Asian Agri Remajakan 560 Hektare Sawit Plasma

id asian agri, remajakan 560, hektare sawit plasma

Asian Agri Remajakan 560 Hektare Sawit Plasma

Sumber : Antaranews

Pekanbaru (Antarariau.com) - Perusahaan kelapa sawit Asian Agri pada tahun ini melanjutkan program peremajaan tanaman kelapa sawit yang sudah tua milik petani atau plasma, sekitar 560 hektare di Provinsi Riau.

"Tahap pertama sudah selesai, tahun ini dilanjutkan peremajaan sekitar 560 hektare," kata Regional Head Asian Agri wilayah Riau, Omri Samosir, di Pekanbaru, Senin.

Ia menjelaskan, Asian Agri memulai program peremajaan (replanting) sawit sejak 2016 untuk kebun inti dan petani plasma binaan mereka. Lokasi peremajaan berada di daerah Buatan di Kabupaten Siak, dan Ukui Kabupaten Pelalawan.

Program peremajaan untuk kebun inti pada 2016 mencapai 310 hektare (Ha). Sementara itu, untuk kebun plasma pada tahan pertama mencapai luas 463 Ha di daerah Ukui.

Program replanting tahap kedua direncakanan mencapai luas 560 Ha juga berada di daerah Ukui.

Untuk pembiayaan program replanting kebun plasma, lanjutnya, ada bantuan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit sebesar Rp25 juta per hektarenya.

"Untuk biaya sisanya, petani mendapat pinjaman dari bank," katanya.

Omri memastikan dalam program replanting sawit di Asian Agri tidak ada menggunakan sistem tebas dan bakar yang bisa menimbulkan kebakaran lahan dan hutan. Perusahaan tersebut menerapkan sistem pemotongan dan penghancuran (chipping) pohon kelapa sawit.

"Total tidak ada bakar. Kita gunakan alat berat untuk menumbang pohon dan 'chipping' 10 centimeter tebalnya, jadi sama sekali tidak ada pembakaran," ujarnya.

Membakar lahan untuk perkebunan dinilai akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan dan petani sendiri, karena pengawasan dari pemerintah kini sangat ketat.

Selain itu, membakar lahan juga bisa mengakibatkan asap tebal yang merugikan orang lain karena menyebabkan polusi udara, dan sudah dilarang dengan Undang-Undang Lingkungan Hidup.

Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar