Menristekdikti Tinjau Pengolahan BBM Nabati Solar Pertamina Dumai

id Pertamina dumai,menristekdikti dumai

Menriatek Dikti M Nasir (kanan). (Foto Antarariau/A Razak/19)

Dumai (ANTARA) - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI Mohamad Nasir meninjau lokasi dan pengembangan bahan bakar minyak nabati jenis gasoil atau Solar di Kilang Minyak Pertamina RU II Dumai, Riau, Kamis.

Pengembangan BBMnabati ramah lingkungan ini melalui sistem Co-processing atau pengolahan bahan bakar dengan penggabungan bahan baku minyak fosil dan bahan baku minyak nabati, dilaksanakan menggunakan katalis berteknologi tinggi hasil pengembangan yang dilaksanakan di Research and Technology Center Pertamina bersama Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sebelumnya Pertamina telah menjalankan inovasi dalam pengembangan BBMnabati jenis gasoline (minyak bensin) melalui sistem co-processing di Kilang Refinery Unit (RU) III Plaju, Sumatera Selatan,

General Manager Pertamina RU II Dumai Nandang Kurnaedi mengatakan, implementasi proses pengolahan BBM nabati di Kilang RU II Dumai merupakan batu loncatan besar dalam hal perkembangan teknologi di Indonesia sekaligus mendorong pengurangan impor minyak mentah.

"Kita berbangga hati anak bangsa dapat menciptakan katalis yang selama ini didapatkan dari luar negeri, setelah melalui beberapa tahun penelitian, Katalis Merah Putih siap digunakan," kata GM Nandang mendampingi Menristekdikti dan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Kadarsyah Suryadi.

Dijelaskan, pengembangan katalis ini telah dilakukan sejak 2008 hingga terciptanya katalis generasi kedua yang telah secara optimal menjadi elemen pendukung co-processing di Kilang RU II.

CPO digunakan adalah jenis crude palm oil yang telah diolah dan dibersihkan getah serta baunya atau dikenal dengan nama Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) yang dicampur dengan sumber bahan bakar fosil di kilang dan diolah dengan proses kimia sehingga menghasilkan bahan bakar solar ramah lingkungan.

Setelah berhasil menciptakan katalis, pengolahan CPO dilakukan di fasilitas Distillate Hydrotreating Unit (DHDT) yang berada di kilang Pertamina Dumai, berkapasitas 12.6 MBSD (Million Barel Steam Per Day).

"Penggantian katalis lama dengan versi baru ciptaan dalam negeri mulai dijalankan pada Februari 2019. Injeksi bahan baku minyak nabati pun mulai dilaksanakan pada Maret 2019," sebutnya.

Menristekdikti Mohamad Nasir menjelaskan dengan penggunaan 10 hingga 12 persen feed dari minyak nabati, negara dapat menghemat biaya yang dikeluarkan untuk mengimpor minyak mentah hingga 1,6 juta dolar AS per tahun.

Diharap juga dari program ini agar dapat terus dikembangkan sehingga serapan minyak nabati di kilang Pertamina dapat semakin meningkat.

"Serapan 10 persen saja negara sudah bisa berhemat banyak, dan ke depan semoga bisa lebih meningkat lagi," kata Nasir.
Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar