Uang Beredar di Riau Capai Rp4,7 Triliun dari Sektor Pariwisata

id uang beredar, di riau, capai rp47, triliun, dari sektor pariwisata

Oleh Rina Safitri & Frislidia

Pekanbaru (Antarariau.com) - Dinas Pariwisata Provinsi Riau mencatat, peredaran uang dalam tahun 2018 yang disumbangkan oleh sektor pariwisata di daerah itu mencapai Rp4,7 triliun.

"Peredaran uang sebesar Rp4,7 triliun itu berasal dari aktivitas sewa hotel, sewa tempat wisata, arena bermain, pembelian karcis masuk, jasa parkir, pembelian souvenir, kuliner dan lainnya," kata Fahmizal dalam keterangannya di Pekanbaru, Selasa.

Menurut dia, besarnya peredaran uang tersebut diyakini meningkatkan ekonomi masyarakat Riau yang pada akhirnya tentu menggerakkan perekonomian secara nasional.

Ia menyebutkan, ekonomi masyarakat khususnya bagi pengelola wisata terdukung oleh adanya beragam transaksi untuk memenuhi kebutuhan saat menyaksikan wisata budaya seperti Festival Bakar Tongkang 2018 di Bagan Siapiapi,Kabupaten Rokan Hilir yang tiap tahun digelar itu.

"Setiap wisatawan mancanegara dapat membelanjakan uangnya Rp11 juta untuk memenuhi berbagai kebutuhan saat berwisata selama beberapa hari di lokasi wisata," katanya.

Jika sebanyak 69.000 wisatawan asing yang datang ke Festival Bakar Tongkang, dan masing-masing mereka menghabiskan Rp11 juta dalam satu hari saja, maka jumlah total bisa mencapai Rp750 miliar uang yang beredar di masyarakat.

Oleh karena itu, kegiatan pariwisata di Riau optimistis dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Riau sehingga kegiatan ini perlu terus dikembangkan sebagai lahan baru untuk meningkatkan perolehan pendapatan asali daerah (PAD).

"Dinas Pariwisata Provinsi Riau terus berupaya menggencarkan promosi tentang objek-objek wisata di Riau melalui promosi digital secara lokal, dan internasional guna mendongkrak kunjungan wisatawan ke daerah ini," katanya.

Dinas Pariwisata Provinsi Riau mencatat jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Riau periode Januari-Juni 2018 mencapai 69 ribu orang.

Kunjungan wisatawan mancanegara pada periode tersebut dominan berasal dari Malaysia, Singapura dan Thailand dan minat mereka cukup tinggi untuk menyaksikan atraksi budaya.