
KIARA: Kembalikan Hak-Hak Nelayan Tradisional

Pekanbaru, (AntaraRiau) - Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) bersama-sama dengan masyarakat sipil nasional dan internasional terus menyerukan pengembalian hak-hak nelayan tradisional.
Hak para nelayan tradisonal terkait upaya perlindungan yang dilakukan bagi keanekaragaman hayati laut dalam satu cita-cita mulia, kata salah seorang pengurus Kiara, Susan Herawati, dalam siaran pers yang diterima ANTARA di Pekanbaru, Rabu.
"Hak-hak tersebut antara lain mengutamakan nelayan tradisional atas hak akses dan hak kelola Pesisir Laut," katanya.
Menurut dia, hak-hak tersebut akan bisa dicapai dengan terus menyerukan dan mengajak segenap kelompok nelayan tradisional, masyarakat pesisir dan organisasi masyarakat sipil untuk melakukan peran aktif, melalui beragam agenda edukasi dan advokasi penegakan hak nelayan.
Hak-hak tersebut penting direalisasikan, sebab katanya, sejalan dengan itu, inisiatif-inisiatif serupa sedang dan akan berlangsung di negara lain.
"Bahkan para pegiat dan pekerja perikanan India akan menggelar sejumlah pertemuan di negara-negara bagian, termasuk menanam bakau, membersihkan kawasan konservasi guna mengarusutamakan pengelolaan pesisir dan laut yang efektif," katanya.
Hari Keanekaragaman Hayati Internasional merupakan hari perayaan lingkungan hidup yang bertujuan menumbuhkembangkan kecintaan seluruh penduduk bumi terhadap keanekaragaman hayati.
Perayaannya disepakati di bawah consensus PBB yang jatuh setiap tanggal 22 Mei. Bertepatan dengan itu juga digelarnya gerakan nelayan di Pelabuhan Mundra, India, akan menggelar aksi damai menolak Tata Mundra Mega Power Project.
Proyek ini akan membangun stasiun pembangkit listrik bertenaga 4.000 megawatt, dengan sumber energi batu bara impor dari Indonesia dan negara lainnya. Inisiatif perayaan ini turut berlangsung di Srilanka, Afrika Selatan, juga Kosta Rika.
Di Indonesia, Hari Keanekaragaman Hayati Laut 2012 disongsong dan KIARA menginisiasi perayaan perlawanan serentak menolak penggelontoran bahan pencemar ke laut oleh industri pertambangan di antaranya, Lapindo, Newmont, pembabatan hutan bakau untuk reklamasi dan perkebunan kelapa sawit, privatisasi dan komersialisasi pesisir untuk industri pariwisata yang menyebabkan kian terpuruknya kehidupan nelayan.
Rangkaian kegiatan berlangsung serentak pada 22 Mei 2012, di berbagai penjuru pulau dan pesisir, di antaranya festival Keanekaragaman Hayati Pesisir Laut (Marunda Kepu, Jakarta Utara) Kondisi pesisir Jakarta pasca reklamasi bukan hanya merusak tatanan sosial masyarakat Marunda, tapi juga merusak ekosistem pesisir.
Untuk itu, sedekah laut merupakan simbol bagaimana menyeimbangkan unsur alam dan kepentingan manusia yang bergantung atas lautnya.
Acara tersebut akan diramaikan dengan lomba mewarnai bertemakan pesisir dan biota laut, lomba menggambar, lomba mengarang tentang mimpiku untuk masa depan pesisir laut Jakarta, penggalangan buku bacaan bagi anak nelayan, penanaman bakau, serta dongeng Boneka Jari tentang sampah dan penyelamatan penyu.
Frislidia
Pewarta : ANTARA News
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026

