Nurhalizah Rahmadhana, atlet muda yang bertalenta

id Berita hari ini, berita riau terkini, berita riau antara, Nurhalizah

Nurhalizah Rahmadhana, atlet muda yang bertalenta

Nurhalizah Rahmadhana, sang juara karate dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) 2019, terus menekuni ilmu bela diri yang awalnya termotivasi hanya untuk menjaga diri itu. (Meydiana Adinda Putri/Frislidia/Antara)

Pekanbaru (ANTARA) - Tinggal di daerah yang sepi dan rawan kejahatan, memicu Nurhalizah Rahmadhana menekuni karate untuk kemampuan perlindungan dan membela diri. Namun tidak disangka, ilmu ini malah membawa dara muda kelahiran 17 Januari 1998 ini berprestasi hingga ke kancah internasional.

Gadis yang akrab dipanggil Liza ini, telah menjuarai berbagai pertandingan baik nasional maupun internasional. Pada beberapa waktu lalu, ia menjadi juara tiga pada pertandingan karate dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) 2019.

Sebelumnya ia juga berhasil menyabet juara 1 pada Kejurnas TAKO di Batam pada 2017 lalu, juara 3 pada Kejurnas Piala Panglima TNI 2017, juara 2 Kejurnas Karate Tebing Tinggi 2017, serta juara 3 Kejuaraan Open USU 2019. Sedangkan di kancah internasional, ia menjadi juara 2 dalam Kejuaraan Internasional Milo Cup, di Malaysia, 2018 lalu.

"Awalnya saya memenangkan pertandingan antar dojo dulu, kemudian saya mulai ikut pertandingan di tingkat provinsi kemudian nasional hingga internasional. Ternyata saya bisa menguasai karate dengan cukup baik, dan menjuarai berbagai pertandingan, walaupun saya mulai berkarate saat sudah remaja," jelasnya.

Awal berkarate

Liza mulai menekuni dunia karate saat ia duduk di bangku kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia mulai belajar karate dengan alasan yang sederhana namun penting, yaitu untuk melindungi dirinya.

"Saya belajar karate awalnya karena lokasi rumah saya yang jauh, sepi, dan nyaris tidak ada rumah di sekitarnya. Karena kondisi yang mengkhwatirkan, saya merasa perlu belajar bela diri, kakak saya juga menyarankan begitu," jelasnya.

Ia mengaku bahwa, setelah masuk dalam dunia karate, ia malah senang dan ketagihan. Banyak pengalaman yang didapatnya dengan berkarate. Sebelum masuk karate, ia jarang berpergian ke luar kota karena keterbatasan dana. Namun ia jadi sering keluar kota karena karate.

"Keluarga saya ramai, saya anak ke 12 dari 13 bersaudara. Jadinya sedikit terbatas untuk keuangan, apalagi untuk berpergian ke luar kota. Tapi ternyata saya malah jadi sering kemana-mana berkat karate. Bisa sampai Jakarta bahkan Kuala Lumpur," jelasnya.

Walaupun kerap berpergian untuk bertanding, Liza masih aktif berkuliah di Jurusan Pendidikan Olahraga Universitas Riau, ia dapat meluangkan waktunya dengan baik untuk berkuliah, latihan karate, bahkan bekerja sampingan untuk menambah uang sakunya.

Pribadi yang mandiri

Liza sudah menjadi mandiri sejak masih bersekolah di SMA Negeri 11 Kota Pekanbaru. Ia terbiasa memenuhi berbagai keperluan pribadi dan uang sakunya dengan melakukan berbagai pekerjaan.

"Awalnya saya menjualkan hasil ladang punya ibu saya. Kemudian saya cari kerja sampingan, sudah tiga tahun ini saya bekerja di salah satu klinik gigi di Pekanbaru, sebagai asisten dokter. Selain itu, karate juga sangat membantu saya," jelasnya.

Ia menceritakan bahwa uang yang didapatnya setelah menjuarai berbagai pertandingan, sangat membantu dirinya dalam berkuliah dan berlatih karate.

Menurutnya, ia harus bisa bekerja dan mencukupi kebutuhannya secara mandiri karena tidak ingin membebani ibunya yang sudah lansia, kendati kadang diberikan uang saku oleh kakaknya, ia merasa harus bisa mandiri dan tak membebani orang-orang di sekitarnya. Karena itu, ia bertekad harus bekerja keras agar tidak merepotkan ibu dan saudara-saudarinya.

"Sebenarnya adakalanya saya merasa lelah, karena harus bisa berkuliah, berlatih, serta bekerja juga. Tapi ketika saya ingat rasa bangga bagi keluarga saya karena berprestasi, juga dukungan senpai yang luar biasa, mengakibatkan saya makin jadi bersemangat," katanya.

Atlet karate yang memfavoritkan teknik Gyaku Zuki (teknik serangan) dan Mawashi Geri (teknik tendangan) ini aktif berlatih setiap harinya di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) di Rumbai, Kota Pekanbaru.

Sang pelatih, Feri Moniaga mengatakan bahwa Liza adalah seorang atlet yang punya kemauan serta semangat yang kuat untuk maju, dan dia seorang anak yang mandiri dan disiplin dalam segala hal.

"Liza dan banyak atlet di Riau sangat berbakat, namun sayang masih belum benar-benar diperhatikan oleh Pemerintah Provinsi Riau," katanya.

Dukungan Pemerintah

Menurut Feri, dukungan yang diberikan Pemerintah Provinsi Riau belum maksimal dalam membina dan memberikan penghargaan, jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain, sehingga pelatih dan atlet dituntut berusaha mandiri untuk berprestasi.

"Kita masih berusaha secara mandiri, memang ada pembinaan yang diberikan seperti pemberian uang pembinaan khusus dari KONI. Tapi itu jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan seorang atlet, baik untuk asupan gizi maupun untuk menambah jam terbang atlet itu sendiri," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kurangnya jam terbang yang terlihat dari minimnya jam terbang di setiap event baik regional maupun nasional, menjadi kekurangan dari atlet-atlet di Riau.

Menurutnya, Riau mempunyai talenta-talenta atlet yang bagus, namun yang menjadi tugas adalah bagaimana membina atlet itu secara berjenjang dan sistematis, karena pembinaan seperti ini yg masih kurang selama ini.

"Harapan saya kepada pemerintah untuk memberikan pembinaan yang lebih intens pada atlet di Riau, kemudian juga untuk para atlet karate di Riau agar terus semangat berlatih karena atlet daerah lain tidak "tidur" dan terus berlatih," katanya.

Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar