Rengat, (Antarariau.com) - Masyarakat Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, menilai menurunnya jumlah hewan kurban tahun 2015 karena faktor ekonomi warga dan terjadinya kabut asap.
"Saya melihat saat ini kesejahteraan masyarakat terganggu akibat harga sawit dan karet menurun," kata salah satu warga Indragiri Hulu Sandi (47) di Rengat, Jumat.
Ia mengatakan, sejak tiga bulan terakhir harga hasil pertanian petani menurun drastis, baik itu harga getah karet maupun buah sawit hingga mempengaruhi ekonomi rumah tangga akibatnya kemampuan untuk melakukan kurban terkendala bahkan sejumlah wilayah terseimuti kabt asap tebal hingga tidak berani turun kekebun.
Jika hal ini tetap belum mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah maka akan jelas mengganggu keselamatan anak sekolah karena kebutuhan untuk mendapatkan pendidikan semakin tinggi apalagi banyak yang menuntut ilmu di luar kota.
" Di sejumlah masjid dan mushalah dapat di hitung dengan jari yang melaksanakan pemotongan hewan kurban," sebutnya.
Kepala Kemenag Indragiri Hulu Abdul Kadir mengatakan, jumlah hewan kurban di Inhu tahun 2015 ini hanya 1.591 ekor yang terdiri dari 15 kerbau, 1.309 sapi dan 267 kambing.
" Jumlah tersebut berkurang dari tahun 2014 lalu yang mencapai 1.896 ekor atau mengalami penurunan mencapai 16 persen," ujarnya.
Penyebab dari penurunan itu belum jelas, bisa saja karena faktor ekonomi, namun ribuan hewan kurban itu semua dalam keadaan sehat sehingga masyarakat tidakperlu khawatir dan ragu.
Salah satu Pedagang Sapi di Inhu Febri (56) menyebutkan, tahun ini dirinya hanya bisa menjual hewan kurban mencapai puluhan ekor saja, sedangkan tahun lalu bisa terjual lima puluh ekor.
" Permintaan sedikit, karena ekonomi warga menurun," ujarnya.
Masyarakat juga dalam membeli daging d asar terlihat berkurang, ada warga hanya membeli ayam untukmenghadapi lebaran Idil Adha, sebagaimana dikatakan oleh seorang ibu rumah tangga Yanti (42), biasanya dipasar rakyat maupun tradisional sejak subuh sudah banyak warga menanti untuk membeli daging tetapi tahun ini sepi.
" Saya saja hanya beli satu kilo daging sapi," ujarnya.
Menurutnya, rendahnya minat warga tersebut di duga karena tidak memiliki uang cukup, karena saat ini Inhu bukan ekonomi menurun akibat rendahnya harga hasil pertanian tetapi akibat kabut asap tidak bisa turun ke ladang untuk memanen karet, sawit ataupun palawija.