Kontrasepsi Jenis Vasektomi Kurang Dinikmati Pria Pekanbaru, Ini Alasannya Menurut Disdalduk-KB

id kontrasepsi jenis, vasektomi kurang, dinikmati pria, pekanbaru ini, alasannya menurut disdalduk-kb

Kontrasepsi Jenis Vasektomi Kurang Dinikmati Pria Pekanbaru, Ini Alasannya Menurut Disdalduk-KB

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Kantor Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Pekanbaru menyatakan metode kontrasepsi jenis vasektomi kurang diminati oleh para pria setempat karena masih salah pemahaman.

"Memang para pria di Pekanbaru masih salah pemahaman tentang vasektomi. Dikiranya itu memotong alat kelamin padahal bukan cuma saluran saluran sperma, " kata Kepala Disdalduk KB Pekanbaru Muhammad Amin di Pekanbaru, Kamis.

Muhammad Amin menjelaskan rendahnya pemahaman terhadap vasektomi ini telah menyebabkan pihaknya sulit menetapkan target peserta baru untuk penggunanya.

Dia mengatakan untuk tahun 2018, Pekanbaru cuma menargetkan delapan pria sebagai aseptor vasektomi baru.

"Ini saja untuk mencari delapan pria yang akan jadi aseptor vasektomi setahun sangat sulit, karena semua menolak takut ini juga menggangu kejantanan mereka, " katanya mengutip alasan para pria.

Untuk itu, dia akan terus gencar melakukan sosialisasi metode kontrasepsi vasektomi mengingat ini cara aman untuk pria dalam ber-KB.

Tujuannya untuk menyukseskan program pemerintah dalam pengendalian jumlah penduduk. Apalagi data terkini mencatat Indonesia menduduki peringkat empat di dunia dengan sekitar 270 juta jiwa.

Vasektomi dilakukan dengan operasi kecil untuk mengikat saluran sperma agar benih pria tidak masuk ke dalam air mani, sehingga orang tersebut tidak bisa membuahi seorang wanita karena tidak terdapatnya sperma saat terjadinya ejakulasi.

Dengan melakukan vasektomi, setidaknya seorang pria turut berperan aktif menekan jumlah kelahiran, yang selama ini terus dibebankan kepada kaum wanita saja.

Sejumlah manfaat vasektomi antara lain mengontrol kelahiran anak, pengobatan pascoperasi tidak sulit, aman dilakukan, peluang memiliki anak nol persen, dan tidak mempengaruhi kualitas hubungan seksual.

***4***