Jejak konservasi mangrove dari perempuan Desa Berakit, Bintan

id Berita hari ini, berita riau terbaru, berita riau antara, bakau

Jejak konservasi mangrove dari perempuan Desa Berakit, Bintan

Dua dari tiga dapur arang hutan bakau di Kampung Panglong, Desa Berakit, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Selasa (11/3/2025). Saat ini menjadi destinasi wisata sejak ditutup awal tahun 2000-an. (ANTARA/Laily Rahmawaty/aa.)

Batam (ANTARA) - Langit biru dengan awan putih yang berarak pada Selasa (11/3) siang mengiringi perjalanan sejauh 49 kilo meter dari Tanjungpinang menuju Desa Berakit, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.

Perjalanan darat yang ditempuh selama kurang lebih 1 jam itu, tidak terasa membosankan, karena nyaris tidak ada kemacetan sepanjang jalanan lurus menyusuri pinggiran pantai menuju wilayah timur Kabupaten Bintan, yang dijuluki permata yang tersembunyi itu.

Untuk menuju Desa Berakit, kami menempuh jalur yang melintasi Pantai Trikora, salah satu destinasi wisata terkenal dengan bibir pantai berpasir putih dan kuliner Pizza Italianya.

Daerah yang tengah menggeliat sektor pariwisatanya itu memiliki sejumlah sanggraloka berjejer yang mudah ditemukan dan semua menyuguhkan wisata alam bahari nan eksotik. Lokasi ini menjadi target wisatawan asing terutama dari Malaysia dan Singapura.

Kecamatan Teluk Sebong, Desa Berakit cukup dekat dari Malaysia, hanya dengan 45 menit menyeberangi lautan, juga berbatasan langsung dengan Laut China Selatan. Keindahan pesisir Bintan ini menjadi daya tarik bagi banyak warga Singapura untuk berlibur.

Namun, di tengah bergeliatnya sektor pariwisata, sejumlah masyarakat nelayan wilayah tersebut mulai khawatir, karena mereka kesulitan mendapatkan tangkapan ikan sejak ekosistem mangrove rusak akibat pembangunan.

Mereka juga merasakan musim paceklik di kala musim angin Utara berlangsung, yakni dari November hingga April. Musim yang membahayakan bagi kapal-kapal nelayan berukuran kecil, karena angin dapat merusak kapal dan mengancam nyawa para nelayan.

Rusaknya hutan mangrove di kawasan itu bukan hanya karena masifnya pembangunan di sektor wisata, tapi juga oleh aktivitas masyarakat yang memanfaatkan hutan bakau sebagai sumber ekonomi dengan membuat kayu bakar.

Jejak pemanfaatan hutan bakau menjadi kayu arang yang diekspor ke luar negeri itu masih tersisa di Kampung Panglong, Desa Berakit. Tiga dapur arang berdiri kokoh di daerah tersebut, yang kini menjadi objek wisata.

Berdasarkan keterangan Yayasan Ecology Kepulauan Riau (YEKR), setidaknya ada 64 hektare hutan mangrove yang perlu mendapat penanaman kembali di Desa Berakit, Bintan.

Jajak restorasi mangrove

Monika (53), salah satu nelayan perempuan dari suku laut Desa Berakit merasakan betul perubahan paradigma akan pentingnya menjaga hutan Mangrove.

Dahulu, kata dia, kala bekerja di dapur arang arang Kampung Panglong bersama ketiga anaknya, dia bisa memperoleh penghasilan harian untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, terutama ketika musim paceklik datang. Suaminya Top (63) yang pergi mengambil kayu bakau, dia dan kedua anaknya yang membakar di dapur arang.

“Kerja di dapur arang empat beranak. Kami kerja di darat, bapak nebang bakau. Satu ton kayu bakau baru dapat Rp 35 ribu. Sehari kapal bisa muat 2 sampai 2,5 ton,” kenang Monika kala dijumpai di Kampung Panglong, Kamis (13/3).

Sejak pemerintah melarang penebangan hutan bakau karena telah terjadi degradasi, dapur arang pun ditutup pada awal tahun 2000 tak lagi beroperasi. Masyarakat nelayan Desa Berakit pun pelan-pelan beralih tak lagi menebang hutan bakau, dan mengandalkan sepenuhnya melaut mencari ikan, kepiting, kerang dan teripang.

Dampak kerusakan hutan mangrove dirasakan oleh nelayan Desa Berakit. Melaut tak lagi semudah dulu; mereka harus menyeberangi laut lebih jauh untuk mendapatkan tangkapan bagus. Bahkan, beberapa nelayan memasuki perairan negara tetangga.

Belum lagi ketika musim angin Utara, beberapa nelayan tradisional berhenti melaut, dan beralih pekerjaan, ada yang berdagang, ada pula yang jadi kuli bangunan.

Menghadapi musim ini, peran istri tak hanya menjadi ibu rumah tangga. Beberapa perempuan Desa Berakit punya profesi ganda, ibu rumah tangga dan juga pekerja. Ada yang ikut melaut mencari teripang, atau gamat di padang lamun0, ada pula yang membuka usaha jualan kue, menjahit, dan menjadi guru.

Peran besar perempuan di Desa Berakit ini yang mendorong Yayasan Care Peduli (Care Indonesia) turun mendampingi memberi edukasi, melatih keahlian baru dan mengadvokasi pentingnya pemanfaatan lingkungan pesisir dengan menjaga kelestarian.

Selain melaut mencari gamat dan umpan, perempuan Desa Berakit dilatih mencari bibit mangrove, menyemai dan menanam. Sejak Agustus 2024, gerakan ini telah mampu menyemai 50 ribu bibit mangrove yang siap ditanam pada April 2025 di 1 hektare kawasan mangrove yang terdegradasi.

Pelestarian mangrove

Gerakan menjaga mangrove Desa Berakit semakin kokoh sejak Kementerian Kelautan dan Perikanan menetapkan kawasan konservasi perairan bagi wilayah timur Pulau Bintan dengan luasan keseluruhan 138.561,42 hektare pada tahun 2022.

Pergerakan perempuan Desa Berakit menjaga mangrove dengan prinsip keberlanjutan mendapat pengawalan dari Yayasan Care Peduli (Care Indonesia) yang menggandeng Yayasan Ecology, lembaga swadaya masyarakat (NGO) lokal sebagai perpanjangan tangan di lapangan.

Tidak hanya menumbuhkan kesadaran pentingnya mangrove bagi ekologi dan ekosistem, perempuan Desa Berakit dilatih skill baru dalam memanfaatkan serta mengelola hutan bakau sebagai salah satu sumber perekonomian dengan prinsip lestari, lewat keterampilan membatik.

Yayasan Ecology dan Care Indonesia mulai mendampingi perempuan Desa Berakit sejak Agustus 2024, mereka dilatih mencari bibit, menyemai dan merawat bibit mangrove, untuk ditaham. Selain itu, mereka juga diajarkan keterampilan membatik ecoprint dan cap yang menggunakan pewarna alami terbuat dari batang pohon bakau.

Batik memiliki nilai jual tinggi, terlebih Desa Berakit tengah membangun ekowisata hutan mangrove. Kain baik yang dibuat oleh ibu-ibu Desa Berakit dapat dijadikan cinderamata bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Puluhan kain batik motif bunga mangrove dengan warna yang teduh, telah dihasilkan oleh ibu-ibu Desa Berakit yang tergabung dalam Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) Tenggiri dan KUEP Melati.

Rahima Zakia, Pendamping Kelompok Perempuan Yayasan Ecology mengatakan batik motif mangrove karya ibu-ibu Desa Berakit sudah pernah ditampilkan dalam kegiatan UMKM tingkat Kabupaten Bintan.

Saat ini tengah dijajaki kolaborasi antara Yayasan Ecology, Care Indonesia dan UMKM Betuah Etknik untuk memasarkan produk batik karya ibu-ibu Desa Berakit agar dikenal lebih luas lagi.

“Batik alami Desa Berakit berpotensi untuk dipasarkan ke Bali dan Singapura,” kata Rahima.

Mangrove lestari

Guru Besar Tetap Departemen Silvikultur Fakultas Kehuatan IPB, Prof Cecep Kusmana pernah mengatakan mangrove merupakan ekosistem yang esensial untuk memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Rusaknya mangrove sejumlah pulau, terutama pulau kecil terluar di Indonesia, akan menyebabkan hilangnya atau tenggelamnya kedaulatan negara.

Bintan termasuk pulau terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Malaysia serta Singapura Keberadaan mangrove pulau ini tentu sangat penting, selain menjaga keutuhan NKRI juga menopang perekonomian masyarakat pesisir.

Masyarakat di Desa Berakit, saat ini memiliki semangat konservasi, dan memanfaatkan wilayah pesisir secara alami. Lewat Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswas) Srikandi yang terbentuk, mereka memastikan mangrove yang disemai dan ditanam tumbuh dengan pengawasan.

Di sisi lain, perempuan di Desa Berakit menyadari peran penting mangrove bagi kelangsungan hidup mereka sebagai masyarakat pesisir. Mereka juga tidak menutup diri untuk mengembangkan desa mereka sebagai kawasan ekowisata yang mengedepankan prinsip pelestarian.

Sekretaris Desa Berakit Masrullaah menyebut perempuan di Berakit terlibat aktif dalam musyawarah desa, serta aktif bermasyarakat.

Pemerintah desa pun fokus mendukung ibu-ibu di Desa Berakit berkembang aktif turut serta meningkatkan perekonomian masyarakat dan keluarga.

Perjuangan perempuan Desa Berakit menarik minat Care Indonesia untuk mendampingi mereka menjaga dan melestarikan mangrove lewat pemanfaatan ekonomi yang ramah lingkungan. Sesuai dengan tiga visi besarnya, yakni mengentaskan kemiskinan, keadilan gender dan perlindungan lingkungan keanekaragaman hayati serta iklim.

Care Indonesia tidak ingin perekonomian di Bintan mengesampingkan prinsip kelestarian keberadaan mangrove sebagai benteng pelindung wilayah pesisir dari kehancuran dan habitat ekosistem perikanan.

“Kami ingin Desa Berakit, Bintan menjadi pusat perekonomian wisata. Ekonomi wisata bisa bertumbuh kalau alamnya tetap di jaga. Alam yang penting adalah mangrove,” kata CEO Care Indonesia Abdul Wahid.