Mimpi keluarga gajah tentang manusia serakah

id mimpi keluarga gajah tentang manusia serakah

Mimpi keluarga gajah tentang manusia serakah

Kalau bisa berbicara, mungkin gajah itu tetap saja membisu. Kalau mungkin bisa berteriak, gajah hanya bisa pasrah, "ngge, monggo..." (tatanan bahasa Jawa yang artinya; iya, silahkan).

Mungkin pula, itu sebabnya keserakahan manusia membuat satu persatu keluarga hewan bertubuh bongsor ini kian terpojok. Mimpi kepunahan pun hanya "sejengkal" lagi bisa berubah menjadi kenyataan yang menyakitkan bagi bangsa gajah.

Hutan-hutan alami, dimana lagi bisa ditemukan. Semuanya tersisa, namun hanya sebatas untuk menyejukkan. Untuk hidup, mungkin... Namun tidak untuk bertahan, hanya lah meratap masa depan yang suram.

Puisi yang memang tidak bisa diungkapakan lewat olahan kata yang dimengerti bangsa manusia. Namun fakta itu mengalir dan bercerita senduh tentang keluarga gajah yang malang.

Beberapa hari lalu, satu ekor induk dan dua anakan gajah mati di hutan pada kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Kabupaten Pelalawan, Riau.

Bangkai ketiga gajah betina itu membusuk di dekat jalan Koridor Baserah, berbatasan antara Kabupaten Pelalawan dengan Kabupaten Kuantan Singingi.

Sungguh kejam dan mengenaskan.

Humas "The World Wildlife Fund" (WWF) Indonesia Wilayah Riau, Syamsidar, mengungkapkan bahwa bangkai gajah itu diperkirakan telah berumur tiga hingga empat hari lalu (sebelum akhirnya ditemukan warga).

Hal itu menurut dia, disebabkan baunya yang sudah sangat menyengat bahkan tercium hingga radius ratusan meter dati titik kematian.

"Warga telah mengetahui informasi kematian gajah-gajah itu. Namun, kami baru bisa turun pada Minggu (11/11) pagi karena jaraknya yang begitu jauh," katanya.

Ia mengaku belum mengatahui secara pasti apakah tiga gajah yang telah menjadi bangkai tersebut memiliki hubungan persaudaraan atau keterikatan hubungan darah.

"Namun yang pasdi, lokasi penemuan bangkai gajah itu terpisah dengan jarak yang tidak begitu jauh. Penemuan pertama di dekat jalan koridor dan dua ekor lainnya hanya sekitar 200 meter dari lokasi penemuan pertama," katanya.

Menggemparkan

Kematian keluarga gajah ini sempat menggemparkan kalangan manusia. Namun tidak begitu mengharukan mengingat tidak adanya kesedihan.

Bangsa manusia hanya bertanya-tanya, mengapa gajah mati? Pertanyaan itu terlontar tanpa menyadari bahwa kalangan ini-lah menyebabkan berjatuhannya korban bangsa si hewan bongsor.

Kepala Bidang Humas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau M Zanir yang dihubungi terpisah menyatakan telah mendapat informasi tersebut.

Namun ia mengakui baru akan koordinasi dengan kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) untuk penanganan kasus tersebut.

"Upaya-upaya akan kami lakukan dan semuanya akan dilakukan secepatnya termasuk menyelidiki penyebab dari kematian gajah-gajah itu," katanya.

Kasus kematian keluarga gajah kali ini bukanlah yang bertamakalinya. Data ANTARA yang dibenarkan pihak BKSDA setempat menyatakan bahwa kasus kematian gajah disepanjang tahun 2012 telah berulang kali terjadi dengan korban mencapai 11 ekor gajah.

"Setidaknya tahun ini hingga November 2012 ada sekitar sebelas ekor gajah ditemukan mati di Riau. Bulan Maret-Mei ditemukan enam ekor gajah mati di Desa Pangkalan Gondai dan kawasan Sungai Tapa, salah satu desa terdekat dengan TNTN. Dua ekor lainnya ditemukan di Blok Hutan TNTN, 11 Oktober 2012," kata M Zanir.

Sejumlah ahli lingkungan menyatakan bahwa kasus-kasus kematian gajah di Riau disebabkan keserakahan manusian yang "membabi buta" dalam upaya pengelolaan hutan.

Kondisi tersebut yang kemudian menjebat para kawanan hewan bongsor terus terjepit hingga terus memepet ke gerbang kepunahan.

Hutan Hancur

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan di Pekanbaru sempat menyatakan, bahwa perambahan hutan hingga kini masih berlangsung di kawasan hutan di Riau terutama di Taman Nasional Tesso Nilo hingga mengancam keberadaan hutan konservasi di provinsi itu.

Tercatat sekitar 30 persen atau seluas 28.000 hektare lebih dari luas total 83.000 hektare kawasan konservasi Taman Nasional Tesso Nilo kini berada dalam kondisi yang rusak akibat dirambah, dan sebagian di antaranya beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit.

Taman Nasional Tesso Nilo yang terletak di Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Kampar dan Kabupaten Indragiri Hulu, merupakan salah satu dari tiga kawasan hutan yang ditinjau Menhut beserta rombongan menggunakan helikopter dalam kunjungan kerja sehari di Riau pada pertengahan tahun 2012.

Dalam kunjungan kerja sehari yang dirangkaikan dengan peluncuran Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Tasik Besar Serkap terhadap kawasan hutan Semenanjung Kampar, Menhut juga menjelaskan bahwa penegakan hukum di taman nasional bukan berarti menekan masyarakat.

Sebab kerusakan yang terjadi di lahan konservasi itu masih terus terjadi dan Kementerian Kehutanan memiliki personel yang terbatas dalam mengawasi area lahan yang masih menjadi habitat Gajah Sumatra dan perlintasan Harimau Sumatra.

Menteri juga berharap dukungan semua pihak terutama jajaran Polda Riau bisa mendukung upaya-upaya penegakkan hukum yang dilakukan secara bersama.

"Tesso Nilo harus benar-benar dikembalikan ke peruntukkannya yakni menjadi taman nasional sehingga nantinya bisa dikelola menjadi pariwisata unggulan di Provinsi Riau," katanya.

Tesso Nilo kata dia, nantinya bisa mendatangkan uang dari mereka yang melakukan wisata alan dan menjadi kebanggaan serta merubah citra Riau yang selama ini dikenal selalu merusak lingkungan.

Taman Nasional Tesso Nilo merupakan salah satu kawasan blok hutan tropis dataran rendah yang masih tersisa di Pulau Sumatera, dan merupakan habitat bagi hewan-hewan langka yang dilindungi seperti gajah dan harimau.

Penelitian terakhir menyebutkan di kawasan itu juga terdapat 360 jenis flora yang tergolong dalam 165 marga dan 57 suku, 107 jenis burung, 23 jenis mamalia, tiga jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia dan 18 jenis amfibia.

Hutan Minim

Sisa hutan alam di daratan Riau terbilang minim dan tinggal sekitar satu juta hektare. Data ini merupakan hasil analisis Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) kolaborasi dengan data Dinas Kehutanan setempat tahun 2004 silam.

Koordinator Jikalahari Zulfahmi kepada sejumlah wartawan di Pekanbaru menyatakan bahwa jumlah lahan hutan tersebut sama dengan 16 persen dari total luas daratan Riau yang mencapai 9,4 juta hektar. Namun dengan laju degradasi hutan alam yang mencapai 100.000 hektar per tahun, hutan alam Riau saat ini dipastikan hanya kurang dari satu juta hektar saja.

Menipisnya hutan alam menurutnya diiringi dengan kerusakan jutaan hektar lahan akibat salah pengelolaan, hingga memiliki korelasi nyata dengan maraknya bencana alam yang terus terjadi di Riau selama 10 tahun terakhir.

Kondisi tersebut yang kemudian menyempitkan ruang gerak para hewan penghuni timba hutan. Bahkan kerap kali kawanan ini menjadi korban kebringasan manusia yang selalu menggerogoti hutan alam untuk perkaya diri.

Kerusakan alam Riau diindikasikan terus semakin mengkhawatirkan, karena 60 persen wilayah daratan "Bumi Melayu Lancang Kuning" menurut Jikalahari merupakan lahan gambut yang sangat rawan kebakaran atau dibakar.

Selain itu, lahan gambut yang berfungsi sebagai lahan resapan air dan sumber air optimal bagi masyarakat dan habitat flora fauna di atasnya juga ikut terkikis.

Jikalahari juga memprediksi, tahun 2020 mendatang, selain menghadapi alam yang rusak parah akibat meningkatnya intensitas bencana alam, Riau dan wilayah Sumatera lainnya juga dihadapkan pada krisis air bersih dan banyaknya hewan-hewan dilindungi yang punah hingga menyisahkan kisah tragis.

Gajah hanya bisa bermimpi setelah terlelap dalam tidur panjang yang menghantarkannya pada kegelapan tak berujung. Inilah mimpi gajah tentang keserakahan bangsa manusia. ***3*** (T.KR-FZR)