BEI Riau Berikan Pemahaman Soal Melemahnya Rupiah, Bukan Kesalahan Jokowi

id bei riau, berikan pemahaman, soal melemahnya, rupiah bukan, kesalahan jokowi

BEI Riau Berikan Pemahaman Soal Melemahnya Rupiah, Bukan Kesalahan Jokowi

Oleh Agustine Sri Pamungkas

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Provinsi Riau memberikan penjelasalan terkait pelemahan rupiah terhadap dolar, meskipun saat ini dolar masih dikisaran 13.000 tetapi angka ini fluktuatif berubah-ubah mendekati angka 14.000.

"Hal ini seharusnya dipahami dari krisis keuangan yang pernah terjadi di dunia," ujar Kepala BEI Provinsi Riau, Emon Sulaiman.

Menurutnya krisis finansial tahun 2008 adalah awal mula krisis-krisis saat ini.

"Krisis Amerika yang dikenal dengan Subprime Morgage adalah kredit perumahan yang macet dan meluas merontokkan perbankan yang ada disana, sampai korporasi keuangan besar menyatakan bangkrut seperti Lehman Brothers,"jelasnya.

Selanjutnya Amerika melakukan kebijakan mencetak dolar sehingga dolar banyak mengalir ke negara-negara lain termasuk Indonesia.

"Dengan banyaknya dolar yang beredar maka nilai dolar turun dan rupiah menguat," terangnya.

Namun pada tahun 2013 kembali terjadi krisis dan Amerika merubah kebijkannya untuk menyetop tidak mencetak dolar.

"Dengan demikian dolar kembali di tarik masuk ke Amerika, dolar menjadi berkurang di peredaran, akibatnya nilai dolar menguat dan rupiah melemah,"tambahnya.

Selain itu untuk menstabilkan perekonomian dalam negeri Amerika kembali merubah kebijakannya dalam penetapan suku bunga.

"Pada intinya kebijakan negara akan berpengaruh pada negara lain terlebih Amerika adalah negara yang memiliki jaringan perekonomian sangat luas di seluruh dunia,"katanya.

Ia menambahkan saat ini rupiah kembali mulai stabil di tahun 2016, dengan banyaknya kebijakan pemerintah yang mengundang investor masuk maka akan berangsur-angsur menguatkan nilai rupiah.

"Karena investor dolar kembali masuk ke indonesia," ucapnya.

Dengan demikian masyarakat seharusnya melihatnya dari perspektif ekonomi bukan politik, meskipun kebijakan adalah politik tetapi kebijakan ekonomi baiknya disikapi sebagai kepentingan ekonomi.