Kisah pilot "Water Bombing" Sinar Mas, tetap siaga meski COVID-19 dan hujan

id Sinar mas, pilot helikopter, pilot sinar mas, karhutla siak, karhutla

Kisah pilot "Water Bombing" Sinar Mas, tetap siaga meski COVID-19 dan hujan

Harlan Rubby ketika akan mengoperasikan Helikopter Water Bombing. (ANTARA/HO-APP Sinar Mas)

Siak (ANTARA) - Beberapa pekan belakangan di Provinsi Riau mengalami intensitas hujan yang cukup tinggi bahkan sejumlah wilayah mengalami kebanjiran. Meski begitu, tidak lantas kebakaran hutan dan lahan diabaikan begitu saja.

Satuan tugas dan pihak terkait lainnya seharusnya dan memang harus untuk tetap waspada. Hal tersebut seperti yang dilakukanFire Operasional Management (FOM) PT Arara Abadi-APP Sinar Mas khususnya tim patroli udaranya.

Pilot Water Bombing PT Arara Abadi-Sinar Mas Harlan Rubby (61) mengisahkan dirinya setiap hari harus siaga siap sedia. Bersama kru stand by di heli base, dan ketika ada panggilan dari APP Sinar Mas harus siap berangkat.

“Kru heli kita siaga setiap hari meskipun saat ini musim hujan, sebagaimana keseharian dari heli dan kru kita baik musim hujan maupun musim kemarau atau ada api maupun tidak ada api, setiap pukul 07.00 sesuai permintaan APP Sinar Mas. Heli dan crew dalam posisi "Alert" (siaga/stand by) semua setiap saat," kata putra Minangkelahiran Padang dan bertempat tinggal di Yogyakarta ini.

Pada saat siaga tersebut, lanjutnya, harus digunakan semaksimal mungkin untuk istirahat. Pasalnya ketika ada panggilan untuk bekerja tim harus melakukan pekerjaan sebanyak mungkin yang bisa dikerjakan.

Dan ketika ada panggilan atau ada api, maka pihak Pusat Komando Pengendalian (Puskodal) FOM PT Arara Abadi-APP Sinar Mas mengatur pesawat Heli Patrol Jenis Bell 412 terlebih dahulu dengan membawa tim TRC (Tim Reaksi Cepat) lengkap dengan peralatan sambil patrol. Tim Heli Patrol mengkonfirmasi titik api (titik koordinat api), apakah cukup dilakukan pemadaman tim darat atau perlu dengan bom air "water bombing".

"Semua justifikasi dari Puskodal FOM PT Arara Abadi-APP Sinar Mas, begitu Puskodal 'Call Out' untuk Water Bombing, dalam waktu 15 menit kita sudah di pesawat semua untuk menghubungi pihak-pihak terkait, seperti Airnav maupun Lanud TNI AU (jika ada Notam). Setelah semua tuntas maka pesawat heli kita siap melakukan misi water bombing, kita harus tunjukkan performa kita, 15 menit itu komitmen kita," urainya.

Dia menceritakan kapasitas "Bucket" atau ember raksasa untuk dapat mengangkut air 5.000 liter/bucket. Denganjarak tempuh lebih kurang 3-3,5 Jam untuk sekali pengisian bahan bakar sebanyak 1.800-2000 liter. Jadi pilot harus memperhitungkan jarak tempuh heli untuk pengisian bahan bakar. Pasalnya pilot itu mempunyai batas terbang satu hari itu sesuai regulasinya adalah lima jam.

"Jadi baik kami pilot maupun APP Sinar Mas dalam penggunaan Heli Water bombing, harus benar-benar memperhitungkan operasional heli. Tidak hanya masalah efisiensi dan efektifitasnya termasuk juga waktu. Jadi tidak semua kebakaran yang akan mengancam lahan APP Sinar Mas juga jor-joran menggerakkan Heli Water Bombing. Harus ada perhitungan waktu terbang pilotnya," sebutnya.

Dia mencontohkan, jika diminta bantuan pemadaman oleh pihak luar Sinar Mas di wilayah utara maupun selatan dari Riau ini, untuk jarak tempuhnya saja sudah 1 jam pergi dan 1 jam kembali. Total sudah dua jam, jadi efektif memadamkan hanya 1-1,5 jam menjelang pengisian bahan bakar (refuelling).

"Jarak tempuh heli hanya 3,5 jam, biasa dibayangkan besarnya biaya dan waktu terbang 3,5 jam hanya bisa dilakukan pemadaman 1 jam. Untuk untuk 'sortie' atau penerbangan kedua sudah tidak mungkin lagi setelah refuelling, karena heli tersebut habis waktu terbang pilotnya maksimal 5 jam per hari. Itulah yang perlu kita ketahui bersama," ungkapnya.

Rata-rata selama dia bertugas di APP Sinar Mas lebih banyak ditugaskan memadamkan karhutla di luar konsesi APP Sinar Mas. Karena api yang di luar tersebut batasnya hanya 5 km, dan akan mengancam lahan APP Sinar Mas.

Bahkan dia juga sudah pernah ditugaskan memadamkan api di sekitar perbukitan bukit barisan (Kabupaten Kampar) yang jauh berada di luar konsesi perusahaan APP Sinar Mas. Ini meminta keahlian sebab terbiasa memadamkan karhutla di Riau yang rata-rata semuanya dataran rendah.

"Ini lebih sedikit extraordinaryyang mana ketinggiannya lebih kurang 2.000 kaki (700 meter) dari permukaan laut, dengan sumber air yang sangat-sangat minimum. Kita ambil dari sungai-sungai kecil di sela-sela bukit yang sempit itu, terlihat di lembah bukit. Ini betul-betul harus mempunyai kemampuan khusus yang benar-benar 'rigid', karena jika tidak kita bisa nyangkut," ulasnya.

Akan tetapi semua kerja berat tersebut tambahnya memberikan kelegaan jika sudah tuntas. Di situlah kata dia suasana suka dalam melaksanakan operasi bom air tersebut.

Harlan sudah 39 tahun pengalaman menjadi pilot dan saat ini bergabung dengan sebuah perusahaan (vendor) penerbangan swasta. Sebelumnya, ia juga pernah jadi pilot Heli Water Bombing Badan Nasional Penanggulangan Bencana Republik Indonesia

Dia tamatan sekolah Pilot di Civil Aviation Traning Centre (Curuq). "Saya memang bercita-cita jadi pilot.Karena ada pilihan antara pesawat fixedwing (pesawat terbang) dan helikopter, maka saya pilih jadi pilot helikopter," imbuhnya.

Pertama kali jadi pilot Heli Water Bombing yaitu sekitar tahun 1999 di Perusahaan National Utility Helicopter menggunakan Bell 205. Pada saat itu belum dikenal water bombing, dan baru tahun 1999 karena urgensi yang sangat tinggi di Kalimantan Timur untuk menyelamatkan habitat Orangutan.

Pada saat itu belum ada satu orang pilot pun di Indonesia yang biasa melakukan water bombing. Maka ketika itu empat orang Indonesia dan satu orang asing yang dilatih dengan mendatangkan ahli dari Australia. "Jadi misi kami saat itu sambil training langsung praktik menyelamatkan habitat Orangutan di Kaltim," ujarnya.

Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar