Logo Header Antaranews Riau

Diskusi AMSI, Sektor Kehutanan Riau gerakkan ekonomi Rp100 miliar lebih per bulan

Senin, 29 Desember 2025 10:55 WIB
Image Print
Suasana Diskusi AMSI Riau bersama APHI Wilayah Riau. ANTARA/HO-Pemprov Riau

Pekanbaru, (ANTARA) - Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Provinsi Riau menyelenggarakan diskusi bertajuk "Sumbang Inspirasi AMSI Riau" (SIAR( bersama Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Wilayah Riau dengan tema Harapan atau Ilusi: Menelisik Serapan Tenaga Kerja di Industri Kehutanan Riau.

Dalam diskusi santai di sebuah cafe di Pekanbaru ini hadir sebagai narasumber Ketua APHI Riau, Muller Tampubolon dan Pekerja Perempuan bidang kehutanan, Dewi Rahmawati Saputri serta Ketua AMSI Riau, Firman Agus.

Pada sesi pertama, Ketua APHI Riau menyampaikan pada organisasi tersebut tergabung 50 perusahaan sebagai anggota. Semuanya mengelola luas kawasan hutan 1,7 juta hektare. Terbagi atas hutan tanaman industri (HTI) 1,5 juta ha, restorasi 150 ribu ha, dan hutan alam 90 ribu ha.

"Dalam mengelola ini APHI dan Anggota menerapkan konsep pengelola hutan lestari dengan 3 P, 'planet, people, profit'," katanya, Senin.

P pertama yakni planet para anggota harus betul serius menjaga kawasan konservasi keanekaragaman hayati dan lingkungan. Kedua people artinya perusahaan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat dan memotivasi masyarakat sebagai pengusaha, dan memberdayakan masyarakat sekitar.

Ketiga profit artinya industri kehutanan salah satu sumber devisa untuk negara dengan mempertahankan kualitas tanaman dengan serat terbaik untuk bahan baku di Hulu serta bubur kertas atau pulp untuk industri hilir.

Lebih jauh Muller mengungkapkan bahwa APHI Riau dengan seluruh anggotanya dari 1,5 juta ha HTI yang tertanam sebanyak 1,012,000 ha. Tanaman tersebut dipanen sekali 5 tahun sehingga dengan begitu dalam satu tahun ada 200 ribu ha yang dipanen.

"Setiap tahun ada investasi 200 ribu ha setiap tahun dengan nilai Rp3,3 triliun untuk menghasilkan kayu 30-38 ribu juta Meter Kubik. Sangat dibutuhkan tenaga kerja untuk mengelola 200 ribu setiap tahun dan APHI sangat terbuka dengan masyarakat menjadi pekerja dan pengusaha," ujarnya.

Saat ini ini lanjut dia jumlah tenaga kerja di bawah APHI Riau tahun 2025 berkisar 55-58 ribu orang terdiri atas pekerja pembibitan, penanaman dan pemeliharaan hingga pemanenan serta pengangkutan.

Dengan investasi 3,3 triliun dan gaji karyawan rata-rata 40 persen, maka ada Rp1,2 triliun per tahun uang beredar di Provinsi Riau atau Rp100 miliar per bulan.

"Itu semua untuk masyarakat. Karyawan di camp setiap Minggu keluar belanja keluar otomatis yang paling berdampak adalah usaha mikro kecil dan menengah," sebutnya.

Muller menegaskan tak ada isu pihaknya tidak memprioritaskan tenaga kerja lokal dan itu terbukti dengan hampir semua pimpinan perusahaan adalah orang Riau.

Begitu juga dalam hal kesetaraan gender dengan program perempuan jadi pimpinan yang ditargetkan untuk level manager dan wakil manager pada 2030 mendatang ada sekitar 30 persen.

"Anggota APHI yang perempuan jadi pimpinan digagas di asosiasi sudah jalan. Tidak ada membeda-bedakan laki-laki dan perempuan, maka kita prioritaskan perempuan jadi pimpinan," ucapnya.

Selain itu secara tidak langsung perusahaan kehutanan juga memberikan tanggungjawab sosial perusahaan kepada daerah sekitar area konsesi. Ada dalam bentuk sosial dengan prioritas bidang kesehatan, pendidikan, sosial budaya dan keagamaan serta pemberdayaan masyarakat bidang pertanian, UMKM, dan perbaikan infrastruktur dengan biaya yang dikeluarkan per tahun sekitar Rp160-175 miliar.

Dalam hal pendapatan sektor kehutanan menjadi kedua terbanyak di Riau dan juga sumber devisa bagi negara dalam bentuk penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Pendapatan tersebut baik dari sisi hulu dan hilir.

Sementara itu seorang pekerja perempuan di perusahaan HTI, Dewi Rahmawati Saputri mengaku mengikuti jejak ayah bekerja di bidang ini. Dia bekerja di PT Bukit Raya Mudisa yang beroperasi di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.

"Saya bekerja di bagian pajak dan perusahaan sangat mensejahterakan karyawannya. Saya sudah 6 tahun dan peluang kerja terbuka termasuk untuk perempuan seperti saya," ujarnya.



Pewarta :
Editor: Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026