ACT ajak warga bantu guru berpenghasilan rendah

id ACT,aksi cepat tanggap,ACT Riau

ACT ajak warga bantu guru berpenghasilan rendah

Serah terima beaguru dari Global Zakat-ACT kepada Komariah melalui program Sahabat Guru Indonesia. (Aksi Cepat Tanggap)

Jakarta (ANTARA) - Direktur Program Aksi Cepat Tanggap Wahyu Novyan mengajak masyarakat untuk membantu guru berpenghasilan rendah di berbagai daerah melalui program Sahabat Guru Indonesia.

"ACT mengajak para dermawan memuliakan para guru dengan berdonasi untuk para penyampai ilmu hingga pelosok-pelosok Indonesia," kata Wahyu dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa.

Dia mengatakan sejumlah guru berpenghasilan rendah layak dibantu di tengah keseharian mereka yang mengabdi untuk pendidikan anank-anak Indonesia.

"Mari, tunjukkan kepedulian dengan berdonasi melalui indonesiadermawan.id/SahabatGuruIndonesia kemudian #IndonesiaDermawan dan #SahabatGuruIndonesia," kata dia.

Komariah (29 tahun) merupakan guru yang mengabdikan dirinya selama sembilan tahun di Sekolah Dasar Muhammadiyah 4 kelas jauh di Desa Saluran, Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin.

SD Muhammadiyah 4 kelas jauh merupakan satu-satunya sekolah yang ada di desa tersebut dengan jumlah murid sebanyak 25 orang.

Novan mengatakan ACT berkesempatan bertemu dengan Komariah yang mendapatkan upah Rp500 ribu per bulan. Walau bergaji kecil, Komariah tak pernah mengeluh meski berasal dari keluarga prasejahtera.

Komariah, kata dia, juga perlu perjuangan lebih selama menjadi pendidik dengan daerah yang belum teraliri listrik.

"Program ini merupakan apresiasi terbaik dari ACT untuk guru-guru berdedikasi tapi prasejahtera di Indonesia. Adapun kriteria guru yang menerima manfaat dari program ini adalah mereka yang berpenghasilan di bawah Rp1 juta (termasuk guru honorer dan guru tahfiz), berasal dari wilayah prasejahtera dan memiliki dedikasi mengajar yang tinggi untuk siswa-siswanya," katanya.

Masnun Ismail merupakan seorang guru di Dusun 3 Bumbung, Desa Kabetan, Kecamatan Ogo Deide, Tolitoli, Sulawesi Tengah. Sejak 2006, dia mengabdikan dirinya untuk mengajar di Sekolah Dasar Negeri Butun kelas jauh. Di usianya yang menginjak 47 tahun, Masnun yang sebelumnya bekerja sebagai perangkat desa, kini memilih menjadi guru.

Tahun 2004 menjadi awal keterlibatan Masnun di dunia pendidikan di desanya. Dia diminta warga Dusun 3 Bumbung untuk mengajarkan anak-anak baca dan tulis. Sekolah yang didirikan merupakan hasil swadaya masyarakat. Hingga saat ini, sudah empat kali bangunan sekolah direnovasi karena sudah empat kali juga bangunan sekolah roboh.

"Sejak 2006 saya memilih jadi guru. Saya ingin jadi guru sepenuhnya walau tidak memiliki latarbelakang pendidikan sebagai guru. Masa depan anak-anak desa yang jadi alasan saya untuk terus jadi guru walau secara gaji memang terbilang jauh daripada menjadi perangkat desa," kata Masnun.

Gaji yang Masnun dapatkan dari mengajar masih tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Untuk itu, sepulang mengajar, Masnun menjadi nelayan. Dia memancing hasil laut sebagai penghasilan tambahan. Dia mengaku hanya dua jam tidur tiap harinya. Pagi hari sepulang melaut, Masnun harus kembali ke sekolah guna mengajar.

Novan mengatakan kisah Masnun dan Komariah merupakan satu dari potret kehidupan guru di pelosok negeri. Masih banyak guru-guru lain yang serupa perjuangannya demi pendidikan negeri ini.

"Hingga kini, masih ada 1.070.662 guru yang masih berstatus honorer dengan pendapatan di bawah UMR sekitar Rp300 ribu-Rp500.000 per bulan)," katanya.

Baca juga: ACT-MRI Riau salurkan bantuan logistik bagi korban banjir Rohul

Baca juga: ACT kaji program bantuan sedekah rumah untuk guru


Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar