Siswa MIN 1 Pekanbaru antusias belajar pola "Mikir" Tanoto Foundation

id Tanoto,tanoto foundation,berita riau antara,berita riau terbaru

Siswa MIN 1 Pekanbaru antusias belajar pola "Mikir" Tanoto Foundation

Tampak siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri MIN 1, Pekanbaru, kelas 1-3 (awal), antusias  memandangi  "Buku Besar" yang dibacakan guru  SDN 09 Buatan Baru, Kerinci Kanan, Titis  Wijayanti, Kamis (5/9). (ANTARA/Vera Lusiana)

Pekanbaru (ANTARA) - Siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 KotaPekanbaruantusias mengikuti setiap peragaan gambar poster yang dihasilkan oleh teman-temannya di depan kelas, dibawah bimbingan guru peserta program praktik pembelajaran modulII, yang ditaja Tanoto Foundation di Riau.

"Suka cara belajarnya ini model baru, karena kami bisa sambil bermain, dengan alat peraga," kata Faizatul Husnah,siswa kelas 5b, kepada Antara saat dijumpai di MIN I Pekanbaru, Kamis.

Ia tertarik karena ini pola pembelajaran baru dalam mata pelajaran IPS yang dilakukan dua orang guru asal sekolah lain. Dia ditemani teman sebangkunya Mutiara mengaku selama ini kalau belajar IPS hanya mendengarkan guru menjelaskan di depan.

"Lalu disuruh nulis di Modul Belajar Praktis (MBP), ini beda, enak belajarnya ada menggambar," tuturnya lagi.

Hal yang tidak jauh beda ditemukan antara untuk kelas 1-3 (awal), sejumlah siswa lebih antusias memandangi "Buku Besar" yang dibacakan guru SDN 09 Buatan Baru, Kerinci Kanan, Titis Wijayanti.

Titis mengajar membaca bersama dengan melibatkan semua anak, memakai alat peraga buku besar.

Cerita bergambar besar itu berisikan pesan literasi, dimana guru fokus mengajarkan ke suku kata dan kata -kata sulit. Misalkan fungsi lidah untuk mengecap.

Dalam beberapa bait bacaan, guru langsung bertanya dan mengundang interaktif siswa mengeluarkan pendapatnya tentang bacaan dan gambar di buku besar. Selanjutnya mengenal tanda baca yang ada, demikian seterusnya hingga pembelajaran tidak terpusat pada guru akan tetapi murid.

Kepala MIN 1 Pekanbaru, Fitrisma Rais mengakui bahwa saat ini sedang ada praktik pembelajaran modul II, yang ditaja Tanoto Foundation di sekolahnya. Sejumlah guru di sekolahnya kini sedang mengikuti program pelatihan mengajar program PINTAR (Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran), yang dihelat oleh Tanoto Foundation.

Ini merupakan kelanjutan modul I yang sudah digelar 2018. Dimana ada tiga guru dan kepala sekolah MIN 1 yang ikut untuk jadi fasilitator kala itu. Selanjutnya, dari ilmu yang didapat, telah didesiminasikan ke teman lainnya di satu sekolah.

"Sehingga kini seluruh guru MIN 1, Pekanbaru telah mendapatkan pemahaman yang sama, cara mengajar pola "Mikir" atau mengalami , interaksi, komunikasi, refleksi (perenungan kembali), yang membangun kreatifitas dan inovatif siswa. Walaupun nantinya Tanoto akan ada pendampingan. Jadi ini program dari hulu ke hilirnya sudah jelas," ujar Fitrisma Rais.

Selanjutnya akan ada pelaporan kendala yang dihadapi, solusi yang diberikan dan keberhasilan yang dicapai.

"Jadi pelatihan tidak akan berhenti di situ, ini akan ada pendampingan, evaluasi. Modul dua lebih kepada konten tupoksi , modul satu hanya dasar," tuturnya.

Ia menambahkan untuk program kelanjutan kedepan kepala sekolah juga sudah komit, selain memasukkan program pembelajaran tersebut dalam rengtra tahunan.

Ditanya output yang diperoleh siswa MIN 1 dalam setahun terakhir, ia menambahkan sejauh ini kepada peningkatan kualitas pembelajaran. Karena kalau prestasi yang diraih secara nasional itu hanya target jangka pendek, sementara yang diharapkan target jangka panjang dalam proses pembentukan karakter dan perilaku dalam pembelajaran.

"Dalam pembelajaran Mikir (mengalami , interaksi, komunikasi, refleksi yang diajarkan Tanoto ini, anak bisa mengkomunikasikan, percaya diri dalam mengemukakan ide. Kita lihat lebih kepada fashion anak-anak yang lebih berani," tambahnya.

Sementara itu Training Specialist SD dan MI Tanoto Foundation Riau Sasmoyo Hermawan, menyatakan, secara umum pelatihan modul II ini temanya, kemampuan menulis dan melaporkan rangkaian apa yang siswa lakukan. Sehingga mereka tahu mengkomunikasikan. Ini bagi kelas atas (siswa kelas 4-6).

"Awal kita melihat apa yang terjadi pada modul I, dan dilanjutkan menuliskan hasilnya dalam modul II," kata pria tinggi besar tersebut.

Ia menyatakan perbedaan Modul I dan II, sama-sama belajar teknik "Mikir". Hanya Modul II spesifik kemampuan baca yang baik, supaya banyak hal yang bisa dikomunikasikan.

"Kelas tinggi (murid kelas 4-6) fokus berkomunikasi, kelas awal (1-3) membaca," pungkasnya.

Baca juga: 194 guru di Riau dilatih cara bangkitkan inovasi siswa

Baca juga: Inilah barisan generasi milenial calon pemimpin bangsa


Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar