Warga Bandung sambut HUT RI dengan melukis jalan

id Warga bandung, jalan, melukis, hari kemerdekaan, agustus, cat,Rancasari

Warga Bandung sambut HUT RI dengan melukis jalan

Sejumlah anak bersepeda melalui jalan yang dilukis di Jalan Santosa Asih IV, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, Kamis (13/8/2020). (ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi)

Bandung (ANTARA) - Menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73, warga Kota Bandung melukis jalan khususnya warga RT 8 RW 5 Kelurahan Cipamokolan, Kecamatan Rancasari.

Ketua RT 8, Maman Suherman mengatakan kegiatan melukis jalan tersebut merupakan alternatif perayaan Hari Kemerdekaan di masa pandemi COVID-19. Karena kegiatan perlombaan, karnaval, dan pesta musik belum diperbolehkan karena tidak sesuai dengan protokol kesehatan.

"Ini dalam rangka menyambut 17 Agustusan, inisiatif dari warga sama saya juga, kebetulan ada tetangga yang sering ngecat juga, jadi ya sudah dicat aja, dimaksimalkan," kata Maman Suherman, Kamis.

Jalan Santosa Asih IV di RT 8 sepanjang 140 meter dengan lebar empat meter itu dilukisi berbagai objek seperti ikan, bunga, kupu-kupu, dan hewan-hewan lainnya dengan beragam warna.

Maman mengatakan lukisan itu dikerjakan dengan swadaya masyarakat setempat. Pengerjaan lukisan di jalan itu, kata dia, sudah berlangsung sejak sepekan lalu lebih.

Menurut dialukisan yang panjang itu menghabiskan cat sekitar 350 kilo lebih. Sumber biaya pembelian cat itu menurutnya berasal dari sukarela warga setempat.

"Temanya ini kampung warna warni, jadi catnya warna warni," kata dia.

Salah seorang warga yang berprofesi pelukis, Roynaldi (48) mengatakan pengerjaan lukisan di jalan itu diawali dari pembuatan sketsa menggunakan kapur.

Setiap warga menurut diamemiliki keinginan memilih objek lukisannya di depan rumahnya masing-masing. Lalu Roynaldi membuat sketsa yang menghabiskan hingga lima bungkus kapur.

"Ada yang ingin gambar buaya, ada yang ingin ikan koi, di ujung (jalan) ada yang ingin gambarnya unicorn, jadi dibuat saja sesuai keinginan," kata Roynaldi.

Pembuatan sketsa itu memakan waktu sekitar 24 jam. Setelah sketsa terbuat, masyarakat lalu mewarnai dengan menggunakan cat dari swadaya.

Sejauh ini menurutnya lukisan tersebut sudah rampung 100 persen. Hanya saja, kata dia, ada beberapa objek lukisan yang membutuhkan sejumlah penebalan.