Chevron diminta maksimalkan SDM lokal atasi limbah

id Chevron, limbah, Riau,PT CPI, CPI, limbah B3

Chevron diminta maksimalkan SDM lokal atasi limbah

Kerjasama antara PT CPI dan mitra. (ANTARA/HO-PT CPI)

Pekanbaru (ANTARA) - Perusahaan minyak PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) yang beroperasi di Provinsi Riau diminta dapat memaksimalkan sumber daya manusia setempat, terutama pemuda dalam mengatasi persoalan limbah usaha pertambangan.

Zulkardi, tokoh pemuda Kota Pekanbaru di Pekanbaru, Minggu, mengatakan saat ini banyak pemuda setempat yang memiliki kualifikasi serta kecakapan untuk berkontribusi dalam bidang pertambangan.

Sayangnya, kata dia, sejauh ini perusahaan minyak dari negeri Paman Sam yang puluhan tahun menggali perut bumi Riau itu masih belum memaksimalkan hal tersebut.

Untuk itu, dia menuturkan sudah saatnya Chevron memberikan kesempatan kepada sumber daya manusia (SDM) lokal dalam upaya percepatan penanganan masalah terkontaminasi minyak atau pengelolaan limbah.

"Kita akan jalani kerjasama sebagai mitra yang baik. Sebagai putra daerah, suatu kewajiban kita membantu pemuda Riau meraih kesempatan di sana," katanya.

Zulkardi yang mengaku mewakili ribuan pemuda Riau berharap ke depannya Chevron bisa mengutamakan tenaga kerja serta kemungkinan perusahaan lokal sebagai rekanan.

"Percepatan penanganan kontaminasi minyak ini akan menjadi peluang besar pemuda Riau membuktikan diri," terang Zulkardi.

Sementara itu, Manager Corporate Communication PT CPI Sonitha Poernomo dalam keterangan tertulisnya menghargai insiatif yang disampaikan oleh Zulkardi.

Dia menjelaskan bahwa CPI merupakan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dari Pemerintah Indonesia yang mengoperasikan aset-aset hulu migas milik negara di Blok Rokan.

"PT CPI menghargai inisiatif yang disampaikan. Dalam menjalankan operasinya, PT CPI mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku dan pedoman tata kelola SKK Migas, termasuk dalam proses pengadaan barang dan jasa yang bersifat terbuka," jelasnya.

Pada 2018 lalu, Chevron menjadi sorotan karena terdapat limbah sisa produksi migas yang tergolong bahan berbahaya dan beracun (B3) sebanyak 33.128,7 ton. PT Chevron Pacific Indonesia tercatat paling banyak menghasilkan limbah B3 berupa tanah terkontaminasi minyak, salah satunya dalam operasinya di Blok Rokan, Provinsi Riau.

Namun, Chevron juga menyatakan telah mengeluarkan biaya pengelolaan tanah terkontaminasi limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) sebesar 3.200.483 dolar AS.

Berdasarkan data dari Kementerian ESDM yang dihimpun Antara di Jakarta, selain pengelolaan tanah terkontaminasi, PT Chevron Pacific Indonesia juga mengeluarkan biaya 1.436.817 dolar AS untuk limbah sisa operasi B3.

Baca juga: Produksi minyak mentah Sumbagut 2019 akan lampaui target

Baca juga: Executive Director PT CPI beri kuliah umum di UIR