Tentang guru-guru yang tak mengenal kata lelah saat pandemi

id Guru. Belajar. Pandemi. Lelah.

Tentang guru-guru yang tak mengenal kata lelah saat pandemi

Ilustrasi belajar di rumah. (ANTARA/HO-Sukma Erni)

Pekanbaru (ANTARA) - Pahlawan tanpa tanda jasa masih sangat relevan dilekatkan pada identitas guru saat ini. Terutama melihat perjuangan mereka di pandemi COVID-19. Mereka tidak mengenal kata lelah untuk mencerdaskan anak bangsa. Mereka hanya berharap siswanya tetap mendapatkan hak belajar dan tumbuh menjadi manusia yang memiliki daya saing.

Pandemi COVID-19 memaksa seluruh siswa belajar di rumah. Semua sekolah, pondok, asrama, semua tutup total. Siswa dipulangkan ke rumah, guru serta ustadz juga harus dipulangkan ke rumah. Sebagian siswa tampak gembira karena menganggap ini liburan. Tetapi tidak demikian dengan guru, mereka mulai berpikir keras cara belajar dari rumah. Babak baru dimulai dalam dunia pendidikan.

Dalam perjalanannya, Kementerian Agama mulai menganjurkan untuk menggunakan aplikasi pembelajaran onlinealias daring. Dengan segera, semua guru membuat WhatsApp Group (WAG) sebagai media komunikasi awal. Nomor handphone yang tidak terdapat WhatsApp segera dikontak untuk memastikan semua siswa tergabung dalam WAG per kelas, per mata pelajaran.

Secara kilat, handphone guru penuh dengan WAG baru. Dan keluhan dari para siswa kemudian muncul. “Bu nomor yang ada WA-nya cuma ayah yang punya. Kami gak punya Bu cuma ada nomor HP biasa.”

Dan kemudian dengan bijak guru menjawab “Ya nak pake no ayah saja nanti ayah yang akan sampaikan tugas yang dikirim, yang gak punya WA akan ibu telpon menyampaikan tugas yang harus dikerjakan.”

Selanjutnya guru harus belajaraplikasi Google Classroom, Zoom Meeting, Jitsi dan platform pembelajaran lain yang mungkin sebelumnya asing bagi mereka. Peralihan pembelajaran manual menjadi berbasis teknologi membuat banyak guru yang stres. Tapi proses pembelajaran harus terus berjalan. Mau tidak mau, guru harus melawan keterbatasannya agar siswa tetap terpenuhi hak belajarnya.

Proses belajar di rumah. (ANTARA/HO-Sukma Eni)


Tantangan di lapangan

Saat melaksanakan proses pembelajaran jarak jauh secara daring, sejumlah masalah pun muncul dari peserta didik atau wali murid antara lain jaringan susah dan bahkan harus naik ke atas bukit untuk mendapatkan sinyal, tidak ada warnet yang buka dan Ayah suka kesal karena banyak sekali tugas yang sulit dilakukan di kampong (desa).

Daftar alasan di atas adalah yang paling sering diungkapkan siswa maupun wali murid kepada guru. Dan, kata sabar menjadi obat ampuh bagi para guru untuk menenangkan siswa maupun wali murid yang mulai bosan dengan belajar di rumah.

Selain dihadapkan dengan berbagai keluhan, guru juga harus memenuhi kewajiban mengajar. Pembelajaran yang seharusnya tuntas dalam 2x40 menit menjadi 3-4 jam untuk satu mata pelajaran. Itupun tidak semua siswa punya akses dan bisa bergabung.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengajar dua kelas hampir satu hari. Sementara pada pembelajaran biasa guru mengajar empat kelas dalam sehari bahkan lebih. Selain itu, guru masih harus menunggu hasil kerja siswa sebagai tagihan capaian pembelajaran.

Untuk mendapatkan sinyal jaringan yang kencang tak jarang guru harus bangun dini hari. Sekedar melihat respon siswa terkait tugas yang diberikan melalui Google Classroom. Mereka juga sering mendapati kenyataan bahwa hanya sebagian kecil siswa yang mengirimkan tugas sesuai dengan jadwal yang ditentukan.

Tantangan ini harus diterima dengan lapang dada. Tidak ada alasan untuk menyerah dengan keadaan. Memenuhi hak belajar siswa adalah tugas mulia yang harus ditegakkan. Selanjutnya, berharap semoga musibah ini cepat berlalu dan anak kembali ke sekolah, kembali pada keceriaan belajar seperti sediakala.

* Penulis adalah dosen UNRIdan fasilitator dosen Tanoto Foundation
Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar