Rumah yatim ACT untuk Pengungsi Rohingya selesai dibangun

id ACT, ACT-Riau, GHR-ACT, Rohingya, Bangladesh

Rumah yatim ACT untuk Pengungsi Rohingya selesai dibangun

Rumah Yatim ACT di Bangladesh.(ANTARA/HO-ACT)

Pekanbaru (ANTARA) - Selain bantuan pagan dan pemberdayaan masyarakat, Aksi Cepat Tanggap (ACT) ternyata juga mendirikan Rumah Yatim guna mendukung akses pendidikan bagi pengungsi anak Rohingya.

Bangunan lima tingkat yang terdiri dari 30 ruangan itu kini kokoh berdiri. Rumah Yatim ACT itu berlokasi di Padua, Chittagong, Bangladesh. Gedung yang dibangun sejak November 2017 tersebut diperuntukkan bagi anak-anak yatim Rohingya dan Bangladesh.

"Gedung ini terdiri dari lima lantai dan 30 ruangan, nantinya, selain menjadi asrama anak yatim, gedung ini juga akan digunakan sebagai gedung sekolah," ujar Sucita Nur Ramadinda dari tim Global Humanity Response - ACT melalui pernyataan tertulis yang diterima di Pekanbaru, Rabu (9/10).

Rumah Yatim yang dibangun di atas tanah wakaf ini merupakan bentuk kepedulian masyarakat Indonesia terhadap pendidikan pengungsi anak-anak Rohingnya. "InsyaAllaah rencananya Rumah Yatim ini akan digunakan oleh 300 anak yatim Rohingya dan juga Bangladesh untuk tinggal dan bersekolah," terang Sucita.

Sucita menjelaskan, ACT mengikhtiarkan gedung ini sudah bisa digunakan pada Januari 2020. Kini, ACT pun tengah membangun kesepakatan dengan mitra yang akan mengelola asrama dan sekolah tersebut nantinya.

"Mitra kita di Bangladesh selama ini juga bekerja sama dalam pembangunan shelter juga distribusi bantuan untuk pengungsi Rohingya sebelumnya. Mereka juga mengelola sekolah yang lokasinya tidak jauh dari Rumah Yatim," tambah Sucita.

Ia berharap, semua ikhtiar yang dilakukan ACT berjalan dengan baik dan Rumah Yatim bisa segera difungsikan.

Melalui program-program Solidaritas Kemanusiaan Dunia Islam (SKDI), ACT terus memberikan dukungan kemanusiaan bagi pengungsi Rohingnya. Sucita mengatakan, bantuan itu mulai dari pangan sampai ke pemberdayaan masyarakat.

"Untuk distribusi logistik, terutama di tahun ini, kita lebih banyak fokus ke Rohingya di Arakan, Myanmar. Di tahun ini kita juga menyalurkan bantuan waterpump di Myanmar, pemberdayaan perempuan Rohingya melalui pelatihan menjahit, iftar saat Ramadan dan distribusi daging kurban," tandasnya.

UNICEF pun memperingatkan tentang masa depan yang suram pengungsi anak Rohingya di pengungsian Bangladesh. "Jika saat ini juga kita tidak membuat investasi di bidang pendidikan, kita akan menghadapi kenyataan menyeramkan tentang hilangnya generasi anak-anak Rohingya,” ujar representatif UNICEF untuk Bangladesh Edouard Beigbeder, Februari lalu.

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar