
Legislator: Pengurangan Kuota Daging Sapi Kurang Persiapan
Rabu, 12 Agustus 2015 20:49 WIB

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Legislator dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Pekanbaru, Provinsi Riau berpendapat pengurangan kuota impor sapi oleh pemerintah seharusnya terlebih dahulu dimulai dengan persiapan data peternak lokal, guna menghindari kelangkaan.
"Seharusnya pemerintah mendata dahulu, berapa kebutuhan daging di setiap daerah, berapa kebutuhan masyarakatnya, berapa jumlah peternak sapi yang ada," ungkap Anggota Komisi II DPRD Kota Pekanbaru Roem Diani Dewi, di Pekanbaru, Rabu.
Roem menilai wacana pemerintah pusat mengurangi kuota daging sapi impor di Indonesia dengan alasan mendorong pengembangan sapi lokal dinilai belum pantas.
Menurut politisi PKS ini, setelah pendataan, selanjutnya pemerintah melakukan pembinaan dan pemberian modal kepada peternak sapi lokal agar bisa mengembangkan jumlah produksi.
"Jika sudah terpenuhi baru pemerintah bisa mengurangi permintaan daging Impor. Kalau melihat kondisi sekarang, belum saatnya pemerintah melakukan pengurangan, itu bukan solusi," jelas Roem.
Terkhusus wilayah Kota Pekanbaru, lanjutnya, jika kebutuhan masyarakat terhadap daging sapi meningkat sementara persediaan terbatas, maka solusinya bisa melakukan pembelian dari provinsi lain yang memiliki stok berlebih.
"Tetapi jika para peternak sendiri saat ini belum siap untuk memenuhi permintaan harus bagaimana, apa tetap mengurangi impor daging, ? ini harus dipertimbangkan lagi," tutur Roem.
Bahkan menurut Roem, dengan adanya informasi pengurangan kuota daging impor tersebut, mengakibatkan adanya peluang bagi spekulan. Yang bermain pada disparitas harga antar daerah. Dengan menaikkan harga jual daging sapi kepada para pedagang.
"Harga daging otomatis bakal naik, dan sudah hukum pasar, ketika permintaan meningkat sementara persediaan terbatas," bebernya.
Apalagi mendekati Idul Adha permintaan sapi akan meningkat dan harga bisa lebih melambung pada akhirnya masyarakat juga yang kena imbasnya.
Sebelumnya diberitakan, Dirut Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, pihaknya akan melakukan operasi pasar (OP) daging sapi sebanyak 275 ton di Indonesia hingga akhir tahun.
OP itu terdiri dari dua jenis yakni daging beku segar sebanyak 190 ton dan 100 ton untuk sapi hidup.
"Nantinya daging sapi akan bisa berada di pasar sebanyak 275 ton," kata Djarot.
Dikatakan, OP ini bertujuan agar kebutuhan daging di dalam negeri terutama di daerah yang mengalami kelangkaan daging sapi terpenuhi.
Untuk impor daging sapi dan sapi hidup, Djarot mengatakan, diperkirakan akan tiba di Indonesia dalam waktu 4-5 hari mendatang. Pasalnya, baru hari ini surat izin pelaksanaan impor dari Bulog diserahkan ke Kementerian Perdagangan.
Sementara untuk sapi impor yang hidup, Djarot mengatakan, sapi yang akan didatangkan Bulog butuh waktu 3 bulan pasca diimpor sebelum dipotong.
Pewarta : Vera Lusiana
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026

