Pekanbaru, 5/12 (Antara) - Anggota Komisi D DPRD Riau mengatakan bahwa Dinas kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Riau minim kreasi sehingga potensi wisata Riau tidak tergali sampai sekarang.
"Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau minim kreasi. Seakan-akan budaya itu hanya sekedar tari-menari. Padahal banyak sebenarnya potensi wisata Riau yang bisa digali," kata Masnur saat rapat dengar pendapat bersama Disbudpar Riau di Pekanbaru, Kamis.
Hal ini menurutnya menandakan tidak adanya peran pemerintah dalam mengelola wisata Riau. Selain itu ia menilai bahwa kurangnya agen perjalanan yang kompeten semakin membuat wisata Riau tak tertolong.
Ia mencontohkan keadaan Pulau Jemur sekarang yang sudah tidak terawat lagi, padahal anggaran Rp 10 Miliar telah digelontorkan hanya untuk itu saja. Sebenarnya ia menilai wisata itu merupakan masa depan Riau mengingat akan habisnya sumber daya alam Riau yang menjadi penopang utama saat ini.
"Sumber daya alam itu pasti akan habis. Wisata inilah yang bisa kita garap untuk masa depan," katanya.
Kondisi wisata Riau memang sangat memprihatinkan, padahal Riau mempunyai batas langsung dengan negara lain. namun sayangnya Riau ini tidak dikenal sebagai tujuan wisata.
Alangkah malunya, wisatawan mancanegara yang berlabuh di Dumai hanya lewat saja melalui Dumai dan Pekanbaru menuju ke Sumatera Barat. Bahkan singgahpun agak sebentar tidak apalagi pergi ke tempat tujuan wisatanya.
Menanggapi hal ini kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Riau Said Syarifuddin beralasan bahwa pariwisata masih dianggap sebagai pilihan dan tidak tidak menjadi prioritas utama.
"Contohnya anggaran pariwisata dan budaya hanya 0.39 persen dari APBD Riau. banyak sekali program yang dibuat tiba-tiba dicoret begitu saja," kata Said Syarifuddin.
Di Pekanbaru misalnya objek wisata budaya seperti museum dan taman budaya bangunan fisiknya saja sudah memprihatinkan dan tak pernah direhab sejak 1982. Selain itu gedung kebanggaan Riau MTQ atau Bandar Serai pemeliharaannya juga tidak jelas.
"Kami berbagi dua dengan biro perlengkapan. Jadi ketika ada yang salah saling tidak ada yang mengaku." kata Said Syarifuddin.