Tiga Dari Sembilan Subspesies Harimau Sudah Punah

id tiga dari, sembilan subspesies, harimau sudah punah

Tiga Dari Sembilan Subspesies Harimau Sudah Punah

Pekanbaru (Antarariau.com) - World Wide Fund for Nature (WWF) mengimbau masyarakat untuk jangan bangga memakai aksesoris atau sesuatu benda lainnya yang terbuat dari anggota tubuh satwa liar karena berpotensi menimbulkan semakin maraknya perburuan dan perdagangan hewan.

"Perburuan satwa liar semakin tinggi karena adanya aktivitas jual-beli, seperti harimau yang semua anggota tubuhnya laku untuk dijual dan dibuatkan berbagai macam aksesoris dan bahan pakaian," ujar Koordinator pengelolaan habitat dan ekosistem WWF sentral Sumatera Nurcholis Fadhli usai beri kata sambutan pada peringatan Tigers Day di Pekanbaru, Minggu.

Lebih lanjut ia sampaikan, selagi masih tinggi permintaan dari masyarakat terhadap barang-barang yang terbuat dari anggota tubuh satwa liar, perburuan dan perdagangan pada hewan-hewan langka juga akan marak.

"Pada kesempatan perayaan Tiger Day ini kami mengenalkan kepada masyarakat umum bagaimana kejahatan perburuan dan perdagangan satwa liar semakin liar belakangan ini. Kasus perburuan dan perdagangan satwa liar semakin meningkat dari tahun ke tahun. Rata-rata per tahun selalu ditemukan kasus, baik itu kematian maupun konflik dengan masyarakat," paparnya.

Sementara untuk harimau sendiri kata Fadhli, dari sembilan subspesies yang ada kini hanya tersisa enam subspesies. Tiga diantaranya dinyatakan punah yakni Harimau Kaspia, Jawa, dan Bali. Sedangkan yang tersisa Harimau sumatera, Amur, Bengal, Indochina, Cina Selatan, dan Malaya.

"Dari tiga yang punah tersebut dua diantaranya harimau yang ada di Indonesia. Kepunahan pada satwa liar disebabkan oleh perburuan yang disengaja untuk diperdagangkan seperti kulitnya atau untuk dibuat obat-obatan, dan konflik dengan manusia karena habitatnya sudah rusak. Sementara data yang dihimpun WWF diperkirakan jumlah harimau sumatera ada sekitar 371 yang hidup liar di seluruh Pulau Sumatera, Indonesia," paparnya.

Sementara itu Humas WWF Provinsi Riau Syamsidar juga mengimbau untuk jangan lagi berbangga memakai barang yang terbuat dari kulit dan anggota tubuh satwa liar. Jika kebanggaan itu masih ada artinya belum berperan aktif melindungi hewan lindung.

"Kita harap masyarakat tidak lagi berbangga memakai aksesoris dan pernik-pernik yang dibuat dari anggota tubuhnya hewan. Kalau masih juga bangga dan membeli itu akan menimbulkan semakin maraknya perburuan dan perdagangan satwa liar. Karena jika permintaan semakin tinggi, tentu perburuan semakin marak," ucap Syamsidar.

Sementara ancaman utama kepunahannya mencakup hilang dan terfragmentasinya habitat yang tidak terkendali, berkurangnya jumlah mangsa alami, perburuan dan perdagangan ilegal, serta konflik dengan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat harimau.

"Terjadi kematian 3-4 harimau di Riau karena perburuan dan konflik. Selain aktifitas perburuan dan perdagangan harimau, aktifitas lain yang lain yakni perambahan hutan juga turut mengancam habitat si Kucing besar tersebut," tutupnya.

Oleh: Nella Marni