Arteta sang penakluk

id mikel arteta,arsenal,piala fa,frank lampard,pierre emerick aubameyang,pep guardiola

Arteta sang penakluk

Manajer Arsenal Mikel Arteta melakukan selebrasi bersama trofi Piala FA yang diraih timnya setelah mengalahkan Chelsea dalam partai final di Stadion Wembley, London, Inggris, Sabtu (1/8/2020) waktu setempat. (ANTARA/REUTERS/POOL/Catherine Ivill)

Jakarta (ANTARA) - Belum genap setahun Mikel Arteta menjalani peran barunya di dunia sepak bola selaku manajer Arsenal, tapi ia sudah membuktikan dirinya dengan menaklukkan setidaknya empat hal besar.

Artetamenduduki kursi manajer Arsenal sejak 20 Desember 2019. Dalam kurun 226 hari itu, ia menaklukkan penyakit COVID-19, Liverpool, Manchester City dan Piala FA.

COVID-19 adalah penyakit yang menjadi pandemi global setelah merebak di China

dan mengganggu banyak hal di dunia sejak akhir triwulan pertama 2020, tak terkecuali kelangsungan kompetisi sepak bola.

Arteta diumumkan positif terjangkit COVID-19 pada 12 Maret 2020, dua hari setelah pemilik Olympiakos Evangelos Marinaksi tertular penyakit yang sama. Keduanya sempat berkontak ketika Olympiakos dan Arsenal bertemu di babak 32 besar Liga Europa.

Temuan Arteta positif COVID-19 pula yang membuat operator Liga Premier Inggris kemudian menangguhkan kompetisi musim 2019/20 hingga batas waktu yang tak ditentukan.

Namun, Arteta punya daya juang yang luar biasa. Ia tak membiarkan virus corona hinggap lama-lama di tubuhnya dan pada 23 Maret ia sudah sembuh dari penyakit yang hingga kini masih jadi ancaman menakutkan di berbagai penjuru dunia itu.

"Saya butuh tiga atau empat hari untuk mulai merasakan lebih baik, dengan penuh energi, dan melepaskan semua simptoma yang sebelumnya ada," kata Arteta dalam telewicara dengan stasiun televisi Spanyol La Sexta pada 23 Maret.

"Saya baik-baik saja sekarang. Saya rasa saya sudah sembuh," ujarnya menambahkan.

COVID-19, jadi hal besar pertama yang takluk di tangan Arteta, yang dilakukannya di luar lapangan.

Liga Premier Inggris kembali dipertandingkan sejak 17 Juni dan Arteta masih menjadi sasaran kritik karena dianggap tak banyak mempengaruhi kiprah Arsenal di atas lapangan.

Sementara Arteta dan Arsenal masih dihujani kritik, Liverpool sudah memastikan gelar juara Liga Premier sejak putaran pertandingan ke-31.

Pada 15 Juli, Arsenal bergiliran menjamu sang juara di Emirates untuk rangkaian laga pekan ke-36.

Kala itu Liverpool tengah berusaha untuk bisa memecahkan total raihan poin terbanyak semusim, yang dimiliki Manchester City dengan 100 poin pada 2017/18 atau kesohor sebagai centurion.

Liverpool tiba di Emirates mengincar tiga poin untuk memuluskan ambisi memecahkan rekor centurion, tapi Arteta tak mengizinkan itu terjadi. Arsenal menang 2-1 atas Liverpool.

Tentu saja, bagi segenap pihak kemenangan itu dianggap sarat keberuntungan sebab Arsenal sempat tertinggal lebih dulu akibat gol Sadio Mane sebelum kemudian Virgil van Dijk dan Alisson Becker secara bergantian memberi "hadiah" tiga poin kepada tuan rumah.

Namun, keberuntungan itu tentu hasil kerja keras para pemain Arsenal melakukan pengawalan ketat di sepertiga akhir lini depan mereka, memaksa Van Dijk dan Alisson melakukan blunder.

Sesudahnya lini belakang Arsenal menerjemahkan strategi koordinasi pertahanan ketat yang diinstruksikan Arteta demi menjaga keunggulan 2-1 hingga bubaran.

Arsenal sukses mengalahkan Liverpool, tim yang berstatus juara Liga Premier, hal besar kedua yang ditaklukkan Arteta.

Penaklukkan berikutnya hanya berjarak empat hari saja.

Arteta mendampingi Arsenal menghadapi Manchester City di babak semifinal Piala FA.

City adalah tim yang berstatus juara bertahan dan ditangani oleh mentor langsung Arteta dalam karier kepelatihannya, Pep Guardiola.

Di Wembley, pada 18 Juli, anak-anak asuhan Arteta sukses menerapkan instruksinya dengan sangat baik sepanjang 45 menit pertama untuk membuat City tak berkutik dan unggul lewat gol Pierre-Emerick Aubameyang.

Paruh kedua City berusaha bangkit tapi Aubameyang mencetak gol keduanya dan membawa Arsenal menang 2-0, menyudahi catatan nirkalah The Citizens di kompetisi piala domestik Inggris selama dua tahun lebih.

Dua raksasa takluk di tangan Arsenal-nya Arteta dalam sepekan.

"Bisa mengalahkan City berarti kami menaklukkan dua tim elit Eropa dalam kurun waktu tiga atau empat hari, sangat membanggakan," kata Arteta dalam komentar pascalaga yang dilansir laman resmi Arsenal.

Halaman selanjutnya: Melewati City di semifinal...

Trofi perdana

Melewati City di semifinal Arsenal dihadapkan kesempatan menduplikasi skenario menjadi juara Piala FA 2017, sebab di final mereka akan berhadapan dengan Chelsea.

Laga itu bagi sebagian kalangan dianggap sebagai panggung inagurasi dua pelatih muda yang bakal menjadi juru taktik kawakan di masa depan. Arteta di Arsenal dan Frank Lampard di Chelsea.

Terlebih lagi, keduanya sama-sama pernah menjuarai Piala FA sebagai kapten tim yang masing-masing mereka kini tangani di masa lalu.

Bahkan ada pendapat bahwa rivalitas keduanya bisa menyerupai rivalitas dua juru taktik tim terpanas di Inggris saat ini, Juergen Klopp dan Pep Guardiola.

Arteta menampik anggapan itu. Menurutnya ia dan Lampard adalah dua pelatih muda yang masih perlu belajar banyak.

"Kami masih muda, belajar memahami lebih jauh posisi kami jadi terlalu cepat membandingkan kami dengan dua manajer yang kalian sebut," kata Arteta merespon pertanyaan wartawan dalam jumpa pers pralaga.

Ketika peluit tanda laga usai berbunyi di Wembley 1 Agustus, Arsenal-nya Arteta unggul 2-1 atas Chelsea disokong dua gol Aubameyang yang membalikkan keadaan setelah sempat tertinggal akibat gol cepat Christian Pulisic.

Tepat 226 hari setelah ditunjuk jadi manajer Arsenal, Arteta sudah berhasil mempersembahkan satu trofi untuk The Gunners. Jika Anda mengurangi jumlah hari yang dihabiskan dalam masa penangguhan kompetisi karena pandemi, angkanya tentu jauh lebih gemilang bagi Arteta.

"Ini permulaan bagus!" kata Arteta mengomentari keberhasilannya mengantarkan Arsenal menjuarai Piala FA.

Keberhasilanitu menjadikan Arteta sebagai orang ke-18 yang pernah menjuarai Piala FA baik sebagai pemain maupun pelatih, setelah meraih trofi itu pada 2013/14 dan 2014/15 .

Di Arsenal sendiri ia jadi orang kedua yang mencatatkan raihan tersebut setelah George Graham yang juara sebagai pemain pada 1970/71 dan pelatih pada 1992/93.

Kendati berhasil menaklukkan Piala FA, Arteta masih punya misi lain yang ingin ia taklukkan yakni mengembalikan mentalitas juara di Arsenal, klub yang ia bela selama lima musim terakhir kariernya sebagai pesepak bola profesional.

"Saya paham tantangan yang saya hadapi sejak memutuskan menangani tim ini dan ekspektasi yang menyertai sebab sejarah klub ini begitu luar biasa," kata Arteta.

"Tapi saya cuma punya satu misi sejak datang, yakni membuat para pemain dan staf percaya bahwa kami bisa sukses. Kami harus mengubah semangat dan mentalitas itu," ujarnya.

226 hari dari 3,5 tahun kontrak Arteta di Arsenal sudah dilewati, tentu ia masih punya pekerjaan besar di hadapannya.

COVID-19. Liverpool. Manchester City. Piala FA. Keempatnya punya kesamaan di tahun 2020, yakni ditaklukkan oleh seorang pelatih muda berusia 38 tahun bernama Mikel Arteta. Mikel Arteta sang penakluk.

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar