Kemendikbud Dorong Diseminasi Program PINTAR

id tanoto foundation,guru sungai apit mardiyati,guru teladan Riau,berita riau antara,berita riau terbaru

Para narasumber Sharing Best Practice Program PINTAR (dari kiri ke kanan) Junaedi Rahmat (Kadiknas Tanjung Jabung Timur), Mardiyati (guru matematika SMPN 4 Sungai Apit, Siak), Murni Nasution (Kepala SDN 122375 Pematang Siantar, dan Tulus Sutopo (Kabid SD Dinas Pendidikan Kutai Kartanegara). (Antaranews/HO - Tanoto Foundation)

Jakarta (ANTARA) - Dirjen Dikdasmen Kemendikbud, Hamid Muhammad, mengatakan saat ini pemerataan mutu pembelajaran menjadi fokus Kemendikbud. Mutu yang ditagih adalah peningkatan pada kompetensi siswa, pengembangan karakter, literasi unggul, dan penguasaan kompetensi abad 21, seperti kemampuan bekerja sama, berpikir kritis, berkomunikasi, dan kreatif.

Menurut Hamid, dalam setahun ini Tanoto Foundation melalui Program PINTAR bekerja sama dengan Kemendikbud telah melatih para guru, kepala sekolah, komite sekolah, dan pengawas dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, manajemen berbasis sekolah, dan budaya baca.

Dampaknya pembelajaran di kelas guru-guru memfasilitasi siswa menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran. Siswa juga dilatih keterampilan abad 21 dan peningkatan minat membaca. Masyarakat juga terlibat aktif dalam meningkatkan kualitas sekolah.

“Mutu siswa ditentukan pembelajaran yang berkualitas, maka yang harus dikontrol dan diawasi adalah guru. Maju tidaknya sekolah bergantung kepala sekolah. Program PINTAR ini memastikan guru dan kepala sekolah menjalankan perannya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Untuk itu saya mendorong program ini perlu didiseminasikan dalam rangka pemerataan kualitas pendidikan. Kemdikbud, Pemerintah Daerah, dan Tanoto Foundation perlu bersinergi untuk mewujudkannya,” kata Hamid pada acara Sharing Best Practice Program PINTAR yang dihadiri sekitar 20 peserta pejabat Kemdikbud, di Jakarta, Selasa (28/5/2019).

Pada acara tersebut, ada empat narasumber dari unsur guru, kepala sekolah, dan dinas pendidikan yang berbagi pengalaman praktik baiknya dalam menerapkan Program PINTAR.

Mewakili Riau

Mardiyati, guru matematika SMPN 4 Sungai Apit Siak, Riau berbagi pengalamannya dalam menerapkan pembelajaran yang memfasilitasi siswa menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS/higher order thinking skill).

“Saya dilatih Tanoto Foundation membuat lembar kerja (LK) yang berisi penugasan atau pertanyaan produktif, terbuka, dan imajinatif. Melalui LK tersebut, siswa didorong untuk membangun gagasannya sendiri, berpikir kreatif, dan berpikir alternatif untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran,” tukasnya.

LK tersebut diterapkan dalam pembelajaran aktif dengan unsur MIKiR atau mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi. Melalui MIKiR, siswa difasilitasi untuk melakukan kegiatan atau mengamati saat pembelajaran berlangsung. Mereka dibentuk dalam kelompok kecil untuk lebih banyak berinteraksi, berdiskusi, atau bekerja sama. Hasil karya, gagasan, atau pikiran siswa juga difasilitasi untuk dikomunikasikan atau dipresentasikan. Terakhir, melakukan kegiatan refleksi pembelajaran untuk melihat kembali pengalaman belajar dan mengambil pelajaran untuk lebih baik lagi ke depannya.

“Saat saya mengajar tentang peyelesaian masalah yang terkait dengan perbandingan senilai atau skala, saya tidak langsung memberikan konsep perbandingan senilai. Tetapi, saya meminta siswa melakukan praktik mengukur jarak di peta, melihat skala yang digunakan dalam peta, dan menentukan ukuran sebenarnya jarak pada peta. Dari situlah siswa bisa menemukan konsep perbandingan senilai. Setelah siswa memahami konsep, maka pemberian tugasnya lebih menantang untuk siswa lagi. Misalnya siswa ditugaskan membuat denah sekolah dengan menerapkan konsep perbandingan senilai,” kata Mardiyati memberikan contoh pembelajaran matematika yang dia ajarkan di kelas.

Pembelajaran HOTS yang diterapkan unsur pembelajaran aktif MIKiR menurut Mardiyati, membuat siswa lebih mudah memahami konsep pembelajaran, bahkan membantu mereka dalam mengerjakan soal UNBK (ujian nasional berbasis komputer). “Biasanya guru-guru lebih banyak melatihkan soal-soal untuk menghadapi ujian nasional. Padahal dengan pembelajaran aktif, siswa menjadi lebih mudah memahami konsep dan mengerjakan soal UNBK. Dengan menerapkan pembelajaran aktif tersebut, pada saat yang sama, siswa dilatihkan memiliki keterampilan abad 21 yaitu berpikir kritis, memecahkan masalah secara kreatif, bekerja sama, dan berkomunikasi dengan baik,” tukasnya.

Baca juga: Begini cara UNDP-Yayasan Tanoto tingkatkan ekonomi petani sawit Kabupaten Pelalawan

Baca juga: Tanoto Foundation tingkatkan kualitas guru empat daerah Riau


Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar