Serangan Udara Militer Pakistan Tewaskan 28 Gerilyawan Taliban

id serangan udara, militer pakistan, tewaskan 28, gerilyawan taliban

Serangan Udara Militer Pakistan Tewaskan 28 Gerilyawan Taliban

Bannu, (Antarariau.com) - Pihak militer Pakistan Ahad mengklaim telah menewaskan 28 gerilyawan melalui sejumlah serangan udara di wilayah utara negara tersebut.

Sementara itu pada saat bersamaan, sejumlah bukti yang baru muncul menunjukkan bahwa serangan-serangan militer Pakistan telah menewaskan warga sipil, lapor Reuters.

Target serangan udara terbaru adalah lembah Shawal--wilayah terpencil di daerah utara yang masih dikelilingi oleh hutan-hutan, demikian militer Pakistan menyatakan.

Serangan tersebut merupakan bagian dari serangkaian operasi yang dimulai pada bulan lalu untuk mengusir kelompok Taliban dari benteng pertahanan di North Waziristan, sebuah wilayah terpencil yang berbatasan langsung dengan Afghanistan.

Wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir dibombardir oleh pasukan pemerintah.

Sejumlah penduduk di North Waziristan mengatakan bahwa serangan bom udara militer Pakistan pada Jumat telah menewaskan sembilan orang perempuan, enam anak-anak dan dua pria sipil.

Seorang warga yang rumahnya terkena bom, Aadil Khan, mengatakan bahwa di harus menyaksikan dengan sedih saat sejumlah mayat anggota keluarganya diangkat dari reruntuhan.

Pihak militer sendiri telah memerintahkan seluruh penduduk North Waziristan untuk meninggalkan rumahnya beberapa hari sebelum serangan udara dilakukan. Namun sejumlah keluarga tetap bertahan karena beberapa alasan, di antaranya adalah terlalu miskin untuk pindah atau harus merawat kerabat yang sakit.

Amerika Serikat sejak lama mendesak Pakistan untuk mengambil tindakan terhadap Taliban yang berada di perbatasan Afghanistan. Kelompok tersebut menggunakan North Waziristan sebagai tempat untuk merencakan serangan ke Afghanistan.

Pihak militer Pakistan sejauh ini mengklaim telah menewaskan ratusan anggota Taliban dan kelompok gerilyawan lain. Namun sulit untuk memastikan angka tersebut karena North Waziristan tertutup bagi wartawan.