Mudik dengan Kapal Jelatik, meski lamban masih jadi pilihan di Riau

id mudik dengan kapal,Kapal kayu Jelatik ,arus mudik Lebaran 2019,ramadhan 1440 H,berita riau antara,berita riau terbaru,pelabuhan pekanbaru

Mudik dengan Kapal Jelatik, meski lamban masih jadi pilihan di Riau

Sejumlah penumpang melambaikan tangan dari balik jendela KM Jelatik Ekspres yang hendak berangkat di Pelabuhan Sei Duku Pekanbaru, Riau, Kamis (233/5/2019). Sebagian pemudik memilih mudik lebih awal untuk menghindari pelonjokan penumpang dan takut kehabisan tiket kapal. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman/aww.)

Pekanbaru (ANTARA) - Kapal kayu bermotor Jelatik meski lamban dan tidak nyaman, ternyata sampai sekarang masih menjadi pilihan banyak warga sebagai moda transportasi untuk pulang kampung, atau mudik perayaan Idul Fitri 1440 Hijriah dari Kota Pekanbaru menuju daerah pesisir Provinsi Riau.

“Tiketnya paling murah, tidak pernah naik. Ya, tapi perjalanannya lama karena bisa semalaman di kapal,” kata seorang penumpang bernama Iska, 22 tahun, kepada Antara di Pelabuhan Sei Duku, Kota Pekanbaru, Selasa.

Ia mengatakan memilih Kapal Motor (KM) Jelatik untuk mudik ke Kecamatan Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, karena tarifnya sangat murah dibandingkan kapal cepat yang lebih modern. Tiket perahu cepat dari Pelabuhan Sei Duku ke Selatpanjang harganya Rp160 ribu per orang, dengan waktu tempuh sekitar setengah hari perjalanan.

Kondisinya berbanding sangat jauh dengan Jelatik, yang berlayar sangat lamban sehingga makan waktu sekitar 16 jam dari Pekanbaru ke Pelabuhan Selatpanjang. Dan dari Selatpanjang, Iska masih harus menyeberang dengan kapal ke Kecamatan Rangsang sehingga perjalanannya untuk mudik makan waktu sekitar 18 jam.

“Kalau Jelatik tiketnya Rp120 ribu per orang, untuk dapat kamar. Kalau tidak pakai kamar paling Rp100 ribu,” katanya.

Kamar yang dimaksud Iska adalah bilik beralas kayu dan bersekat-sekat di dalam lambung kapal Jelatik. Posisi penumpang juga sebenarnya tidak nyaman di dalamnya, karena tanpa ada kursi. Meski begitu, hal itu yang seakan menjadi ciri khas mudik dengan kapal kayu Jelatik.

Jendelanya yang berderet ukurannya sangat kecil sehingga terlihat seperti sangkar burung, tanpa kaca dan hanya berpenutup tripleks. Warna kapal selalu sama, yakni bagian atas warna putih dan bawahnya warna biru, yang membuat KM Jelatik seperti ikon di jalur transportasi Sungai Siak di pesisir Riau.

“Karena masih banyak yang minat naik Jelatik, sampai ada dua kapal yang berlayar tujuan Selatpanjang pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu,” katanya.

Berdasarkan data dari Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Pelabuhan Sungai Duku harga tiket kapal dari pelabuhan Sungai Duku (Kota Pekanbaru) ke Selapanjang (Kabupaten Kepulauan Meranti) tetap normal.

Seorang pegawai KM Jelatik, Edy, mengatakan untuk persiapan mudik Lebaran tahun ini perusahaan tidak akan menambahkan kapal dan kursi tambahan untuk penumpang. Biaya tiketnya untuk saat ini masih tetap Rp120 ribu per orang.

“Satu armada kapal bisa mengangkut 180 orang penumpang, dikurangi jumlah ABK jadi 169 orang,” katanya.

Untuk KM Jelatik, rute Pekanbaru-Selatpanjang jadwal keberangkatannya tiap Selasa, Kamis, Sabtu, pukul 16.00 WIB.

Kepala UPT Pelabuhan Sungai Duku, Sudarmin mengatakan peningkatan jumlah penumpang pada akhir pekan ketiga bulan Mei tergolong masih normal. Kondisi ini juga dipengaruhi jumlah kapal yang berangkat.

"Peningkatan penumpang akan terjadi pada 30 Mei sampai 4 Juni 2019," kata Sudarmin.

Baca juga: Bawa Penumpang 2 Kali Lipat Lebihi Kapasitas, KM Jelatik Diamankan Lanal Dumai

Baca juga: Bawa Penumpang Lebihi Muatan, Nakhoda Kapal Jelatik 8 Terancam Hukuman Penjara

Baca juga: Kapal Kayu Ikonik Riau KM Jelatik 8 Diberhentikan Lanal Dumai Operasionalnya, Ini Tanggapan Dishub


Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar