AS semakin tidak stabil setelah pengumuman Presiden AS Donald Trump mengenai kebijakan tarif balasan yang tampaknya lebih agresif dari yang diperkirakan.
Untuk mencegah depresiasi lebih lanjut dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Leong menyarankan agar Bank Indonesia segera melakukan intervensi.
Wijayanto Samirin, seorang ekonom di Universitas Paramadina, mengatakan bahwa tarif-tarif tersebut akan mengikis proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5 persen.
"Saham-saham dari beberapa sektor yang berorientasi ekspor akan menjadi semakin tidak stabil," sebutnya.
Baca juga: Ekonom prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2025 di bawah 5,0 persen
Baca juga: Ekonom: BBM satu harga diperlukan untuk cegah penyalahgunaan subsidi