Perjuangan menjaga ekowisata mangrove Sungai Rawa di Siak

id Karlahut

Perjuangan menjaga ekowisata mangrove Sungai Rawa di Siak

Desa Sungai Rawa, Sungai Apit, Siak memiliki sekitar 182 hektar kawasan lindung mangrove yang terletak di sepanjang pesisir dan kawasan muara Sungai Rawa.  (Foto Antaranews/Vera Lusiana)

Siak (ANTARA) - Dua belas tahun merupakan waktu yang tidak singkat bagi Junaidi (49) untuk berjuang memelihara ekowisata mangrove Sungai Rawa, Kecamatan Sungai Apit, Siak.

Kerja keras itu kini bisa dinikmati warga masyarakat dengan mulai berkurangnya abrasi air laut ke permukiman. Selain itu, juga menjadi keuntungan ekonomi baru yang mendatangkan pendapatan wisata bagi warga walau belum maksimal dan mumpuni.

"Ekowisata mangrove Sungai Rawa baru tahun 2017 mendapat ijin trak wisata," ujar Junaidi saat dijumpai awak media pada acara 'Media Trip' program tata kelola hutan dan lahan untuk mengurangi emisi di Indonesia, yang diselenggarakan Konsorsium Yayasan Mitra Insani (YMI) di Sungai Apit, Siak, Kamis.

Perjuangan pria yang hanya tamatan SMP Sungai Apit itu bermula dari rasa prihatinnya menyaksikan kampung halaman yang habis ditelan laut pada tahun 2002. Kala itu tanaman kelapa dan jenis pohon mangroveyang tumbuh di bibir pantai laut Selat Panjang banyak yang runtuh ke laut.

"Niat awalnya menanam pohon adalah karena rasa tanggungjawab. Sebagai ciptaan Allah, kita diperintahkan menjaga alam. Maka saya mulai menanam," ujarnya.

Ketua Kelompok Pemerhati Mangrove Sungai Rawaitupun tak bosan mengajak warga untuk menanam mangrove di bibir pantai yang mencapai luasan 5 hektare tersebut, dengan mengandalkan bibit swadaya peninggalan dalam hutan.

Baru pada 2009, kelompok binaannya yang beranggotakan puluhan warga mendapat bantuan bibit 80.000 ribu dari luar negeri. Ya, luar negeri. Baru, pada 2015- 2016 dapat bibit dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebanyak 25.000 batang.

"Selama 12 tahun saya sudah menanam 200 ribu bibit," tegasnya.

Kini ekowisata mangrove Sungai Rawa, Kecamatan Sungai Apit, menyimpan 36 jenis tanaman di hutan, dengan pola tanam bibir pantai ditanami jenis kayu api-api dan perpat, serta bagian dalam bakau. Dampak lainnya kini biota laut juga mulai berkembangbiak di sana. Terbukti sudah ada buaya, ular, aneka burung, dan ikan seperti kakap, serta udang putih yang harganya Rp70 ribu per kilogram.

"Ada satu jenis anggrek dari 6, atau 9 khusus mangrove tumbuh yang tumbuh di kawasan ini," tambahnya.

Perjuangan penanaman mangrovebelum selesai, pria yang dikaruniai dua anak itu masih butuh bibit untuk ditanam pada tepian Sungai Rawa yang kini juga mulai abrasi dan pernah terbakar. Hal ini perlu karena di sana banyak kebun warga kalau tidak ditanam bisa habis.

Kini ekowisata mangrove Sungai Rawa, sudah mulai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara seperti Korea, Finlandia untuk penelitian, dan berwisata. Penduduk setempat mematok karcis masuk Rp5.000 untuk satu unit kendaraan yang masuk.

"Mimpi saya belum selesai, saya ingin jalan akses masuk hutan mangrove harus beton karena kalau pakai landasankayu berapa pohon lagi yang harus ditebang, lagi pula akan lapuk," imbuhnya.

Kawasan terbakar

Direktur Konsorsium Yayasan Mitra Insani (YMI) Muslim menjelaskan secara administratif Sungai Rawa berada di Kabupaten Siak, Kecamatan Sungai Apit. Luas wilayah sekitar 24.740 ha dengan luas daratan12.161,63 ha dan bertopografi datar.

Keseluruhan wilayah Desa Sungai Rawa berada di dalam kawasan Kawasan Hutan Gambut (KHG) Sungai Siak Sungai Kampar. Jumlah penduduk adalah 1.055 jiwa.

Selain itu, Desa Sungai Rawa juga memiliki sekitar 182 hektare kawasan lindung mangrove yang terletak di sepanjang pesisir dan kawasan muara Sungai Rawa.

"Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah lahan dulunya merupakan areal bekas terbakar yang telah menjadi semak belukar, walaupun ada yang dimanfaatkan kembali untuk perkebunan terutama untuk komoditi kelapa sawit dan nenas," ujar Muslim.

Menurutnya hampir seluruh pemanfaatan lahan gambut di Desa Sungai Rawa dilakukan dengan cara membuka kanal sehingga kondisi permukaan lahan gambutnya cenderung kering. Kawasan hutan hanya tersisa di beberapa wilayah saja, selain yang terdapat di kawasan Taman Nasional Zamrud, misalnya di daerah perbatasan antara Desa Sungai Rawa dan Desa Mengkapan.

Untuk itu, sejak 2017 hingga kini program Indonesian Climate Change Trustfund (ICCTF) telah membangun 15 sekat kanal yang manfaatnya untuk menata pengairan lahan gambut di saat kemarau tetap basah, sebaliknya mengatur debit air saat musim hujan tidak membanjiri hingga merusak pertanian masyarakat.

Ada juga pembangunan Demplot sebuah percontohan pertanian yang diberikan bagi masyarakat guna pemberdayaanekonomi, misalkan cabai merah, serai wangi dan nenas di lahan tidur. Termasuk pengembangan konsep ekowisata.

Tidak sampai di situ terkait pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) diupayakan juga pembentukan Peraturan Desa dan SOP di tiap wilayah. Juga ada pembangunan menara pemantau api.

"Untuk kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat dilakukan beberapa pelatihan seperti pembuatan sekat kanal, pencegahan dan penanggulangan karhutla dengan pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA) yang anggotanya ada lima. Sekolah lapangan dan pembibitan kayu alam, pelatihan ekowisata dan pelatihan sumur bor, serta pembangunan 15 unit sumur bor," pungkasnya.

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar