Pekanbaru kembali berasap

id kabut asap pekanbaru,karhutla,bmkg,titik panas karhutla,kebakaran hutan,kebakaran hutan dan lahan,asap karhutla

Pekanbaru kembali berasap

Petugas BPBD Kota Pekanbaru memadamkan api yang membakar lahan gambut di Pekanbaru, Riau, Minggu (6/10/2019). ANTARA /Rony Muharrman.

Pekanbaru (ANTARA) - Jumlah titik panas yang jadi indikasi awal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera naik jadi 543, dan menyebabkan Kota Pekanbaru pada Jumat pagi (11/10) kembali diselimuti kabut asap. Bahkan pada Sabtu pagi aroma asap kebakaran juga tercium di Ibu Kota Provinsi Riau ini.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru pada Jumat pagi satelit Terra dan Aqua mendeteksi kenaikan jumlah titik panas dibandingkan sehari sebelumnya. Pada Kamis sore (10/10), jumlah titik panas mencapai 405 sedangkan pada Jumat pagi naik menjadi 543 titik.

Titik panas paling bayak di Provinsi Sumatera Selatan, yakni ada 310 titik. KemudiaN di Lampung ada 96 titik, Jambi 86 titik, Bangka Belitung 35 titik dan Bengkulu satu titik panas.

Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru, Sukisno, mengatakan jumlah titik panas di Provinsi Riau ada 15 titik. Lokasinya di Kabupaten Kuansing ada satu titik, Indragiri Hilir (Inhil) 4, dan Indragiri Hulu (Inhu) ada 10 titik panas.

Dari jumlah itu, ada 10 yang dipastikan titik api karhutlayaitu lokasinya di Kabupaten Inhu ada 8 titik, dan Inhil 2 titik.

BMKG juga menyatakan Kota Pekanbaru pada pagi ini diselimuti kabut asap sisa karhutla.

"Kota Pekanbaru terpantau asap dengan jarak pandang dua kilometer," katanya.

Berdasarkan pantuan ANTARA, karhutla masih terjadi di daerah pinggiran Pekanbaru seperti di daerah Air Hitam. Kemudian, kebakaran lahan gambut juga masih terjadi di daerah Rimbo Panjang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar, yang berbatasan dengan Pekanbaru.

Namun, dua kebakaran lahan di lokasi tersebut tidak terpantau sebagai titik panas oleh satelit. Selama tiga hari terakhir, upaya pemadaman di Rimbo Panjang terus dilakukan dari darat dan udara menggunakan helikopter yang menjatuhkan bom air (water bombing).

Namun, kebakaran masih belum sepenuhnya padam karena kondisi lahan gambut dan vegetasi di sekelilingnya sangat kering.

Sejumlah warga Kota Pekanbaru menyatakan sudah mulai merasakan bau asap sejak Rabu lalu terutama pada malam dan pagi hari.

"Kalau pagi hari terasa baunya menyengat," kata seorang warga, Andika Dyas (37).

Pada Kamis lalu (10/10), ia mengatakan asap bercampur embun sangat pekat terutama di daerah sekitar Jalan Tuanku Tambussai dan daerah Panam.

"Saya saja sampai harus menyalakan lampu mobil karena asapnya pekat, takut ditabrak kendaraan dari arah berlawanan," katanya.

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar