Restoran melayang di daerah ini kembali mulai beroperasi

id Berita hari ini, berita riau terbaru, berita riau antara, restoran

Restoran melayang di daerah ini kembali mulai beroperasi

People sit at one of the eight tables on a nine tons structure that can accommodate a total of thirty two guests, suspended from a crane at a height of fifty metres during an event known as "Dinner in the Sky 2.0 New Generation? in Brussels, Belgium September 16, 2020. (REUTERS/Yves Herman)

Jakarta (ANTARA) - Masyarakat Belgia yang ingin merasakan pengalaman makan berbeda bisa kembali menikmati hidangan sembari duduk melayang 50 meter di atas permukaan tanah di restoran unik yang kembali beroperasi setelah pandemi COVID-19.

Dinner in the Sky yang berbasis di Belgia, dibuat di 60 negara sejak berdiri pada 2006 lalu, membuat pengunjung serasa berada di atraksi menegangkan di taman bermain. Bedanya, mereka menikmati ketinggian sambil mengisi perut.

Baca juga: Restoran kembali beroperasi dengan menerapkan bangku selang-seling untuk jaga jarak

Baca juga: Restoran di Belanda jadikan robot pramusaji untuk mengantarkan minuman kepada pegunjung


Para tamu terikat di kursi dan meja yang diangkat derek, sementara koki ternama memasak dan menyajikan makanan dari area tengah.

Restoran melayang ini bisa menampung 22 orang di sepanjang perimeter, namun di tengah pandemi COVID-19, maksimal hanya 32 tamu yang bisa memesan meja berkapasitas masing-masing empat orang yang diletakkan berjauhan. Koki dan pelayan juga punya lebih banyak ruang untuk bergerak.

"Artinya, semua tamu seperti duduk dalam semacam gelembung," kata co-CEO Stefan Kerkhof di pangkalan derek di pusat ibu kota Belgia.

Dinner in the Sky bisa didatangi untuk makan siang dan makan malam dengan biaya 295 euro (Rp5,1 juta) per tamu atau 150 euro (Rp2,6 juta) untuk koktail petang di akhir pekan.

Baca juga: Dampak COVID-19, restoran cepat saji KFC turunkan dan tunda gaji karyawan

Baca juga: Satpol-PP Pekanbaru sosialisasi larangan restoran buka saat Ramadhan


Pewarta : Nanien Yuniar

Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar